Cukup terkenal dengan auranya yang cukup mistis, gak heran kalau gunung ini kerap jadi latar film atau cerita horor. Lekat dengan adanya praktik pesugihan, gunung satu ini punya daya tarik yang cukup unik 'kan untuk dikunjungi?
Gunung Kawi merupakan salah satu gunung berapi tua yang sudah lama tidak aktif di Jawa Timur. Terletak di sebelah barat daya Kabupaten Malang dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Blitar, Gunung Kawi menjadi bagian dari kompleks Pegunungan Putri Tidur.
Dengan ketinggian mencapai 2.603 meter di atas permukaan laut dan bertipe stratovolcano, gunung ini menyimpan kombinasi unik antara keindahan alam, tantangan pendakian ekstrem, serta nilai sejarah dan spiritual yang kuat.
Harga Tiket Masuk dan Pamali

Berbeda dengan gunung populer yang ramai pendaki, Gunung Kawi cenderung lebih sunyi. Namun justru di sanalah daya tariknya. Pendakian ke Gunung Kawi bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan juga pengalaman mental dan spiritual.
Harga Tiket Masuk (HTM) pendakian menuju Puncak Kawinajang melalui jalur resmi terbilang terjangkau, sekitar Rp20.000, menjadikannya aksesibel bagi pendaki yang siap secara fisik dan mental.
Ada juga beberapa larangan menurut kepercayaan warga setempat yang ada dalam pendakian Gunung Kawi. Seperti dilarang mengeluh saat mendaki, dilarang mendaki dalam rombongan berjumlah ganjil, dan sebisa mungkin jangan berpikir negatif tentang apapun yang ditemui selama pendakian.
Jalur Pendakian yang Beragam dan Menantang

Gunung Kawi memiliki beberapa jalur pendakian populer dengan karakteristik yang berbeda-beda. Jalur Precet, yang dikelola resmi oleh Perhutani, dikenal sebagai jalur paling ekstrem. Jalur ini sering digunakan pendaki yang ingin mencapai Puncak Batu Tulis. Ciri khasnya adalah tanjakan panjang dan curam, terutama menjelang puncak, yang menuntut stamina dan fokus tinggi.
Selain Jalur Precet, terdapat Jalur Panderman dan Mrinci yang berawal dari wilayah Kota Batu, Jalur Kucur dari Kabupaten Malang, serta Jalur Kebun Teh Sirahkencong dari Kabupaten Blitar.
Setiap jalur menawarkan pengalaman berbeda, mulai dari hutan lebat, jalur panjang berliku, hingga lintasan yang terhubung langsung dengan Gunung Buthak. Tak berlebihan jika Gunung Kawi disebut sebagai salah satu gunung dengan trek pendakian tersulit di Jawa Timur.
Trekking, Pos, dan Sumber Air

Pendakian via Jalur Precet umumnya dimulai dari basecamp di kawasan hutan Precet. Dari basecamp menuju Pos 1 membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam trekking. Pos 1 ke Pos 2 memakan waktu kurang lebih 1,5 jam, sementara Pos 2 ke Pos 3 bisa mencapai hampir 2 jam. Vegetasi di jalur ini didominasi aneka paku-pakuan atau pakis, hutan tropis lembap, hingga cemara dan ilalang (ilang-ilang) ketika mendekati puncak.
Ketersediaan air menjadi faktor krusial. Air masih dapat diambil di Pos 1 dan di antara Pos 1 dan Pos 2, biasanya dari pipa bocor yang dimanfaatkan pendaki. Setelah itu, sumber air sangat terbatas. Pada jalur lain seperti Panderman, pendaki bahkan diwajibkan membawa air ekstra, terutama setelah Pos 5, karena tidak ada sumber air alami hingga mendekati puncak.
Dari Pos 3 menuju Puncak Batu Tulis, medan berubah drastis. Meski jaraknya hanya sekitar 1,5 kilometer, waktu tempuh bisa mencapai 2 jam karena kemiringan jalur yang ekstrem dan kontur tanah yang licin serta rapuh.
Puncak Batu Tulis dan Nilai Sejarahnya

Puncak Batu Tulis merupakan salah satu puncak penting di sisi selatan Pegunungan Putri Tidur. Di puncak ini terdapat situs punden berundak yang dipercaya sebagai peninggalan masa lampau. Nama Batu Tulis berasal dari sebuah batu besar yang memiliki ukiran relief tulisan aksara kuno. Sayangnya, tulisan tersebut kini sulit diidentifikasi akibat faktor usia, pelapukan, dan cuaca ekstrem.
Selain Batu Tulis, Gunung Kawi juga memiliki puncak lain seperti Puncak Putrang, Puncak Kondang, serta satu puncak tak bernama. Puncak Putrang memiliki peran penting karena menjadi titik temu beberapa jalur pendakian, termasuk dari Pertapaan Gunung Kawi, Puncak Batu Tulis, dan jalur menuju Gunung Buthak.
Gunung Kawi adalah gunung bagi mereka yang mencari lebih dari sekadar pemandangan. Ia menawarkan ujian fisik, ketenangan alam, serta jejak sejarah yang samar namun terasa.
Dengan persiapan matang, fisik prima, dan sikap menghormati alam serta situs budaya, pendakian Gunung Kawi akan menjadi pengalaman yang mendalam. Meski sunyi, berat, namun penuh makna.