Jejak Majapahit dan Aroma yang Menjerat Keserakahan dalam Aroma Karsa

Bimo Aria Fundrika | Chairun Nisa
Jejak Majapahit dan Aroma yang Menjerat Keserakahan dalam Aroma Karsa
Novel Aroma Karsa

Lewat novel Aroma Karsa, Dee Lestari menghadirkan karya setebal 701 halaman yang membuat indra penciuman terasa hidup. Berangkat dari kegelisahan bahwa indra penciuman jarang mendapat porsi penting dalam dunia sastra, Dee menjadikannya pusat kekuatan cerita.

Aroma demi aroma menguar kuat, dari TPA Bantar Gebang hingga Roseraie du Val-de-Marne di Prancis. Semua bebauan itu mengalir bersama misteri, mitologi, persahabatan, dan percintaan dalam satu benang merah, dengan Puspa Karsa sebagai inti konflik: anggrek fiksi legendaris yang konon mampu mengendalikan kehendak, kekayaan, dan nasib.

Bunga itu menjadi obsesi Raras Prayagung dan memicu petualangan berbahaya karena kekuatannya yang memikat serta menundukkan siapa saja.

Sinopsis

Cerita diawali dengan kematian Eyang Putri Raras, Janirah Prayagung, mantan abdi Keraton Yogyakarta yang menjelma menjadi perempuan karier sukses sekaligus pemilik perusahaan kosmetik terbesar di Indonesia, Kemara.

Menjelang kematiannya, Janirah meninggalkan wasiat tentang Puspa Karsa yang selama ini disimpan rapat dalam brankas. Di dalamnya terdapat lontar berisi legenda Mahesa Guning, raja Majapahit yang tidak tercatat dalam sejarah, serta istrinya yang konon berkaitan dengan Puspa Karsa, ditambah dua tabung kecil misterius.

Konon, setetes sari Puspa Karsa menjadi titik awal perubahan hidup Janirah, mengangkat derajatnya dan keturunannya dari seorang abdi keraton menjadi sosok berpengaruh. Namun, sari yang sama juga menumbuhkan keserakahan yang tidak mengenal batas. Raras diam-diam membunuh ayahnya sendiri demi mengambil alih Kemara, sementara Anung—Wong Banaspati—dibuat gila oleh ambisi dan nafsu yang tak pernah terpuaskan.

Di tengah kondisi Kemara yang hampir runtuh akibat kepemimpinan ayahnya yang tidak becus, Raras mengambil alih kekuasaan dan menjadikannya perusahaan kosmetik raksasa yang tak tertandingi.

Puluhan tahun berlalu sejak pencarian Puspa Karsa pertama. Raras kini memiliki seorang putri bernama Suma Tanaya yang kelak akan mewarisi perusahaan. Namun, meskipun hidupnya dipenuhi kemewahan, Raras tidak pernah merasa puas. Obsesi lamanya bangkit kembali: menemukan Puspa Karsa.

Cerita kemudian berpindah kepada seorang pemuda bernama Jati Wesi yang memiliki kemampuan penciuman luar biasa. Ia pernah bekerja di pabrik pupuk kompos, menjadi pemulung di TPA Bantar Gebang, hingga meracik parfum tiruan. Hidupnya penuh luka sejak kecil, terutama karena ayahnya dipenjara akibat membunuh ibunya. Yang aneh, sang ayah kerap berbicara dalam bahasa Jawa purba, seolah menyimpan rahasia yang tak pernah terungkap.

Suatu ketika, kasus pemalsuan parfum lokal Puspa Ananta menyeret Jati ke masalah besar. Kemara melaporkannya sehingga ia berurusan dengan polisi. Namun, peristiwa itu justru menjadi awal pertemuannya dengan Raras.

Bukannya menghancurkan Jati, Raras malah mengontraknya menjadi pegawai seumur hidup dan memaksanya tinggal di rumahnya—rumah perempuan terkaya nomor tiga di Indonesia.

Suma, anak semata wayang Raras, ternyata memiliki kemampuan penciuman yang sama seperti Jati. Bedanya, kemampuan itu justru membuatnya sakit.

Ia mengalami ketergantungan obat; tanpa obat, ia akan muntah seharian. Kedatangan Jati ditolak mentah-mentah olehnya, terlebih ketika Raras meminta Jati tinggal serumah, menjalani pelatihan, dan bekerja di laboratorium perusahaan.

Untuk semakin mematangkan rencananya, Raras membawa Jati ke Prancis, tepatnya ke Grasse Institute of Perfumery. Di sana Jati belajar lebih dalam tentang dunia parfum. Namun, sebesar apa pun usaha Jati mendekati Suma, sebesar itu pula penolakan yang diterimanya. Padahal Jati hanya ingin menyempurnakan racikan Puspa Ananta dengan aroma tubuh Suma—aroma yang baginya terasa seperti kunci menuju sesuatu yang lebih besar.

Sementara itu, obsesi Raras semakin menguat. Ekspedisi pencarian Puspa Karsa yang pernah gagal 26 tahun lalu kembali direncanakan. Kegagalan itu membuat Raras cacat seumur hidup, tetapi sama sekali tidak menyurutkan langkahnya.

Dengan persiapan lebih matang, ekspedisi kembali dijalankan meskipun juru kunci Gunung Lawu menolak dan tim SAR memperingatkan bahayanya. Bagi Raras, berapa pun nyawa yang harus dikorbankan bukanlah masalah, asalkan Puspa Karsa dapat ditemukan.

Dalam perjalanan pencarian, rahasia demi rahasia mulai terbuka, termasuk kenyataan mengejutkan bahwa Suma bukanlah anak kandung Raras.

Ekspedisi besar ini melibatkan ahli botani, mantan pasukan khusus, serta berbagai pihak lain yang dibiayai perusahaan. Mereka hanya berbekal peta kuno, petunjuk samar, dan keyakinan bahwa tempat gaib hanya bisa dibuka dengan kunci gaib pula. Jati dibutuhkan sebagai pencium, sementara Suma menjadi semacam “objek” yang bahkan tidak ia pahami sendiri.

Terungkap pula bahwa 26 tahun silam, rombongan ekspedisi Raras pernah diserang makhluk gaib yang disebut Wong Banaspati. Dengan kekuatan sari Puspa Karsa, Raras berhasil menangkap satu Wong Banaspati beserta istrinya dan dua anaknya. Dua anak itulah yang ternyata adalah Jati dan Suma.

Saat pendakian berlangsung, Jati sempat hilang selama dua hari. Namun, Raras tetap memaksa perjalanan diteruskan. Dalam dua hari itu, Jati memasuki Desa Dwarapala, tempat asalnya, dan akhirnya menyadari bahwa ia bukan manusia biasa—ia adalah bagian dari Wong Banaspati.

Peristiwa 26 tahun lalu pun terungkap lebih jelas. Juru kunci yang seharusnya menjaga rahasia Gunung Lawu justru berkhianat dengan membuka jalan menuju desa gaib bernama Alas Kalingga Malini. Sosok yang selama ini disebut Anung ternyata adalah Suma, putri Ambrik, yang didinginkan sebagai wadah Sanghyang Bethari Karsa—dewi yang disegel dalam bentuk tanaman.

Saat Suma memasuki hutan, aroma menuntunnya menuju goa tempat tanaman itu berada. Seluruh hewan, besar maupun kecil, bahkan yang terbang, bergerak menuju arah yang sama. Sanghyang Bethari Karsa bangkit dan mulai merasuki Suma.

Manusia bukan lagi sekadar pengunjung, melainkan makanan bagi roh yang terbangun. Jika Sanghyang Bethari Karsa keluar dari wujud bunganya menuju wujud manusia, ia akan memangsa manusia sepenuhnya.

Jati berusaha menyelamatkan Suma dengan memasukkan racun ke dalam tanaman tersebut, meskipun tindakan itu hampir merenggut nyawanya. Pada akhirnya, Puspa Karsa berhasil ditemukan, tetapi perjalanan itu meninggalkan banyak korban. Raras menunggu tim ekspedisinya yang dievakuasi satu per satu dalam kantong jenazah.

Saat Suma datang menemuinya, dendam yang selama ini tertahan akhirnya meledak. Suma membalas semua perlakuan Raras dengan cara mengerikan: memaksa Raras meminum darahnya—darah Puspa Karsa.

Kematian Raras kemudian menghebohkan, tetapi dianggap sebagai serangan jantung biasa saat peluncuran produk Puspa Ananta yang telah disempurnakan dengan aroma tubuh Suma. Di akhir cerita, Empu Smarakan datang dalam wujud manusia dan menyatakan bahwa Puspa Karsa kini menjelma dalam tubuh Suma, sekaligus dalam parfum yang disebarkan ke seluruh dunia. Ia beradaptasi dengan zaman, membawa ancaman baru yang lebih besar.

Sebilah belati yang dahulu digunakan Anung untuk Girah Rudira pun terselip di tangan Jati, menjadikan penutup kisah ini terasa pelik—antara cinta dan genderang perang.

Kelebihan

Kelebihan terbesar novel ini terletak pada risetnya yang sangat mendalam. Dee Lestari membuat aroma terasa nyata melalui detail yang kaya, mulai dari wangi bunga, tanaman, rempah, hingga bau busuk dan anyir yang menjijikkan. Pembaca seolah dipaksa membayangkan dan ikut “mencium” setiap adegan.

Selain itu, perpaduan logika dan mistika dalam cerita terasa seimbang. Unsur modern seperti dunia industri parfum dan perusahaan kosmetik menyatu dengan mitologi Jawa dan dunia gaib tanpa terasa dipaksakan.

Kekurangan

Namun, alur cerita terasa melebar di bagian tengah. Fokus awal tentang pencarian Puspa Karsa seolah melambat karena bagian perjalanan ke Prancis yang cukup panjang dan dipenuhi penjelasan teknis mengenai jenis-jenis parfum serta proses pembuatannya. Meskipun menarik, bagian ini membuat alur utama terasa tertahan.

Selain itu, adegan Girah Rudira digambarkan terlalu detail dan sadis. Pembaca dipaksa menyaksikan kekerasan penyembelihan manusia yang ditulis sangat rinci hingga menimbulkan rasa mual dan tidak nyaman. Meskipun adegan tersebut penting sebagai bagian pengorbanan besar dalam cerita, penggambarannya terasa berlebihan.

Identitas Buku

  • Judul: Aroma Karsa
  • Penulis: Dee Lestari
  • Cetakan: Ke-21, Desember 2025
  • Penerbit: Bentang Pustaka
  • ISBN: 978-602-291-436-1



Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak