Hobi
Tidak Ada Keabadian, Begitu Juga Kesedihan
Ketika ranum menyusul mekarnya bunga, ulat datang menengok dedaunan, hijau yang meraya santapan yang menggiurkan, menepi di perut yang sudah lapar penuh keroncongan.
Ketika lamunan kian menepi dan memenuhi daratan kesesakan, air mata menonjol di ujung hidung menyerupai sungai yang mengalir deras, memaksa tangan mengusapnya agar ia menepi tak membanjiri muka.
Kerinduan, begitulah masa, kesedihan, begitulah hidup, kelaparan, begitulah perut, dahaga, begitulah tenggorokan, air mata, begitulah sesak.
Tugas manusia menjalaninya. Begitulah hidup. Ada yang memaksa, ada juga yang menginginkan seperti impiannya, ada yang gundah ada juga yang menyita keyakinannya.
Di mata siapapun, akan berbeda apapun, otak menyimpan berjuta-juta asumsi, menyimpan bermiliyar-miliyar persepsi. Menjadi diri sendiri, halangan bagi mata-mata yang memandang jeli, mengikat agar seperti ini dan itu.
Tapi ingat, manusia adalah manusia, punya cerita dan jalannya berupa-rupa. Tak ada yang mampu menanganinya, hanya Dia di atas segalanya.
Dia yang menyapa semenjak kita belum terjaga, Dia yang menyiapkan tanganNya untuk kita berjalan sesuai janji kita, dulu di alam sana, di alam yang hanya Ia dan memori kita saja, Ruh yang suci dan menyendiri bersama manunggalingNya.
Tak ada yang abadi, begitu juga kepedihan, tak ada yang kekal, begitu juga tangisan, jam terus bergulir, jarumnya tak selamanya di atas, ada jalan yang harus dilalui, bersama janji yang telah disetujui bersamaNya.