Tirai langit yang mendung seketika pecah menjadi penuh warna. Dentuman yang membelah udara terdengar seperti saling sahut-menyahut. Di atas kepalanya, kelopak bunga raksasa memancarkan kelap-kelip warna merah berbalut oranye, yang pada pancaran di tengah gelap itu berubah menjadi keemasan. Namun, itu cuma peristiwa yang dikhayalkannya.
Saat ini, dia tengah berdiri di balkon rumah seraya menutup kedua telinga dengan telapak tangan. Matanya berkaca-kaca. Hanya tinggal mengerjap, matanya pasti akan hujan.
Dia berbalik menatap pintu kaca tebal berbingkai logam. Seharusnya jika tidak ada tirai menjuntai dari balik pintu, pasti dapat melihat jelas pertengkaran orangtuanya. Sungguh, jauh di dasar hati terdalam dia memberontak. Ingin sekali menunjukkan diri dan mengumpat untuk melerai cekcok itu. Namun, dia tidak mampu karena takut.
Sungguh, sudah tak lagi dapat terempang. Air matanya mengalir di pipi tirusnya dan melesat membasahi terompet, yang beberapa saat lalu sengaja dia geletakkan di lantai.
Mengapa bertengkar terus? Apakah menunggu kiamat baru duniaku tenang? Dia membatin begitu dengan terisak-isak.
Lemas berbalut kemelut batin, membuatnya jengah menerima kenyataan nasib keutuhan keluarganya berada di ujung tanduk. Perlahan, kuping yang ditutup rapat dibuka. Seketika dia merasa bodoh karena telah berusaha menghindari perang batin orangtuanya.
Mengapa ayah melanggar janjinya? Apakah karena tidak menyadari aku berada di sini? Kembali dia membatin. Air matanya semakin deras mengalir. Kedua betisnya terasa lemas sehingga dia pun jongkok dan meringkuk. Mukanya menelungkup di antara kedua lengan yang dilipat di atas lutut. Ketika dia memejamkan mata, memori perihal janji ayahnya menyembul di balik tempurung kepala.
***
“Tahun baru identik dengan kembang api dan terompet, kan, Yah?”
Pria berkumis tipis itu mengangguk. Setelah itu, menggapai secangkir kopi hitam di atas meja kayu berbentuk oval. Di ruang keluarga dia duduk berseberangan menatap ayahnya, yang sudah sekian menit duduk, tetapi enggan menatapnya.
“Belikan aku terompet, Yah,” pintanya.
“Tanpa kamu meminta, ayah sudah membelikan untukmu. Ada di kamar di dalam kantong plastik transparan. Tengok saja bila tak percaya.” Masih tidak menatap dirinya.
“Serius?” Wajahnya tampak semringah. “Aku ingin bertanya tentang sesuatu. Ayah mau menjawab?”
“Tergantung konteksnya nanti.”
Selang seperempat detik, usai menghela napas, dia pun bertanya, “Rumitkah menjadi orangtua?”
Ucapannya terhenti saat pria itu menatapnya dengan mata mengejang.
“Apakah rumah ini terlalu sepi? Sehingga ayah dan ibu selalu bertengkar supaya suasana menjadi ramai.”
Pria itu berdeham. “Anak SMP sejak kapan diajari bertanya begitu? Seseorang mengajarimu merangkai pertanyaan itu?”
“Iya, Yah ....”
“Siapa? Katakan kepada ayah, Darius! Berani sekali mengajarimu bertanya hal dewasa begitu.”
“Aku diajari oleh televisi yang dibeli ayah. Karena itu makananku setiap hari untuk membuang kebosanan mendekam diri di rumah. Juga dari tayangan dewasa yang setiap hari dijejalkan. Jadi wajar bila aku bisa bertanya soal kehidupan orang dewasa.”
Pria itu geleng-geleng. “Besok tak akan ada lagi televisi!”
“Tak masalah kok, Yah. Kan, masih ada hape.”
“Hapemu mulai besok disita.”
“Mengapa harus menyita kebahagiaanku bila kalian belum bisa memberikan kebahagiaan untukku?”
Kembali geleng-geleng. Pria itu merasa ucapan Darius kelewat dewasa dibandingkan dengan umurnya.
“Sungguh akan mengambil kebahagiaanku, Yah?”
“Demi kebaikan kenapa tidak?”
“Seharusnya jika tega begitu mengapa tak rela membahagiakan diriku? Berhentilah bertengkar dan buat diriku tersenyum setiap hari!”
“Ayah janji akan membuatmu tersenyum dan tidak akan ada lagi pertengkaran.”
***
Teriakan perempuan yang memekak telinga, mengembalikan kesadaran dirinya setelah tenggelam dalam sebuah kenangan sore tadi.
“Kamu perempuan tak tahu malu! Jika bukan karena arisan itu... mungkin aku tak perlu menanggung malu!” Suara berat itu sangat familier, ayahnya.
“Tubuhku kalian nikmati saat tahun baru. Ketika aku hamil tak ada satu pun yang mau bertanggung jawab. Satu-satunya cara memang harus dengan arisan. Lima belas nama yang tertulis pada kertas, kemudian dilinting, dan dimasukkan ke baskom. Sialnya namamu yang terambil olehku. Andai mataku bisa melihat nama-nama pada lintingan itu, aku pasti akan memilih dirinya. Bukan memilih kamu!”
Darius terperangah mendengar pengakuan ibunya itu.
Terdengar bunyi plak dan isak tangis perempuan. Meski tak melihat apa yang terjadi, Darius yakin itu tamparan yang mendarat di pipi ibunya.
Hati Darius menjerit. Jeritan tak bernada tapi sangat menyesakkan dada. Dia kembali berbalik, melangkah, lalu berhenti tepat pada batas balkon. Tangannya menggenggam lingkar besi seukuran setengah pergelangan tangan orang dewasa, yang direbahkan di atas dinding balkon setinggi setengah badan orang dewasa.
“Kita cerai!” Suara ayahnya terdengar lagi.
Darius sudah tidak peduli. Pikirnya lebih baik mengakhiri hidup ketimbang menjadi penyulut pertengkaran orangtua, yang ternyata belum tentu bisa menerima dirinya hidup. Dia membayangkan betapa tenang nanti di surga. Tidak akan ada lagi pertengkaran. Mungkin badan remuk ketika menghantam aspal, baginya tak masalah karena pasti cuma terasa tidak lebih dari sedetik.
Langit gelap tiba-tiba menampakkan bunga-bunga kembang api. Pertanda tahun telah berganti. Untuk beberapa waktu Darius menikmati keindahan langit itu. Iris matanya menampakkan ledakan warna-warni.
Kebahagiaan sesaatnya luruh ketika mendengar sang ayah mengutarakan alasan memilih cerai. “Demi Darius agar tak mendengar pertengkaran lagi.” Dan Darius kembali mendengar pengakuan lagi. “Meski Darius bukan anak kandung, Darius tetap ada di dalam hatiku.”
Pengakuan itu membatalkan niatnya bunuh diri. Darius lantas menunjukkan diri pada mereka.
Dentuman kembang api masih terdengar. Ayah dan ibunya terkejut. Saking kaget mereka sampai melongo melihat kemunculan Darius.
Darius melihat pipi kanan ibunya memerah, sementara mata ayahnya mengejang dengan rambut acak-acakan.
“Entah siapa ayahku sebenarnya. Aku tetap bahagia,” kata Darius. Nada bicaranya terkesan menyindir. “Kebahagiaanku bukan perpisahan kalian. Cukup kali ini saja menikmati euforia pergantian tahun. Pura-pura bahagia pun tak masalah.”
Melihat Darius begitu, mereka mematung.
“Aku yang akan mulai meniup terompetnya.” Darius lantas meniup terompet.
Suara yang keluar dari moncong terompet terdengar nyaring, tetapi agak bas. Terus ditiup. Sepersekian detiknya berhenti meniup ketika Darius melihat gelagat kedua orangtuanya yang mendadak tengadah menatap langit-langit rumah. Oh, bukan. Bukan menatap langit-langit rumah. Mereka sedang mencari tahu sumber suara keras, yang hingga terompetnya sudah tidak ditiup lagi, suara itu semakin keras mengumandang. Seketika suasana menjadi sepi. Dentuman kembang api di langit pun lenyap.
Untuk pertama kali di dalam hidupnya, Darius ditarik ke pelukan mereka. Esoknya, berita tiupan sangkakala pada malam pergantian tahun viral dan membuat penghuni Bumi tobat berjemaah. []
Purbalingga, 1 Januari 2026