Novel White Wedding karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie adalah contoh luar biasa tentang bagaimana dunia yang rumit bisa dilihat melalui mata seorang anak. Kisah ini berfokus pada Elphira, gadis 11 tahun yang menghadapi trauma, dan Sierra, yang menjadi teman terbaiknya.
Dalam novel White Wedding, penulis menggunakan sudut pandang anak-anak bukan untuk menyederhanakan cerita, melainkan untuk memperdalamnya. Beliau pun berhasil menunjukkan kontras antara kepolosan dan kenyataan pahit.
White Wedding mengajarkan pembaca bahwa dunia anak tidak selalu penuh tawa. Penulis berani menyentuh tema-tema berat, seperti kekerasan pada anak, trauma, dan penyakit. Namun, penulis menyampaikannya dengan cara yang jujur dan menyentuh.
Penulis tidak bersembunyi di balik alegori yang rumit. Penulis membiarkan karakter-karakternya yang hidup dalam novel White Wedding mengungkapkan perasaan mereka. Hal itu menjadikan cerita ini terasa sangat otentik.
Kontras antara kepolosan dan kenyataan
Kekuatan terbesar novel cantik White Wedding terletak pada kontrasnya. Ada momen-momen yang terasa begitu ceria dan polos, seperti petualangan Elphira dan Sierra. Mereka bermain dan menemukan hal-hal baru. Namun, di balik keceriaan itu, ada latar belakang yang gelap. Elphira menghadapi perlakuan buruk dari ibunya dan ayahnya yang sakit-sakitan.
Kontras seperti yang disebutkan di atas dapat menciptakan ketegangan yang membuat cerita begitu menarik. Pembaca sadar bahwa sesuatu yang buruk akan datang. Meski begitu, pembaca tetap terhanyut oleh kepolosan mereka.
Terlebih lagi, penulis menggunakan gaya bahasa yang lugas dalam novel White Wedding. Hal ini membuat pembaca merasa seperti sedang mendengarkan seorang anak bercerita. Itu menjadikan pengalaman membaca lebih intim dan emosional.
Keberanian untuk berkata jujur
Dalam White Wedding, penulis tidak meromantisasi sedikit pun penderitaan anak-anak. Sebaliknya, penulis menyajikannya apa adanya. Penulis menunjukkan bagaimana Elphira kesulitan mengungkapkan perasaannya.
Dari penggambaran Elphira yang memiliki kesulitan demikian rupa, terlihat bahwa hal apa pun mampu memberikan dampak trauma pada anak. Terlebih lagi, seorang anak, seperti Elphira dan Sierra, tidak selalu mengerti mengapa hal buruk terjadi. Namun, mereka berani menghadapinya.
Penulis pun tidak menghindari topik yang sulit. Dia menyoroti bagaimana anak-anak memproses rasa sakit, kehilangan, dan kesepian. Melalui pemikiran Elphira yang sederhana, pembaca bisa melihat perjuangan batin yang kompleks. Ini membuktikan bahwa anak-anak memiliki pemahaman emosional yang jauh lebih dalam dari yang sering diduga.
Simbolisme yang dilihat dari mata anak
Penulis juga menggunakan simbolisme dengan cara yang unik. Elphira, seorang albino, membenci warna putih. Ini adalah simbol dari kebenciannya terhadap dirinya sendiri. Namun, Sierra datang dengan rambut merahnya, lalu mengajarkan Elphira untuk melihat keindahan dalam semua warna, termasuk putih.
Simbolisme warna adalah perumpamaan yang indah tentang penerimaan diri. Simbolisme ini juga tentang kekuatan persahabatan. Terasa alami karena disampaikan melalui dialog dan pemikiran karakter anak-anak. Ini adalah contoh bagaimana penulis bisa menyampaikan pesan mendalam, tanpa harus terlihat menggurui.
White Wedding adalah cerminan dari kemanusiaan. Novel ini mengingatkan pembaca bahwa anak-anak tidak kebal terhadap masalah orang dewasa. Mereka memiliki kekuatan dan ketahanan batin yang luar biasa. Penulis menggunakan sudut pandang Elphira. Dengan begitu, penulis berhasil menciptakan sebuah karya yang jujur dan menyentuh.
White Wedding menunjukkan bahwa cerita anak-anak bisa sangat kuat. Bahkan, bisa lebih kuat dari cerita orang dewasa. Itu karena mereka melihat dunia dengan kejujuran yang langka. Novel ini adalah bukti bahwa cerita terbaik datang dari hati yang paling murni. Oleh karena itu, novel ini akan tetap hidup dan berkesan di hati pembacanya.