Masih ingatkah kamu dengan suasana bioskop di awal Maret 2023 silam? Saat itu, sebuah film berjudul Kembang Api hadir membawa keheningan yang menyesakkan sekaligus menenangkan bagi para penontonnya. Kini, setelah hampir tiga tahun berlalu sejak perilisannya, pesan yang dibawa oleh sutradara Herwin Novianto dan Falcon Pictures ini rasanya justru semakin kuat dan relevan untuk kita renungkan kembali.
Film berdurasi 104 menit ini merupakan adaptasi dari karya Jepang, 3FT Ball & Souls. Melalui naskah yang ditulis ulang oleh Alim Sudio, kita diajak bernostalgia pada sebuah kisah yang secara berani mengangkat isu kesehatan mental—sebuah topik yang barangkali pernah atau sedang kita perjuangkan bersama.
Lingkaran Waktu dan Luka yang Belum Sembuh
Bagi yang sempat menontonnya, tentu sulit melupakan pertemuan empat karakter asing di sebuah gudang sunyi: Fahmi (Donny Damara), Raga (Ringgo Agus Rahman), Sukma (Marsha Timothy), dan Anggun (Hanggini). Mereka berkumpul bukan untuk merayakan sesuatu, melainkan untuk menyudahi hidup dengan sebuah bola kembang api raksasa.
Namun, alam semesta tampaknya punya rencana lain. Setiap kali ledakan terjadi, mereka terjebak dalam time loop—kembali ke titik awal. Jika diingat kembali, elemen lingkaran waktu ini bukan sekadar bumbu fiksi ilmiah, melainkan metafora cerdas tentang bagaimana seseorang yang depresi sering kali merasa terjebak dalam pikiran buruk yang berulang tanpa henti.
Menyelami Luka dari Berbagai Sisi
Menonton kembali Kembang Api melalui ingatan adalah cara kita belajar memahami empati. Kita melihat Fahmi yang tercekik utang, Raga yang dihantui rasa bersalah, Sukma yang kehilangan dunianya (anaknya), hingga Anggun yang jiwanya patah akibat perundungan.
Adegan di mana mereka saling berdebat tentang siapa yang "paling menderita" adalah tamparan keras bagi kita. Film ini mengajarkan satu pelajaran berharga: Penderitaan bukanlah sebuah kompetisi. Tidak ada masalah yang terlalu kecil untuk dirasakan, dan tidak ada orang yang lebih berhak untuk menyerah dibandingkan yang lain. Lewat film ini, kita belajar bahwa setiap orang punya badainya masing-masing.
Urip iku Urup: Hidup adalah Nyala
Satu hal yang paling membekas dari film ini adalah filosofi Jawa, "Urip iku Urup" (Hidup itu Nyala). Pesan yang tersurat pada bola kembang api itu seolah memanggil kita untuk kembali menyalakan lilin harapan yang mungkin hampir padam.
Melalui perjalanan Fahmi dan kawan-kawan, kita diingatkan bahwa meskipun hidup terasa seperti ledakan yang menyakitkan, selalu ada kesempatan untuk "kembali ke titik awal" dan memilih jalan yang berbeda, jalan untuk bertahan dan saling menguatkan.
Mungkin saat ini kamu sedang berada di posisi salah satu dari mereka. Jika benar, mari jadikan film Kembang Api sebagai teman bicara. Film ini bukan hanya tentang bagaimana mereka mencoba mati, tapi tentang bagaimana mereka akhirnya belajar untuk saling merangkul dan memilih untuk tetap hidup. Sebab pada akhirnya, setiap nyawa adalah nyala yang berharga. Sudahkah Anda menyapa diri sendiri hari ini? Jika menyenangkan sebarkan, jika tidak, beritahu!