"Pengakuan Pariyem" merupakan sebuah buku fiksi karya Linus Suryadi AG yang dikarang pada kurun waktu antara 1978 hingga 1980. Sepanjang sejarah kesusastraan Indonesia, buku Pengakuan Pariyem ini merupakan buku yang memuat prosa lirik terpanjang. Buku ini, memuat sekitar 243 halaman sajak, 36 halaman yang memuat kosakata terjemahan bahasa Jawa-Indonesia. Sementara sisanya memuat terjemahan tembang atau nyanyian dalam bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia.
Buku ini menceritakan tentang seorang gadis yang bernama Maria Magdalena Pariyem atau yang biasa dipanggil Iyem. Ia seorang pembantu yang bekerja di sebuah rumah keluarga bangsawan, yakni di Suryomentaraman Kota Yogyakarta. Adapun Pariyem sendiri berasal dari sebuah desa di Gunungkidul. Kesenjangan ekonomi membuat Pariyem memberikan diri keluar dari Gunungkidul dan meninggalkan orang tua serta ketiga adiknya untuk menuju Kota Ngayogyakarta. Di sana ia menjadi seorang pembantu di rumah Ndoro Cokro Sentono.
Seperti pembantu pada umumnya, Pariyem pun diperlakukan dengan adil dan baik di rumah majikannya. Di sana ia banyak belajar tentang tatacara dan kehidupan para bangsawan. Di sana juga ia berkenalan dengan Den Baguse Ario Atmojo, putra dari Ndoro Kanjeng Cokro Sentono dengan Ndoro Ayu, serta gadis putrinya yang biasa dipanggil oleh Iyem dengan sebutan Ndoro Putri.
Hari-hari berjalan seperti biasanya, tugas Iyem acapkali membenahi urusan rumah tangga, tetapi seringkali ia juga bertugas untuk menyambut para tamu bangsawan yang berkunjung ke rumah majikannya. Sebab, sang majikan merupakan seorang bangsawan yang amat disegani dan amat dihormati.
Puncak konflik terjadi ketika Iyem, yang merupakan gadis desa berparas jelita, termakan rayuan dari Den Baguse Ario Atmojo, putra dari Ndoro Kanjeng. Mereka secara sadar, melakukan hubungan suami-istri, ketika anggota keluarga yang lain sedang tidak berada di rumah. Tak lama kemudian, diketahui bahwa Iyem telah mengandung. Akan tetapi, meskipun telah bermusyawarah dengan kedua pihak keluarga, Den Baguse hanya berkehendak menjadikan Iyem sebagai selirnya saja. Pasalnya, Den Baguse sendiri masih harus memelanjutkan studi S1-nya.
Walaupun demikian jadinya, Iyem tetap tabah, dan hubungan antara Iyem beserta keluarganya dengan Den Baguse beserta keluarga bangsawannya tetap berjalan seperti biasanya. Bahkan setelah anak dalam kandungan Iyem lahir, anak itu dicukupi kebutuhannya hingga dewasa. Hanya saja, Iyem harus mengurusnya sendiri di desa, dan sang bapak hanya menafkahinya saja.
Dalam buku ini secara tidak langsung menggambarkan suatu fenomena masyarakat antara kelas atas dengan kelas bawah. Dalam buku ini juga secara tidak langsung diceritakan betapa besarnya perjuangan dan pengorbanan seorang perempuan.
Iyem, yang hanya seorang pembantu dari desa, berhasil mengangkat derajat keluarganya dengan melahirkan anak keturunan bangsawan, meskipun ia sendiri harus kembali berperan sebagai pembantu dan hanya dijadikan sebagai selir oleh suaminya.
Itu tadi merupakan ulasan saya pribadi mengenai sebuah buku karya Linus Suryadi AG yang berjudul Pengakuan Pariyem. Adapun kesamaan tokoh dan kejadian sifatnya hanyalah fiksi.