Menyoroti Benturan Dua Budaya dalam Roman Pada Sebuah Kapal

Hernawan | Thomas Utomo
Menyoroti Benturan Dua Budaya dalam Roman Pada Sebuah Kapal
Pada Sebuah Kapal (Dokumentasi pribadi/ Thomas Utomo)

Pada Sebuah Kapal, bisa dibilang, merupakan masterpiece Nh. Dini. Roman ini terbit pertama kali tahun 1973, saat pengarang masih bermukim di luar negeri.

Isinya terdiri dari dua bagian. Pertama, Penari, dipaparkan dari sudut pandang Sri, perempuan Jawa yang menggeluti dunia seni tari. Kedua, Pelaut, dituturkan dari sudut pandang Michel, pria Prancis yang berprofesi sebagai kapten kapal.

Sri, bungsu dari lima bersaudara. Ayahnya meninggal saat usianya baru mencapai tiga belas tahun. Jelas dia merasa kehilangan. Namun, satu hal penting yang tidak hilang dari kedalaman dirinya, ialah warisan sang ayah berupa penanaman kecintaan terhadap dunia seni, wabil khusus seni tari.

Dari lapangan kegiatan ini, Sri mendapat kesempatan emas, beberapa kali tampil menari di Istana Negara. Satu capaian prestasi yang menggosok iri dengki rekan-rekannya di kantor penyiaran radio (Sri memang bekerja di stasiun radio). Dia digosipkan kencan dengan tuan ini atau tidur dengan paduka itu guna meraih kesempatan menari di istana.

Sri mengabaikan omongan miring tersebut. Dia memilih lebih mempedulikan Saputro, pilot AURI yang gagah, cakap, dan berkepribadian mengayomi.

Kepada Saputro inilah Sri menggantungkan harapan kehidupan berumah tangga. Namun malang, usai bertunangan dengan Sri, Saputro mengalami kecelakaan. Pesawat tempur yang dia kemudian jatuh, mengantarkannya ke haribaan ajal.

Sri dirundung duka. Keputusasaan akan kepergian tunangan secara mendadak, membuatnya menerima pinangan Charles, diplomat Prancis, tanpa pikir panjang.

Sri mengakui, menikahi Charles dengan dasar alasan, bukan dasar cinta. Dia menyadari kepergian Saputro diiringi terenggutnya harta yang dikatakan orang Timur sebagai harta paling berwarna seorang perempuan, yakni keperawanan.

Kesadaran sekaligus ketakutan akan akibat fakta tersebut membuat Sri mengiyakan saja ajakan Charles untuk naik pelaminan.

Tanpa menunggu lama, Sri menyadari, keputusan menikahi Charles adalah kesalahan belaka. Suaminya itu pelit, temperamenyal, dan gemar mencurigainya sebagai pembohong dan pencuri dana rumah tangga.

Dalam perjalanan jarak jauh naik kapal, Sri berjumpa Michel, kapten kendaraan laut yang dia tumpangi. Ketertarikan fisik satu sama lain, membuat hati keduanya mendekat, hingga menjalin percintaan tak berkeesokan.

Michel sendiri seperti Sri. Dia tidak menemukan kebahagiaan dalam biduk rumah tangganya bersama Nichole. Watak istri, diakuinya mirip watak suami Sri: pemarah, suka berkata-kata kasar yang diucpkan dengam nada tinggi.

Belum sebulan menikahi Nichole, Michel telah berkhianat. Dia meniduri perempuan-perempuan penumpang kapal jarak jauhnya, termasuk kemudian Sri.

Michel berkata kepada diri sendiri, betapa Sri adalah perempuan terakhir yang akan menjadi pelabuhan hati dan tambatan akhir petualangannya.

Sedang bagi Sri, tidak jadi soal: Apakah Michel akan meniduri perempuan-perempuan lain? Dia tidak peduli. Yang utama, dia telah menemukan Michel dan mencintainya. Menikah atau tidak, tidak dia risaukan benar.

Tidak hanya menyoroti persoalan selingkuh dalam rumah tangga, Pada Sebuah Kapal juga mengangkat isu bentrokan batin dalam perkawinan. Bukan saja lantaran perbedaan budaya, latar belakang bangsa, serta preferensi masing-masing.

Lebih dari itu, bagaimana perbedaan itu dikomunikasikan? Apakah dengan tetap mengukuhi kedirian masing-masing atau egoisme? Atau membangun komunikasi terus-menerus guna ketersambungan gelombang frekuensi keseimbangan komunikasi suami-istri?

Kelebihan roman ini adalah perangkat bahasa yang digunakan penulis yang halus lagi lembut. Perihal perselingkuhan yang tabu dibuka dalam khalayak justru dipaparkan secara satin. Membuat pengkhianatan janji perkawinan seolah-olah tidak menjadi kesalahan, dilihat dari sudut pandang Sri.

Kekurangan roman ini terletak pada alur cerita bagian pertama (bagian Penari) yang punya kecenderungan melantur, terlalu panjang ke mana-mana, sehingga terkesan bertele-tele.

Namun demikian, dari dua narator cerita (perempuan diwakili Sri, laki-laki diwakili Michel), tampak dan terasa betul betapa suara perempuan dalam novel ini lebih dominan serta meyakinkan.

Satu lagi, lewat roman ini, pembaca diyakinkan betapa demikianlah budaya permisif dalam masyarakat Barat. Budaya Indonesia yang santun dan menjaga batas hubungan laki-laki-perempuan sudah bagus seperti ini, harus terus dilanjutkan, tanpa perlu menduplikasi budaya Barat tersebut.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak