suara hijau

Overtourism Bahayakan Lingkungan? Ketika Jejak Karbonmu Lebih Berat dari Koper

M. Reza Sulaiman | Vicka Rumanti
Overtourism Bahayakan Lingkungan? Ketika Jejak Karbonmu Lebih Berat dari Koper
Overtourism Jepang (Pinterest/calvin)

Bunga Sakura masih bermekaran menyelimuti Gunung Fuji di Jepang. Namun, ada yang sedikit berbeda dan menyebabkan kekecewaan. Khususnya bagi para turis yang ingin melihat keindahan dan kemeriahan obor raksasa di sepanjang jalan kota sebagai penanda berakhirnya musim pendakian Gunung Fuji: festival sakura tahunan di Fujiyoshida resmi dibatalkan.

Pada tahun 2025, Jepang menyambut hampir 43 juta pengunjung, jumlah tertinggi yang pernah tercatat. Mengutip laporan BBC, langkah ekstrem pembatalan acara yang biasanya menarik 200.000 pengunjung ini kemudian diambil setelah warga lokal kewalahan menghadapi tumpukan sampah, pelanggaran batas wilayah, hingga wisatawan yang lancang masuk ke rumah-rumah pribadi. Fenomena di Jepang ini adalah contoh kasus yang terjadi di tengah krisis-krisis yang lebih besar.

Seiring dengan proyeksi perjalanan mencapai 1,8 miliar kedatangan untuk para turis di lingkup global tahun 2030, pariwisata bukan lagi sekadar ekonomi, melainkan ancaman nyata bagi kelestarian lingkungan.

Alam Menanggung Beban Fisik

Di Amerika Serikat, konsentrasi wisatawan yang menumpuk di 25 taman nasional paling ikonik, seperti Yellowstone dan Grand Canyon telah memicu kerusakan jalur pendakian alami dan tumpukan limbah yang sulit dikelola.

Lonjakan manusia dalam waktu singkat menciptakan tekanan fisik yang luar biasa pada infrastruktur sanitasi. Saat kapasitas alam tak lagi mampu mengejar kecepatan pertumbuhan turis, keindahan yang kita cari dari esensi berwisata justru perlahan hancur oleh kehadiran manusianya.

Jejak Karbon

Ancaman yang paling tidak terlihat justru berada di atas awan. Konsentrasi 1,8 miliar orang ini melibatkan perjalanan udara masif yang berkontribusi signifikan pada pemanasan global. Melansir dari data yang dilaporkan oleh Green Network Asia, Dewan Perjalanan dan Pariwisata Dunia memperkirakan bahwa sektor perjalanan dan pariwisata menyumbang sekitar 8-10% dari total emisi gas rumah kaca global.

Ironisnya, emisi dari penerbangan jarak jauh sering kali memiliki dampak pemanasan yang lebih besar di atmosfer. Kita terbang melintasi benua untuk menikmati alam, tapi emisi yang terbuang dalam perjalanan justru dapat mempercepat kerusakan ekosistem pada destinasi yang kita tuju.

Misalnya Jamaika. Negara ini harus berjuang pulih dari hantaman Badai Melissa pada 2025. Ini menjadi pengingat pedih bahwa destinasi wisata adalah pihak yang paling rentan terkena dampak krisis iklim.

Menuju Pariwisata yang Beradab

Beberapa negara mulai melawan balik dengan teknologi dan regulasi. Mallorca menggunakan AI untuk memecah kerumunan agar tekanan pada ekosistem pantai berkurang. Sementara itu, Kopenhagen di Denmark memperkenalkan CopenPay, sebuah eksperimen brilian yang mengubah turis menjadi pelindung lingkungan dengan memberikan insentif bagi mereka yang mau memilah sampah atau bersepeda.

Pada akhirnya, kenaikan biaya masuk atau pajak turis itu hanya menjadi sebuah solusi jangka pendek. Tantangan yang sebenarnya adalah mengubah paradigma kita. Jika kita tidak mulai berwisata secara bertanggung jawab dan memikirkan jejak karbon yang kita tinggalkan, kita bukan sedang berwisata mengunjungi negara-negara, tetapi kita malah jadi penghancur alamnya.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak