Menjadi Ayah di Dunia Modern itu Tidak Mudah! Membaca Novel Super Didi

Hayuning Ratri Hapsari | Oktavia Ningrum
Menjadi Ayah di Dunia Modern itu Tidak Mudah! Membaca Novel Super Didi
Super Didi (Dok. Pribadi/Oktavia)

Novel Super Didi: Karena Jadi Ayah Itu Seru! karya Silvarani mengangkat kisah keluarga yang hangat, jenaka, sekaligus menyentuh. Dibungkus dalam genre fiksi drama komedi, buku ini mengusung isu yang dekat dengan kehidupan modern. Pembagian peran dalam rumah tangga dan makna menjadi orang tua yang sesungguhnya.

Tokoh utama novel ini adalah Arka, seorang arsitek muda yang tengah berada di puncak kariernya. Ia baru saja mendapatkan proyek bernilai triliunan rupiah. Pencapaian besar yang seharusnya menjadi momen membahagiakan bagi keluarganya.

Namun kebahagiaan itu terusik ketika istrinya, Wina, harus pergi ke Hongkong demi membantu sahabatnya, Meisya, yang sedang mengalami masalah rumah tangga. Kepergian Wina membuat Arka harus mengambil alih seluruh tanggung jawab domestik.

Sinopsis Novel

Sejak saat itu, Arka bukan hanya ayah, tetapi juga “ibu” bagi kedua putrinya, Anjani dan Velia. Anak-anaknya memanggilnya “Didi”. Jika anak lain menyebut ayahnya papa atau daddy, Anjani dan Velia memilih nama istimewa untuk sosok yang mereka cintai. Begitu pula Wina yang dipanggil “Muti”. Sentuhan kecil ini memberi warna hangat pada cerita.

Hari-hari Arka berubah drastis. Ia harus membangunkan anak-anak, menyiapkan sarapan dan bekal, mengantar ke sekolah, menemani les, hingga mendongeng sebelum tidur. Pekerjaan rumah tangga yang sebelumnya tak pernah ia sentuh kini menjadi rutinitas wajib. Rasa pegal di punggung dan kantuk yang menumpuk seakan tak lagi terasa karena besarnya tanggung jawab sebagai orang tua.

Lewat sudut pandang ringan dan humoris, pembaca diajak melihat bahwa tugas ibu rumah tangga bukanlah pekerjaan sepele. Mengurus anak membutuhkan tenaga, kesabaran, dan perhatian penuh.

Arka yang awalnya canggung dan “bodoh” dalam urusan domestik perlahan belajar. Ketika putrinya meminta kepang rambut ala Queen Elsa dari film Frozen, ia tak ragu mencari tutorial di YouTube. Adegan-adegan seperti ini menghadirkan tawa sekaligus rasa haru.

Keseruan tak berhenti di rumah. Arka harus menghadapi grup BBM wali murid yang didominasi ibu-ibu aktif dan penuh drama. Ia bahkan terlibat dalam kegiatan belanja keperluan sekolah bersama mereka.

Selain itu, di tempat les anak-anaknya, Arka bergabung dengan komunitas lucu bernama PEMBAJAK (Perhimpunan Bapak-bapak Jaga Anak) yang beranggotakan para ayah dengan nasib serupa. Interaksi ini memperkaya cerita dengan humor sosial yang relevan.

Konflik memuncak ketika dua dunia Arka bertabrakan. Di satu sisi, Anjani dan Velia akan tampil dalam drama sekolah yang sangat penting bagi mereka. Di sisi lain, Arka harus melakukan presentasi proyek besar yang menentukan masa depan kariernya. Situasi semakin rumit karena Wina belum bisa kembali tepat waktu. Pertanyaannya sederhana namun menyakitkan: apakah anak-anak harus tampil tanpa kehadiran orang tuanya?

Ketegangan ini menjadi titik emosional novel. Penulis tidak membuat konflik berbelit-belit, tetapi cukup fokus pada pergulatan batin Arka. Ia harus memilih antara ambisi profesional dan kehadiran sebagai ayah. Dari sinilah makna “Super Didi” menemukan esensinya: menjadi orang tua bukan hanya soal memberi materi, tetapi juga hadir secara utuh.

Kelebihan dan Kekurangan

Menariknya, novel ini terinspirasi dari pengalaman nyata Reymund Levy, pendiri Muti Didi Film, yang pernah mengurus kedua putrinya selama 18 hari saat istrinya bepergian. Pengalaman tersebut kemudian diadaptasi menjadi cerita yang relatable dan membumi, bahkan diangkat ke layar lebar.

Dari segi gaya bahasa, Super Didi menggunakan bahasa yang ringan dan mudah dipahami. Alurnya mengalir, konflik tidak bertele-tele, dan emosi disampaikan secara efektif. Meski temanya sederhana dan sering ditemui, pendekatan yang hangat membuat cerita terasa segar. Novel ini juga berhasil mengangkat isu sosial tentang peran ayah di era modern. Bahwa mengasuh anak adalah tanggung jawab bersama, bukan semata tugas ibu.

Secara keseluruhan, Super Didi bukan hanya kisah komedi keluarga, tetapi juga refleksi tentang cinta, tanggung jawab, dan pengorbanan. Novel ini mengajarkan bahwa menjadi ayah yang terlibat adalah pengalaman yang melelahkan, menantang, namun pada akhirnya sangat seru dan penuh makna.

Identitas Buku

  • Judul: Super Didi (Karena Jadi Ayah Itu Seru!
  • Penulis: Silvarani
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Tahun Terbit: 2016
  • Tebal: 264 Halaman
  • ISBN: 978-602-03-2690-0
  • Genre: Drama/Fiksi Keluarga 

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak