Film Uang Passolo: Hadirkan Kritik Sosial yang Lucu, Kocak, dan Menyentuh

Lintang Siltya Utami | Ryan Farizzal
Film Uang Passolo: Hadirkan Kritik Sosial yang Lucu, Kocak, dan Menyentuh
Salah satu adegan di film Uang Passolo (Instagram/timur_pictures)

Film Uang Passolo adalah drama komedi Indonesia yang baru saja tayang di bioskop pada 8 Januari 2026. Disutradarai oleh Andi Burhamzah, film ini diproduksi oleh 786 Production bersama Rumpi Entertainment dan Timur Pictures.

Mengangkat tema budaya Bugis-Makassar, cerita berfokus pada konflik pernikahan sederhana yang bertabrakan dengan gengsi sosial dan tradisi. Pemeran utama termasuk Mashita Asapa sebagai Biba, Imran Ismail sebagai Rizky, serta Jade Thamrin, Tumming, Abu, dan Adhy Basto. Dengan durasi 95 menit, film ini mengusung genre drama dengan sentuhan komedi ringan.

Impian Pernikahan Sederhana yang Terhambat Gengsi dan Tradisi Uang Passolo

Salah satu adegan di film Uang Passolo (Instagram/timur_pictures)
Salah satu adegan di film Uang Passolo (Instagram/timur_pictures)

Sinopsis singkatnya menceritakan tentang Biba, seorang guru honorer dengan penghasilan minim, dan Rizky, videografer pernikahan yang sedang terpuruk secara finansial, saling jatuh cinta dan bermimpi menikah secara sederhana. Hanya pesta kecil dengan keluarga dekat, tanpa kemewahan berlebih.

Akan tetapi, impian itu terganggu ketika keluarga Biba ikut campur, memaksakan pesta mewah untuk menjaga status sosial dan mengharapkan "uang passolo" sebuah tradisi amplop pernikahan yang sarat ekspektasi. Konflik pun muncul: daftar tamu membengkak, dekorasi mahal, hingga ketring kelas atas, semuanya demi gengsi dan harapan amplop tebal.

Cerita ini bukan sekadar tentang uang, tapi juga pilihan, keberanian, dan harga yang harus dibayar untuk mempertahankan prinsip di tengah tekanan keluarga.

Untuk plotnya sendiri, Uang Passolo berhasil menangkap esensi realitas pernikahan di Indonesia, khususnya di masyarakat yang masih kuat memegang adat istiadat. Film ini menggambarkan bagaimana pernikahan sering bergeser dari momen sakral menjadi ajang pamer status sosial, di mana gengsi keluarga besar lebih diutamakan daripada kebahagiaan pasangan.

Konflik utama datang dari sabotase keluarga terhadap rencana sederhana Biba dan Rizky, yang menciptakan kekonyolan sehari-hari yang relatable, seperti perdebatan soal biaya pesta yang membengkak atau ekspektasi amplop yang tak realistis.

Meski dibalut komedi, ada lapisan emosional yang dalam, terutama ketika impian Biba membangun rumah untuk ibunya terancam karena tanah keluarga digadaikan untuk menutup biaya pernikahan. Ini menggeser nada film dari lucu menjadi reflektif, menyoroti tekanan ekonomi dan dilema antara bakti pada orang tua versus prinsip pribadi.

Tema utamanya adalah kritik sosial terhadap budaya gengsi, tekanan ekonomi, dan makna sejati kebahagiaan dalam pernikahan. Tanpa terasa menggurui, film ini mengajakku bercermin: apakah pernikahan tentang dua orang yang saling mencinta, atau tentang memenuhi ekspektasi banyak pihak?

Elemen budaya Bugis-Makassar, seperti tradisi uang passolo, ditampilkan secara autentik, membuat cerita terasa dekat bagi penonton Indonesia, terutama yang familiar dengan adat pernikahan di Sulawesi Selatan. Dialog-dialognya natural, sering memicu tawa getir karena mirip pengalaman nyata, seperti cerita tetangga atau saudara sendiri.

Akan tetapi, pacing cerita kadang terasa lambat di bagian tengah, di mana konflik keluarga diulang-ulang tanpa pengembangan signifikan, meski ini mungkin disengaja untuk membangun ketegangan emosional.

Review Film Uang Passolo

Salah satu adegan di film Uang Passolo (Instagram/timur_pictures)
Salah satu adegan di film Uang Passolo (Instagram/timur_pictures)

Akting menjadi salah satu kekuatan besar film ini. Mashita Asapa brilian sebagai Biba, memerankan perempuan sederhana yang terjebak antara cinta, keluarga, dan keterbatasan finansial dengan ekspresi natural dan menyentuh. Ia berhasil menyampaikan frustrasi internal tanpa berlebihan, terutama di momen-momen emosional di mana Biba harus menahan amarah demi harmoni keluarga.

Imran Ismail sebagai Rizky juga meyakinkan, menggambarkan pria yang terpuruk ekonomi tapi tetap bertanggung jawab, dengan chemistry kuat bersama Asapa yang membuat hubungan mereka terasa autentik. Pemeran pendukung seperti Jade Thamrin dan Tumming menambah warna komedi, meski beberapa karakter keluarga terasa stereotipikal—seperti ibu mertua yang cerewet atau saudara yang ambisius.

Secara teknis, sinematografi film ini sederhana tapi efektif, dengan pengambilan gambar yang menangkap keindahan budaya lokal tanpa berlebihan. Musik latar mendukung suasana, campuran antara lagu tradisional Bugis dan scoring modern yang ringan.

Editing cukup rapi, meski transisi antar adegan kadang terasa abrupt di bagian klimaks. Kekurangan utama adalah resolusi konflik yang terlalu cepat di akhir, di mana beberapa isu diselesaikan secara mendadak tanpa penggalian mendalam, mengurangi dampak emosional yang bisa lebih kuat.

Selain itu, humornya kadang bergantung pada klise komedi lokal, seperti lelucon tentang kemiskinan atau gengsi, yang mungkin terasa repetitif bagi penonton yang terbiasa dengan film serupa.

Jadi bisa kusimpulkan, Uang Passolo adalah film yang menyegarkan di tengah maraknya genre horor atau romansa remaja di sinema Indonesia. Ini berhasil menyajikan kisah ringan, lucu, sekaligus menyentuh hati, dengan kritik sosial yang relevan tanpa memaksakan pesan. Cocok ditonton bersama keluarga atau pasangan, terutama bagi yang sedang merencanakan pernikahan—bisa jadi bahan diskusi seru setelahnya.

Rating saya: 8/10. Film ini bukan hanya hiburan, tapi juga cermin masyarakat kita tentang kompromi, cinta, dan keberanian melawan arus demi kebahagiaan sejati. Kalau kamu mencari cerita dekat dengan keseharian, Uang Passolo layak masuk daftar tontonanmu! Yuk, langsung di bioskop terdekat yang ada di kotamu!

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak