Review Novel Satine: Realitas Pahit Menjadi Budak Korporat di Jakarta

M. Reza Sulaiman | Taufiq Hidayat
Review Novel Satine: Realitas Pahit Menjadi Budak Korporat di Jakarta
Satine karya Ika Natassa. (gramedia)

Bagi banyak perempuan urban, mencapai usia kepala tiga dengan karier yang cemerlang adalah sebuah prestasi. Namun, Ika Natassa dalam novel terbarunya, Satine, membuka tirai yang lebih gelap di balik kesuksesan tersebut. Satine Muchlis, tokoh utama kita, adalah representasi dari banyak orang saat ini: mapan secara finansial, namun babak belur oleh rasa sepi.

Kisah bermula ketika Satine, yang merasa ruang hidupnya terlalu kosong di sela-sela kesibukan kerja, memutuskan mencoba aplikasi kencan bernama Bespoke. Di sanalah ia bertemu Ash Risjad. Keduanya sepakat melakukan kencan kontrak dengan aturan yang jelas agar tidak ada keterikatan emosional. Namun, seperti hukum alam dalam setiap narasi romansa, perasaan adalah variabel yang tidak bisa dikontrol lewat kontrak. Ketika Ash mengakui perasaannya, kesepakatan itu berakhir, namun penderitaan mereka justru baru saja dimulai.

Paradoks Kemapanan dan "Budak" Perusahaan

Melalui Satine, kita diajak merenung tentang esensi kebahagiaan. Memiliki pekerjaan bagus dan penghasilan tinggi ternyata tidak secara otomatis mengusir sepi. Uang mungkin bisa membeli kenyamanan, tetapi saat malam tiba, kesepian sering kali menangkap kita dengan kekuatan yang sulit dilawan. Satine menghabiskan waktunya untuk mengejar pengakuan, terutama dari ibunya, hingga ia lupa menikmati waktu yang ia miliki.

Satu poin yang paling menyentak dari ulasan ini adalah pesan tentang dunia korporat. Seberapa pun setianya kita pada perusahaan, saat kita dianggap tidak lagi berguna atau produktif, sistem akan dengan mudah menyingkirkan kita dan menggantinya dengan "darah baru". Hukum alam ini menjadi pengingat pahit bagi kita semua: lakukan pekerjaan dengan baik, tetapi jangan sampai menjadi budak hingga kehilangan kesehatan dan waktu untuk hidup. Perusahaan akan tetap berjalan tanpa kita, tetapi hidup kita tidak akan pernah kembali jika waktu telah terbuang percuma.

Trauma Pengasuhan dan Kesehatan Mental

Ika Natassa tidak hanya menyuguhkan drama romantis, tetapi juga membedah luka masa lalu. Satine tumbuh menjadi workaholic dan pejuang validasi karena tuntutan ibunya yang sangat tinggi. Hubungan mereka yang dingin dan canggung menciptakan jarak emosional yang membuat perjuangan Satine terasa sangat sunyi.

Di sisi lain, Ash membawa isu trauma yang berbeda. Ia dihantui oleh bayang-bayang ayahnya yang kasar dan pemarah. Ketakutan terbesar Ash adalah ia akan bermutasi menjadi "monster" yang sama seperti ayahnya. Momen ketika Ash kehilangan kendali dan memukul rekan kerjanya menjadi titik balik yang menyakitkan, membuatnya menghakimi diri sendiri secara berlebihan. Meski terkadang langkah Ash untuk menjauhi Satine terasa kurang bijaksana bagi pria seusianya, hal ini menggambarkan betapa kuatnya cengkeraman trauma masa kecil dalam memengaruhi keputusan orang dewasa.

Pentingnya Komunikasi dan Kejujuran

Dari segala konflik yang terjadi, novel ini mengingatkan kita akan satu hal krusial: pentingnya berkomunikasi secara jujur. Kebanyakan masalah timbul karena asumsi dan tebak-tebakan. Kita sering berharap orang lain memahami pikiran kita tanpa kita perlu mengucapkannya, padahal kenyataannya tidak ada yang bisa membaca pikiran. Perbincangan yang mendalam adalah satu-satunya jembatan untuk menyelesaikan kesalahpahaman.

Nuansa cinta dalam buku ini pun terasa sangat manis tanpa harus menjadi picisan. Ika Natassa berhasil mengubah aktivitas sederhana, seperti makan nasi padang malam hari atau menikmati lampu kota, menjadi momen romantis yang pas dan tidak dipaksakan. Diksi yang digunakan pun cerdas dan lugas, meskipun bagi sebagian pembaca, penggunaan istilah bahasa Inggris yang cukup sering mungkin membutuhkan waktu lebih untuk dipahami.

Catatan Narasi dan Penokohan

Secara teknis, penggunaan dua sudut pandang (Satine dan Ash) memberikan dimensi pada cerita. Namun, saya mencatat bahwa tidak ada perbedaan rasa yang signifikan antara narasi Satine dan Ash. Keduanya memiliki struktur berpikir yang sama-sama cerdas dan pilu. Seandainya tidak ada label nama di awal bab, akan sulit membedakan siapa yang sedang bercerita. Idealnya, karakter pria dan wanita memiliki "suara" yang berbeda untuk memperkuat persona masing-masing.

Secara keseluruhan, Satine adalah novel yang memberikan perspektif jernih tentang pilihan hidup, karier, dan risiko asmara. Setelah menutup lembar terakhir buku ini, kita patut melakukan refleksi: sudah seberapa tepat keputusan yang kita ambil sejauh ini? Baik itu tentang asmara, finansial, maupun hubungan keluarga. Dan yang terpenting, apakah keputusan-keputusan itu benar-benar membawa kebahagiaan, ataukah kita hanya sedang berlari di atas treadmill ekspektasi orang lain?

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak