Review Penunggu Rumah Buto Ijo: Adaptasi Cerita Rakyat yang Mencekam di Bioskop

M. Reza Sulaiman | Ryan Farizzal
Review Penunggu Rumah Buto Ijo: Adaptasi Cerita Rakyat yang Mencekam di Bioskop
Poster film Penunggu Rumah: Buto Ijo (IMDb)

Film Penunggu Rumah: Buto Ijo adalah adaptasi modern dari dongeng klasik Indonesia, Timun Mas, yang dikemas dalam genre horor klenik. Disutradarai oleh Achmad Romie, film ini tayang perdana di bioskop Indonesia pada 15 Januari 2026, bertepatan dengan hari ini.

Diproduksi oleh Creator Pictures dan Seru Juga Film Studio dengan durasi sekitar 78 menit, karya ini menjanjikan teror yang lebih personal dan gelap dibandingkan dengan cerita rakyat aslinya. Gandhi Fernando, yang juga berperan sebagai produser, penulis skenario bersama Muthia Esfand, dan aktor utama, berhasil membawa nuansa kontemporer ke legenda Buto Ijo, si raksasa hijau yang haus tumbal.

Rahasia Gelap Rumah dan Janji yang Ditagih Buto Ijo

Tangkapan layar salah satu adegan di film Penunggu Rumah: Buto Ijo (youtube.com/CINEMA 21)
Tangkapan layar salah satu adegan di film Penunggu Rumah: Buto Ijo (youtube.com/CINEMA 21)

Cerita berpusat pada Srini (Celine Evangelista), seorang janda yang hidup tenang bersama putrinya, Tisya (Meryem Hasanah). Menjelang ulang tahun Tisya yang keenam, kehidupan mereka terganggu oleh kejadian aneh: suara langkah berat di malam hari, bayangan raksasa, dan mimpi buruk yang semakin nyata.

Sosok Buto Ijo muncul sebagai penunggu rumah, bukan sekadar monster mitos, melainkan simbol konsekuensi janji masa lalu yang belum ditepati. Terdesak, Srini menghubungi mantan kekasihnya, Ali (Gandhi Fernando), seorang content creator horor yang berspesialisasi dalam uji nyali. Ali datang bersama adiknya, Lana (Valerie Thomas), yang sedang mengalami kesulitan finansial. Awalnya, mereka mengira ini adalah peluang konten viral, tetapi teror Buto Ijo berubah menjadi mimpi buruk nyata dan mengungkap rahasia kelam rumah tersebut.

Secara naratif, film ini unggul dalam membangun ketegangan secara perlahan. Alih-alih mengandalkan jump scare murahan, Achmad Romie memanfaatkan atmosfer sunyi dan simbol budaya Indonesia untuk menciptakan rasa takut yang meresap. Elemen dongeng Timun Mas diintegrasikan secara cerdas: Buto Ijo bukan lagi antagonis kartun, melainkan entitas psikologis yang mewakili keserakahan, perjanjian gelap, dan warisan dosa lintas generasi. Tema ini relevan di era modern, di mana rahasia keluarga sering menjadi sumber konflik. Namun, skenario kadang terasa prediktabel, terutama di babak kedua saat rahasia terungkap terlalu cepat, sehingga mengurangi elemen misteri.

Review Film Penunggu Rumah: Buto Ijo

Tangkapan layar salah satu adegan di film Penunggu Rumah: Buto Ijo (youtube.com/CINEMA 21)
Tangkapan layar salah satu adegan di film Penunggu Rumah: Buto Ijo (youtube.com/CINEMA 21)

Akting menjadi salah satu kekuatan utama. Celine Evangelista tampil meyakinkan sebagai Srini, ia menyampaikan ketakutan seorang ibu dengan ekspresi subtil dan emosi mendalam. Gandhi Fernando sebagai Ali menunjukkan karisma sebagai pemburu hantu digital, meski karakternya agak klise sebagai pahlawan skeptis.

Valerie Thomas sebagai Lana menambah dinamika keluarga, sementara Meryem Hasanah sebagai Tisya berhasil mencuri perhatian dengan kepolosan yang kontras dengan teror di sekitarnya. Pemeran pendukung seperti Adnan Djani (Indra), Arie Dwi Andhika (Riza), Pratito Wibowo, dan Femmy Magnalia melengkapi ensemble dengan solid, meski beberapa dialog terasa kaku.

Visual dan desain suara patut diacungi jempol. Desain Buto Ijo—tubuh hijau besar, wajah seram bergigi tajam—dibuat menjijikkan dan realistis melalui efek praktikal serta CGI yang layak. Penggunaan Dolby Surround 7,1 membuat suara langkah raksasa terasa menggema dan meningkatkan imersi.

Lokasi syuting di rumah tua Bandung menambah nuansa autentik, dengan pencahayaan gelap yang membangun paranoia. Namun, beberapa efek visual terlihat dated, mirip produksi tahun 2000-an, seperti yang dikritik warganet di trailer YouTube. Atmosfer horornya lumayan kuat, terutama pada adegan malam hari, tetapi kurang inovatif jika dibanding horor Indonesia kontemporer seperti Pengabdi Setan.

Kelebihan film ini terletak pada upaya merevitalisasi folklore Nusantara. Di tengah dominasi horor spiritual, Penunggu Rumah: Buto Ijo menawarkan pendekatan segar: horor ramah anak tetapi dewasa, dengan pesan moral tentang janji dan konsekuensi. Ini bisa menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk mengenal cerita rakyat, meski dengan sentuhan kelam.

Kekurangan utama adalah pacing yang lambat di awal dan akhir yang agak antiklimaks, ditambah produksi yang terasa low-budget di beberapa bagian. Rating awal di IMDb belum tersedia, tetapi respons awal di media sosial campur aduk: ada yang memuji orisinalitas, tetapi ada pula kritik soal kualitas visual.

Secara keseluruhan, Penunggu Rumah: Buto Ijo adalah horor solid untuk pembuka tahun 2026. Untuk rating, saya memberikan nilai 7/10. Film ini cocok bagi penggemar folklore modern, tetapi mungkin kurang memuaskan bagi pencinta horor intens. Kalau kamu suka film seperti Suzzanna atau adaptasi mitos lainnya, ini wajib ditonton. Mulai tayang hari ini, jadi buruan ke bioskop sebelum teror Buto Ijo hilang begitu saja.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak