Belajar Self-Love dari Buku Korea 'Aku Nggak Baper, Kamu Yang Lebay'

Hayuning Ratri Hapsari | Ardina Praf
Belajar Self-Love dari Buku Korea 'Aku Nggak Baper, Kamu Yang Lebay'
Buku Aku Nggak Baper, Kamu Yang Lebay (goodreads.com)

Buku Aku Nggak Baper, Kamu Yang Lebay adalah karya self-help dari seorang psikiater yang mengulik dinamika emosional antara individu dan lingkungan sosial, terutama tentang orang-orang yang dikenal sebagai frenemy atau “vampir perasaan”.

Mereka yang diam-diam menebar racun lewat komentar, rasa iri, dan manipulasi relasi, lalu membuat kita merasa bersalah, salah berbuat, atau bahkan salah paham terhadap diri sendiri.

Dalam setiap bab, Yoo Eun Jung tak cuma menceritakan kisah kliennya, tapi juga menyuguhkan refleksi psikologis dan “terapi” praktis.

Misalnya latihan mengenali emosi sendiri, menyusun batasan sehat dalam hubungan, hingga cara membebaskan diri dari beban emosional akibat komentar atau tindakan negatif orang lain.

Tujuan buku ini jelas: memberikan suara bagi mereka yang sering dianggap “baper”, “sensitif”, atau “berlebihan”, dan menegaskan bahwa kadang, bukan kita yang salah, melainkan pola toxic di sekitar kita yang perlu disadari dan diberi batas.

Salah satu hal paling membuat buku ini menonjol adalah keberanian penulis mengangkat isu sosial-emosional yang sering diremehkan, perundungan halus, toxic friendship, jealousy, dan manipulasi emosional, dengan bahasa yang lugas dan mudah dicerna.

Banyak pembaca (termasuk generasi muda) mungkin menemukan diri mereka di dalam kisah-kisah tersebut, dan itu membuat buku ini terasa sangat relevan.

Selain itu, tiap bab dilengkapi dengan praktik psikologis nyata, bukan sekadar teori atau pemahaman pasif yang bisa langsung dipraktikkan. Ini membuat buku terasa seperti “teman bicara” yang memberikan solusi, bukan sekadar menambah beban pikiran.

Desain dan tata letak buku juga mendapat pujian: sampulnya menarik dengan warna lembut (peach & biru langit), dan halaman-halamannya nyaman dibaca, cocok untuk pembaca yang lebih suka gaya santai tapi bermakna.

Meski banyak dinilai berguna, buku ini bisa terasa terlalu umum atau repetitif bagi beberapa pembaca.

Karena didasarkan pada kumpulan pengalaman dari klien dan studi psikologis, beberapa bagian terasa seperti “list masalah”, dan meski ada terapi, bagi yang mencari kedalaman penelitian atau teori psikologi mendalam, pendekatannya bisa terasa ringan.

Selain itu, karena gaya tulisannya cenderung bersifat reflektif dan esai, sebagian pembaca mungkin kurang nyaman jika mengharapkan narasi dengan alur cerita atau karakter yang berkembang, buku ini lebih cocok sebagai teman introspeksi daripada novel.

Yoo Eun Jung menulis dengan bahasa ringan, jujur, dan dekat dengan keseharian pembaca. Tidak ada diksi berat atau terminologi psikologi yang berlebihan; kalau pun ada, istilah-istilah tersebut dijelaskan dengan sederhana sebelum dibahas lebih jauh.

Nada narasinya sering bersahabat, seperti seorang teman yang mengobrol di sore hari sambil menyeruput kopi tentang perasaan dan luka lama yang belum sembuh.

Hal ini membuat pembaca mudah merasa nyaman, terbuka, dan lebih rentan untuk menerima pesan-pesan penyembuhan yang disampaikan.

Secara mendasar, buku ini mengingatkan kita bahwa percaya diri dan menghargai diri sendiri bukanlah suatu kemewahan, melainkan kebutuhan ketika lingkungan menyakiti. Kita berhak menetapkan batas, menolak untuk terus terluka, dan melindungi kesehatan mental.

Buku ini juga mengajak kita untuk memilah mana suara dalam kepala kita yang asli, dan mana yang berasal dari racun pikiran orang lain. Kadang kita terlalu cepat percaya bahwa kita salah, padahal yang salah adalah cara orang lain memperlakukan kita.

Tak kalah penting, ia turut mengajak pembaca untuk memaafkan diri sendiri, menerima bahwa kita tidak sempurna, bisa terluka, bisa rapuh, dan bahwa butuh waktu untuk menyembuhkan.

Terapi-terapi sederhana di buku ini menjadi pengingat bahwa penyembuhan emosional itu butuh usaha, tetapi bukan hal mustahil.

Aku Nggak Baper, Kamu Yang Lebay bukan sekadar buku self-help biasa. Ia seperti sahabat lembut yang menatapmu dengan jujur, menyentil kamu kalau terlalu abaikan perasaan sendiri, dan menyodorkan tisu ketika kamu butuh tempat menangis.

Bagi siapa saja yang sering merasa tersakiti, dicuekin, atau dipermainkan emosi, ini adalah buku rekomendasi untuk dibaca, direnungkan, dan dijadikan alat untuk bangkit kembali.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak