Belajar Melihat Orang Lain Tanpa Prasangka di Novel 'Kiblat Cinta'

Bimo Aria Fundrika | Oktavia Ningrum
Belajar Melihat Orang Lain Tanpa Prasangka di Novel 'Kiblat Cinta'
Kiblat Cinta (Dok.Pribadi/Oktavia)

Seperti batu yang perlahan retak oleh tetesan air, nyatanya mengubah orang lain adalah sebuah kemustahilan. Namun, ketika tutur kata yang lembut juga melembutkan hati yang keras bagai batu, ternyata seseorang juga bisa berubah demi orang lain.

Kiblat Cinta adalah novel populer karya Awaliarrahman yang menawarkan kisah romansa religi dengan latar pesantren. Sebuah ruang yang jarang disentuh secara detail dalam novel populer Indonesia.

Lewat tokoh utamanya, Ayra, pembaca diajak menyusuri perjalanan emosional seorang gadis “bar-bar” yang perlahan dipaksa berdamai dengan iman, tanggung jawab, dan cinta yang tak ia pilih di awal, tetapi akhirnya ia terima sepenuh hati.

Sinopsis Novel

Ayra bukan tipikal cucu seorang kiai. Alih-alih lembut dan santun, ia dikenal bandel, gemar balapan motor, dan lebih nyaman nongkrong bersama teman-teman laki-lakinya. Sikapnya yang sulit diatur membuat sang ayah mengambil keputusan tegas. Memasukkan Ayra ke pesantren.

Keputusan ini menjadi titik balik utama dalam cerita. Perpindahan dari kehidupan bebas menuju lingkungan dengan aturan ketat membuat Ayra kerap tersandung masalah, mulai dari hukuman Petugas Keamanan Pesantren hingga konflik langsung dengan Gus Rayyan, putra pertama pemilik pesantren.

Gus Rayyan digambarkan sebagai sosok dingin, tegas, dan berwibawa. Ia disegani para santri dan menjadi idola santriwati. Hubungannya dengan Ayra pada awalnya penuh ketegangan. Hukuman, teguran, dan benturan karakter.

Namun, seiring waktu, sikap Rayyan berubah. Ia mulai menunjukkan perhatian yang membuat Ayra bimbang sekaligus baper. Perubahan ini bukan tanpa alasan. Sebuah rahasia besar perlahan terkuak: Ayra ternyata telah dinikahkan secara diam-diam dengan Gus Rayyan, tanpa sepengetahuannya.

Pengungkapan pernikahan ini menjadi salah satu elemen paling mengejutkan dalam novel. Awaliarrahman memperkenalkan konsep wilayatul ijbar, yakni hak wali untuk menikahkan anak perempuan tanpa izin langsung darinya, dengan syarat dan ketentuan tertentu.

Bagi banyak pembaca, termasuk mereka yang awam dengan praktik ini, Kiblat Cinta menjadi pintu awal untuk memahami diskursus tersebut dalam konteks budaya dan agama.

Merasa tidak pantas menjadi istri seorang Gus, Ayra meminta agar pernikahan mereka dirahasiakan. Rayyan menyanggupi. Dalam pernikahan diam-diam itu, Rayyan perlahan membimbing Ayra.

Mengajarkan agama, membantu menghafal surat-surat pendek, dan menuntunnya memahami makna iman secara lebih dalam. Transformasi karakter Ayra menjadi kekuatan utama novel ini. Ia berubah dari gadis pemberontak menjadi perempuan yang lebih reflektif dan tawaduk, tanpa kehilangan sisi manusianya.

Konflik memuncak ketika Ayra difitnah hamil di luar nikah setelah seorang ustadzah menemukan tes kehamilan di lemari Ayra. Ia dipermalukan di hadapan ribuan santri. Pada momen krusial ini, Gus Rayyan akhirnya mengungkap status pernikahan mereka.

Namun badai belum usai. Ning Aiza, yang sebelumnya dijodohkan dengan Rayyan, terus menebar fitnah hingga Ayra salah paham dan kabur ke Jakarta. Dalam perjalanan menyusul istrinya, Rayyan mengalami kecelakaan dan koma. Peristiwa yang menjadi titik balik spiritual Ayra.

Kesetiaan Ayra menanti Rayyan selama berbulan-bulan, keputusannya untuk berniqab, dan penerimaannya terhadap peran sebagai Ning pesantren menutup kisah ini dengan nada pertumbuhan dan penebusan. Setelah Rayyan sadar, mereka kembali ke pesantren dan menjalani hidup sebagai Gus dan Ning yang dihormati, serta dikaruniai seorang putra bernama Zayn.

Kelebihan dan Kekurangan Novel

Novel ini punya gaya bahasa yang ringan sehingga membacanya tak memerlukan waktu yang lama untuk sampai di halaman terakhirnya. Namun, alur cerita masih sangat kental tipikal romansa Wattpad, masih setipe dengan adegan-adegan film SCTV romansa tahun 2010 an hanya saja dalam bentuk yang lebih kompleks dan ada unsur agama. 

Secara keseluruhan, Kiblat Cinta bukan sekadar novel romansa. Ia menggabungkan konflik emosional, pendidikan agama, dan dinamika pesantren dengan gaya narasi yang mengalir dan dialog yang hidup.

Meski terdapat kekurangan, seperti perpindahan waktu yang kadang membingungkan, novel ini tetap menawarkan pengalaman membaca yang menghibur sekaligus edukatif. Terutama bagi pembaca yang ingin mengenal dunia pesantren dan kompleksitas relasi cinta di dalamnya.

Identitas Buku

  • Judul: Kiblat Cinta
  • Penulis: Awaliarrahman
  • Penerbit: Starlight Books
  • Tahun Terbit: 2024
  • Genre: Romansa, Spiritual, Islami
  • Halaman : 324 Halaman

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak