Menenangkan Diri Sejenak dari Dunia yang Riuh Lewat Novel Di Waktu Duha

Sekar Anindyah Lamase | Oktavia Ningrum
Menenangkan Diri Sejenak dari Dunia yang Riuh Lewat Novel Di Waktu Duha
Di Waktu Duha (Dok.Pribadi/Oktavia)

Berjudul Di Waktu Duha, novel fiksi karya JaisiQ ini menyuguhkan bacaan ringan tapi diam-diam menghujam perasaan. Sejak halaman awal hingga penutup, pembaca diajak masuk ke dunia yang tenang, lembut, dan perlahan membuat hati tercerahkan, karena refleksi diri yang terus-menerus disodorkan.

Novel ini berpusat pada tokoh Kinan, seorang penulis perempuan yang baru saja menyelesaikan bukunya. Karya tersebut tidak digambarkan sebagai buku yang laris manis di pasaran. Ia tidak terpajang di etalase toko buku besar, hanya bisa didapatkan secara daring atau melalui sistem pre-order.

Namun justru di situlah letak kekuatannya: buku Kinan hadir sebagai karya yang jujur, lahir dari kesungguhan iman dan kecintaan pada nilai-nilai Islam. Kinan sendiri digambarkan sebagai sosok yang sangat menjaga diri, syar’i, dan berhati-hati dalam memaknai cinta.

Sinopsis Novel

Konflik awal cerita berangkat dari kejadian sederhana namun menentukan. Seorang teman Kinan yang jauh dari kesan syar’i meminjam bukunya, lalu tanpa sengaja meninggalkannya di pesawat. Buku itu kemudian ditemukan oleh Adnan, seorang pemuda taat yang digambarkan hampir seperti idaman versi langit.

Rajin beribadah, santun, dan memiliki kebiasaan yang menjadi benang merah cerita, shalat Duha. Ketertarikan Adnan pada buku tersebut bermula dari judulnya, Di Waktu Duha, yang ternyata selaras dengan isi buku yang sedang dibaca pembaca. Di titik ini, pembaca seolah sedang membaca kisah tentang buku yang sedang ia baca, sebuah metafiksi sederhana namun efektif.

Pertemuan Kinan dan Adnan sebenarnya telah terjadi lebih dahulu. Di Kota Tua, Jakarta, Adnan yang sedang menemani ibunya berlibur meminta bantuan Kinan yang saat itu masih orang asing untuk memotret mereka.

Dari momen singkat itulah, Kinan lebih dulu jatuh hati. Tak ada dialog berlebihan, tak ada rayuan instan. Hanya kesan pertama yang disimpan rapi, sebagaimana cinta yang belum diberi izin untuk tumbuh.

Takdir kemudian mempertemukan mereka kembali lewat buku yang tertinggal. Dari sanalah perjalanan menemukan “separuh hati” dimulai, dengan ritme yang tenang dan konflik yang terasa pas. Novel ini tidak terburu-buru menyelesaikan masalah. Saat konflik mereda, cerita tidak serta-merta berakhir, melainkan memberi ruang bagi pembaca untuk mencerna makna, menimbang perasaan, dan belajar sabar.

Kelebihan dan Kekurangan Novel

Kekuatan Di Waktu Duha terletak pada amanatnya. Novel ini tidak hanya bercerita tentang jatuh cinta, tetapi bagaimana cara jatuh cinta yang baik menurut Islam. Ada pembahasan tentang kehidupan, pilihan, keikhlasan, hingga isu sosial yang diselipkan secara halus. Kalimat-kalimatnya kerap menampar pembaca—bukan dengan keras, melainkan dengan rasa malu yang lahir dari kesadaran diri.

Kinan digambarkan sebagai perempuan yang menjadikan cinta sebagai jalan kembali kepada Sang Pencipta. Ia menerima takdir dengan lapang dada dan keyakinan bahwa setiap ketetapan Allah selalu membawa kebaikan, meski tidak selalu sesuai harapan manusia. Dan benar saja, di akhir cerita, pembaca akan dihadapkan pada sebuah plot twist yang memaksa belajar ikhlas sedalam-dalamnya.

Sebagai novel romance religi, Di Waktu Duha cocok bagi pembaca yang mencari bacaan ringan namun menyentuh, manis tapi sedikit nyesek. Sebuah kisah tentang cinta, iman, dan harapan yang mengajarkan bahwa tidak semua yang kita doakan harus kita miliki. Tapi semua yang Allah tetapkan selalu pantas untuk diterima.

Identitas Buku

  • Judul: Di Waktu Duha
  • Penulis: JaisiQ
  • Penerbit: Wahyu Qolbu
  • Tahun Terbit: 2024
  • ISBN : 978-623-8393-17-6
  • Tebal : 300 halaman
  • Genre: Fiksi Islami, Religi, Romansa

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak