Berbicara tentang cinta, kita sering kali membayangkannya sebagai perasaan yang hangat, indah, dan penuh harapan. Namun, cinta juga tidak jarang hadir bersama kehilangan, pengorbanan, dan pilihan-pilihan sulit yang menyakitkan. Melalui kisah cinta yang dibalut nuansa fantasi dan religius, saya akan mengulas sebuah film romantis sekaligus tragis. Penasaran dengan ulasan filmnya? Yuk, simak ulasan berikut ini sampai selesai.
Film yang bersifat romantis sekaligus tragis yang akan saya ulas pada kesempatan kali ini ialah sebuah film yang disutradarai oleh Brad Silberling, yang berjudul City of Angels. Adapun film ini pertama kali dirilis pada 1998 di Amerika Serikat, dan didistribusikan oleh Warner Bros.
Film yang berdurasi sekitar 114 menit ini dibintangi oleh Nicolas Cage, Meg Ryan, Colm Feore, Dennis Franz, serta sejumlah aktor dan aktris lainnya. City of Angels terinspirasi dari sebuah film asal Jerman yang berjudul Wings of Desire karya Wim Wenders. Lebih jauh, film City of Angels ini mengambil latar kota Los Angeles dan mengangkat tema cinta antara makhluk surgawi (malaikat) dan manusia, sebuah konsep yang sederhana tetapi dieksekusi dengan pendekatan emosional yang mendalam.
Sinopsis
Film City of Angels bercerita tentang seorang malaikat yang bernama Seth (Nicolas Cage). Adapun Seth merupakan seorang malaikat yang bertugas mendampingi manusia pada saat-saat terakhir mereka sebelum meninggal dunia. Sebagai malaikat, Seth dan rekan-rekannya hidup di dunia yang berbeda dari manusia. Mereka tidak dapat merasakan sentuhan fisik, rasa sakit, maupun kenikmatan duniawi. Mereka hanya bisa mengamati, mendengar pikiran manusia, dan menjalankan tugasnya dengan penuh kepasrahan.
Suatu hari, Seth bertemu dengan seorang dokter bedah jantung bernama Maggie Rice (Meg Ryan). Ia adalah sosok perempuan yang cerdas, mandiri, dan berdedikasi tinggi terhadap pekerjaannya. Pertemuan mereka bermula di sebuah rumah sakit, ketika Maggie gagal menyelamatkan nyawa seorang pasien. Sejak saat itu, Seth mulai tertarik pada Maggie. Ia kerap mengamati Maggie dari kejauhan dan perlahan mulai merasakan perasaan yang selama ini tidak pernah ia kenal sebagai malaikat, yaitu cinta.
Seiring berjalannya waktu, Seth semakin sering mengikuti kehidupan Maggie. Ia menyaksikan kegigihan Maggie dalam bekerja, kesedihannya saat gagal menyelamatkan pasien, serta keraguan-keraguan batin yang menghantui dirinya. Seth pun mulai mempertanyakan keberadaannya sebagai malaikat. Ia merasa bahwa kehidupan sebagai manusia, meskipun singkat dan penuh penderitaan, justru memiliki makna yang lebih nyata karena adanya kemampuan untuk merasakan.
Konflik mulai memuncak ketika Seth dihadapkan pada sebuah pilihan besar: tetap menjadi malaikat yang abadi tetapi tidak dapat merasakan cinta secara utuh, atau melepaskan keabadiannya demi menjadi manusia dan bersama Maggie. Setelah bertemu dengan seorang mantan malaikat yang telah memilih menjadi manusia, Seth semakin yakin bahwa cinta layak diperjuangkan. Akhirnya, Seth pun memutuskan untuk menjadi manusia agar dapat hidup bersama Maggie.
Namun, kebahagiaan yang diharapkan ternyata tidak berlangsung lama. Setelah Seth benar-benar menjadi manusia dan mulai menikmati kehidupan duniawi bersama Maggie, sebuah tragedi tak terduga terjadi. Maggie mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya. Kejadian tersebut membuat Seth harus menerima kenyataan pahit bahwa cinta juga berarti kesiapan untuk kehilangan. Akhirnya, Seth pun mencoba berdamai dengan rasa kehilangan tersebut, juga dengan jalan hidup yang telah dipilihnya.
Kelebihan Film City of Angels
Beberapa kelebihan yang terdapat dalam film City of Angels ini, menurut saya, antara lain ialah terletak pada kekuatan emosional ceritanya. Sebab, film ini tidak hanya menyajikan kisah cinta yang romantis, tetapi juga mengajak penonton untuk merenungkan makna kehidupan, kematian, dan pilihan.
Selain itu, kelebihan lainnya ialah penggunaan simbol dan dialog yang sederhana tetapi sangat filosofis. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya adegan-adegan hening dalam film ini yang justru memperkuat suasana batin para tokohnya. Ditambah lagi, musik latar dalam film ini, yaitu Iris yang dibawakan oleh grup band Goo Goo Dolls, mampu memperdalam nuansa melankolis dan romantis yang menjadi ciri khas dari film City of Angels. Menurut saya, film City of Angels sangat cocok untuk kalian saksikan, karena alur ceritanya yang sarat makna serta nuansa filmnya yang bersifat filosofis.
Itulah ulasan mengenai sebuah film yang bersifat romantis sekaligus tragis, yang berjudul City of Angels. Adapun ulasan ini merupakan ulasan saya pribadi, berdasarkan film tersebut. Lalu, bagaimana menurut kalian? Apakah kalian tertarik untuk menonton film tersebut?