Buat kamu yang suka novel yang sakit jiwa alias memainkan perasaan dan psikologi pembaca, novel satu ini mungkin akan cocok buat kamu. Novel Breath of Scandal karya Sandra Brown bukan sekadar kisah romansa atau balas dendam.
Novel ini adalah potret panjang tentang trauma, ketimpangan kuasa, dan upaya seorang perempuan merebut kembali kendali atas hidupnya.
Dengan ketebalan hampir 680 halaman, novel ini justru bergerak lincah. Tidak bertele-tele, tidak meninabobokan alias bikin ngantuk. Melainkan perlahan menekan emosi pembaca hingga sulit melepaskannya.
Sinopsis Novel Breath of Scandal
Tokoh utama, Jade Sperry, mengalami tragedi yang mengubah hidupnya selamanya. Saat masih remaja SMA, Jade diperkosa oleh tiga teman sekolahnya: Neal, Hutch, dan Lamar. Kekerasan itu tidak hanya merenggut tubuh dan masa depannya, tetapi juga kepercayaannya pada keadilan.
Kasus tersebut menguap karena pelaku berasal dari keluarga berkuasa di Palmetto. Anak komisaris dan komandan sheriff. Bukti dihancurkan, laporan dipatahkan, dan seperti banyak korban kekerasan seksual lainnya, Jade dipaksa menelan narasi klasik. Yaitu “suka sama suka.”
Trauma itu berlapis. Pacarnya, Gery, bunuh diri. Jade hamil dan harus melanjutkan hidup sambil menanggung luka yang tak pernah sembuh. Lima belas tahun kemudian, Jade kembali ke Palmetto sebagai perempuan dewasa berusia 33 tahun. Bukan lagi gadis yang bisa dibungkam dengan ancaman.
Ia telah menjadi perempuan karier sukses di industri tekstil, membawa proyek besar ke kota asalnya. Kepulangannya bukan nostalgia, melainkan strategi. Membongkar masa lalu dan menuntut balas secara cerdas.
Di tengah konflik tersebut, hadir Dillon Burke, seorang insinyur proyek dengan luka hidupnya sendiri. Ia kehilangan istri dan anak, menjadikannya sosok keras, tertutup, dan emosional. Hubungannya dengan Jade tidak dibangun lewat romansa instan, melainkan melalui ketegangan, ketakutan, dan kesabaran.
Dillon bukan penyelamat dalam arti klise. Ia tidak “menyembuhkan” Jade secara ajaib. Peran Dillon di sini cukup kompleks. Ia belajar menunggu, memahami batas, dan menghormati trauma.
Salah satu kutipan yang paling mencolok dari novel ini adalah, “Aku cinta padamu. Bercinta adalah bonus.” Sangat erotis khas penulisan Sandra Brown. Namun kalimat sederhana itu justru menjadi inti cerita. Cinta yang tidak menuntut tubuh, tidak memaksa kesembuhan, dan tidak menjadikan luka sebagai kewajiban untuk sembuh cepat.
Kelebihan dan Kekurangan Novel
Sandra Brown dengan cermat menggambarkan kondisi psikologis penyintas kekerasan seksual. Ketakutan pada sentuhan, rasa bersalah yang tidak logis, kemarahan yang terpendam bertahun-tahun.
Jade bukan korban pasif. Ia ibu tunggal, profesional sukses, dan perempuan dengan kemarahan yang sah. Dendamnya bukan digambarkan secara heroik, tetapi manusiawi: rumit, berisiko, dan penuh konsekuensi.
Konflik memuncak ketika masa lalu benar-benar menyeruak. Neal menyadari keberadaan Graham, anak Jade, dan mengklaim hak atasnya. Di titik ini, Breath of Scandal berubah menjadi cerita tentang kuasa. Siapa yang berhak atas tubuh, atas anak, atas kebenaran.
Novel ini tidak menawarkan akhir yang sepenuhnya manis, tetapi justru realistis. Keadilan tidak selalu datang utuh, namun keberanian untuk bertahan dan melawan tetap bermakna.
Breath of Scandal adalah novel yang menyakitkan, menggugah, sekaligus memikat. Ia mengingatkan bahwa luka masa lalu tidak pernah benar-benar hilang. Namun seseorang tetap bisa hidup, mencinta, dan memilih masa depannya sendiri.
Identitas Buku
- Judul: Breath of Scandal (Luka Masa Lalu)
- Penulis: Sandra Brown
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Tahun Terbit: 2018
- ISBN: 9786-0-2038469-6
- Tebal: 680 Halaman
- Genre: Romansa, Psikologi, Fiksi