No Place Like Home karya Alma Aridatha adalah novel yang pelan, sunyi, tetapi menghantam emosi dengan cara yang sangat manusiawi.
Buku ini tidak menawarkan konflik besar yang meledak-ledak, melainkan luka-luka kecil yang sering kali kita abaikan: tentang keluarga, kehilangan, dan pencarian makna rumah.
Dikisahkan Ganda tumbuh dalam kehidupan yang, dari luar, terlihat utuh. Ia memiliki keluarga, tempat tinggal, dan tidak pernah kekurangan secara materi. Namun, di usia sepuluh tahun, hidupnya berubah ketika ia mengetahui siapa ayah kandungnya.
Sosok itu hadir kembali, mencoba mendekat dan mengambil peran, tetapi kehadirannya justru membuat ayah tiri yang selama ini menjadi figur ayah sejati perlahan menjauh tanpa penjelasan.
Ironisnya, Ganda memiliki dua pasang orang tua, sesuatu yang mungkin dianggap sebagai “keberuntungan” oleh orang lain. Namun, alih-alih merasa lengkap, Ganda justru terjebak di ruang kosong di antara dua dunia.
Ketika anak-anak lain belajar berdamai dengan ketidakberuntungan hidup mereka, Ganda kesulitan menikmati apa yang disebut orang-orang sebagai anugerah.
Keinginannya sederhana, yaitu menemukan tempat untuk bernaung, tempat yang bisa ia sebut rumah.
Namun semakin ia mencari, semakin ia sadar bahwa rumah bukan sekadar bangunan atau orang-orang yang terikat hubungan darah.
Bahkan hingga akhir, Ganda sendiri belum sepenuhnya yakin apakah tempat itu benar-benar ada. Alur novel ini cenderung maju dengan tempo lambat, diselingi refleksi batin tokoh utama.
Alma Aridatha tidak terburu-buru membawa pembaca ke klimaks. Setiap peristiwa dibiarkan mengendap, memberi ruang bagi pembaca untuk merasakan kegelisahan yang sama seperti Ganda.
Alurnya terasa realistis, seperti potongan kehidupan sehari-hari yang sering luput kita perhatikan. Gaya bahasa yang digunakan Alma Aridatha juga sederhana, lembut, dan penuh perenungan. Tidak banyak metafora rumit, tetapi kalimat-kalimatnya tajam secara emosional.
Dialog digunakan seperlunya, sementara narasi batin Ganda lah yang menjadi kekuatan utama. Bahasa yang digunakan terasa akrab, seolah penulis sedang mengajak pembaca duduk dan mendengarkan cerita secara perlahan
Kelebihan utama novel ini terletak pada kedalaman emosi dan penggambaran konflik batin tokohnya. Tema keluarga yang tidak utuh dibahas tanpa melodrama berlebihan.
Pembaca diajak memahami bahwa memiliki “lebih” tidak selalu berarti merasa cukup. Hal ini yang ingin ditekankan kepada pembacanya yang mungkin juga relate dengan banyak orang.
Terlebih lagi karakter Ganda disini ditulis dengan sangat manusiawi, rapuh, bingung, dan jujur terhadap perasaannya sendiri. Sehingga mendukung kisah sedih yang ingin digambarkan.
Selain itu, novel ini berhasil menghadirkan definisi rumah yang tidak klise. Rumah bukan selalu tempat yang langsung kita temukan, dan tidak selalu terasa hangat meski secara fisik tersedia.
Bagi sebagian pembaca, tempo cerita yang lambat bisa terasa monoton. Konflik eksternal yang minim membuat novel ini kurang cocok bagi pembaca yang menyukai cerita penuh aksi atau kejutan besar.
Beberapa bagian refleksi terasa berulang, meski masih relevan secara emosional. Novel ini cocok untuk pembaca yang menyukai slice of life, cerita keluarga, dan konflik psikologis.
Sangat relevan bagi pembaca dewasa muda atau siapa pun yang pernah merasa “tidak sepenuhnya pulang”, meski berada di tempat yang seharusnya aman.
No Place Like Home paling pas dibaca saat suasana tenang, malam hari, akhir pekan, atau ketika kamu ingin merenung tentang hidup dan hubungan keluarga.
Buku ini bukan untuk dibaca terburu-buru, melainkan untuk dirasakan perlahan dan diresapi maknanya. Meskipun sedih, banyak sekali pembelajaran yang bisa diambil.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS