Di tangan Falcon Pictures dan Kumata Studio, animasi jadi arena laga, tempat dendam bersemayam, dan darah berceceran di antara bayangan ilmu hitam. ‘Panji Tengkorak’ bukan sebatas animasi 2D, ini adalah arena pertarungan batin dan tubuh, yang lahir dari komik klasik Hans Jaladara dan dihidupkan kembali lewat layar lebar.
Menarik, ya? Kepoin lebih lanjut, yuk!
Sinopsis Film Panji Tengkorak
Film garapan Sutradara Daryl Wilson yang sudah tayang serentak di bioskop pada 28 Agustus 2025 ini mengisahkan Panji (disuarakan oleh Denny Sumargo). Dia awalnya hanyalah pendekar yang hidup sederhana bersama istrinya, Murni.
Namun kebahagiaan itu runtuh ketika tragedi menimpa. Pendekar misterius datang mencari kitab berisi ajaran ilmu hitam, dan dalam peristiwa berdarah itu, Murni tewas secara tragis. Pukulan tersebut bukan cuma merenggut orang yang paling dicintai, tapi juga meninggalkan luka batin yang nggak terhapuskan.
Dilanda amarah dan keputusasaan, Panji mengambil jalan yang berbahaya. Dia menyerahkan jiwanya pada kekuatan gelap. Ilmu hitam memberinya tenaga luar biasa yang membuatnya mampu membalaskan dendam, tapi harga yang harus dibayar begitu kejam. Panji dikutuk nggak bisa mati. Setiap kali mencoba mengakhiri hidupnya sendiri, kutukan itu menahan, membuatnya terjebak dalam lingkaran penderitaan abadi.
Di tengah perjalanan tanpa arah, Panji berjumpa dengan pendekar tua misterius. Sang pendekar tua melihat di balik amarah dan luka Panji, masih ada secercah kekuatan yang bisa diarahkan. Pendekar tua pun ngasih Panji misi untuk mengejar sekelompok bandit yang sudah mencuri pusaka sakti bernama Adidaya. Konon, pusaka itu bukan sekadar benda magis, melainkan satu-satunya jalan untuk memutus kutukan yang membuat Panji hidup abadi.
Tugas itu menyeret Panji ke dalam rangkaian pertarungan yang penuh darah dan jebakan. Dia harus melawan bandit-bandit buas, menghadapi pengkhianatan, dan terseret dalam konflik besar antara kerajaan-kerajaan yang berseteru.
Dalam perjalanannya, Panji bertemu dengan orang-orang yang perlahan menyalakan lagi sisi manusianya, Gantari (Aghniny Haque), pendekar wanita yang tangguh, dan Murni (Aisha Nurra Datau), yang jadi cahaya kecil di tengah kegelapan hidupnya.
Namun, jalan yang dia tempuh malah makin nggak ringan. Di ujung perjalanan, muncul Bramantya (Donny Damara), tokoh licik yang punya ambisi besar dan keterkaitan dengan pusaka itu.
Pertemuan dengan Bramantya membuat Panji sadar bahwa perjuangannya bukan hanya soal membebaskan diri dari kutukan, tapi juga tentang menentukan apakah dia masih bisa kembali menjadi manusia seutuhnya, atau selamanya terjebak sebagai sosok bertopeng dengan jiwa yang hancur.
Mantap kali, kan, Sobat Yoursay!
Review Film Panji Tengkorak
Menurutku, keberanian terbesar Panji Tengkorak syds pada visualnya. Animasi 2D yang dipadukan dengan matte painting dengan visual yang di beberapa bagian tampak patah-patah (mungkin disengaja supaya terasa kayak visual komik), itu termasuk keputusan kreatif yang berani. Cuma ya, ini mengingatkan diriku sama visual dari Film Spiderman Into the Spider Verse.
Proses tiga tahun pengerjaan dengan lebih dari 250 animator terasa terbayar di setiap detail bayangan, cahaya, dan gerak laganya deh.
Namun, ada satu sisi yang justru membuat film ini terasa ‘nyaris’ sempurna, yakni musiknya. Lagu ‘Bunga Terakhir’ karya Bebi Romeo, dibawakan kolaborasi Iwan Fals x Isyana Sarasvati, sebenarnya indah dan cocok sama ceritanya.
Liriknya menghantam rasa kehilangan yang mendera Panji, tapi penempatannya di dalam film kadang terasa janggal (dalam artian kurang tepat di beberapa scene). Jadi, agaknya mengganggu tensi ketimbang memperkuatnya. Andai diperdengarkan di titik-titik yang pas, dampaknya pasti berlipat ganda.
Belum lagi, soal film ini yang punya titik lemah. Beberapa flashback sebenarnya bisa dipadatkan agar tensi cerita nggak terputus sih. Adegan penyerangan desa Panji bersama Murni terkesan kabur, nggak sekuat yang seharusnya. Kehadiran Bramantya pun agak mendadak, yang muncul di penghujung cerita tanpa motivasi yang tergali dalam, padahal potensinya sangat besar sebagai tokoh kunci. Ya, terkadang twist nggak selalu berhasil kok.
Oke deh. Akhirnya animasi Indonesia bisa tampil beda, berani, dan menembus genre action yang selama ini dikuasai film luar negeri. Film ini berhasil membawa diriku ke dunia di mana dendam, cinta, dan ilmu hitam berpadu dalam garis gambar 2D yang berdenyut layaknya darah segar.
Sayang banget kalau Sobat Yoursay nggak nonton. Jadi, yuk nonton dan dukung terus geliat animasi Indonesia!
Skor: 3,5/5