Di tengah hiruk-pikuk narasi cinta yang serba lantang dan ekspresif, Bisikan Hati yang Tersembunyi justru memilih berjalan perlahan. Menyusuri ruang sunyi perasaan manusia. Buku ini merupakan sebuah antologi puisi.
Namun pada beberapa bagian terasa seperti kumpulan kisah reflektif yang mengangkat tema perasaan tak terucapkan, cinta terpendam, harapan, serta perjalanan batin menuju penerimaan dan keberanian bermimpi. Diterbitkan oleh CV EMN Media, buku ini menghimpun karya para penulis terpilih dalam ajang OSN 1.5 Puisi pada Oktober 2023.
Sebagaimana judulnya, buku ini berangkat dari bisikan yang tersembunyi. Suara hati yang kerap terpendam, tidak selalu menemukan ruang untuk disuarakan secara terbuka. Puisi-puisi di dalamnya menggali emosi yang akrab dengan banyak pembaca. Antara rindu, kehilangan, keikhlasan, dan cinta yang tak sempat atau tak berani diungkapkan.
Namun buku ini tidak berhenti pada romantisisme luka. Di antara bait-bait melankolis, terselip pesan motivatif yang kuat: pentingnya berpikir positif, mengendalikan pikiran, serta mewujudkan mimpi dan cita-cita, meski berangkat dari pengalaman personal yang sunyi.
Kelebihan dan Kekurangan Buku
Salah satu kekuatan utama Bisikan Hati yang Tersembunyi terletak pada pilihan diksi para penulisnya. Kata-kata seperti bersemayam, membisu, dan secuil bukan sekadar ornamen bahasa, melainkan penanda kedalaman rasa.
Bersemayam, yang lazim digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang sakral atau agung, dipakai untuk menunjukkan betapa berharganya posisi seseorang di hati penyair. Membisu menegaskan tema “cinta dalam diam”, sementara secuil mencerminkan kerendahan hati sekaligus keputusasaan: harapan yang kecil, namun jujur.
Puisi “Gadis Kecil Perajut Asa” karya Muhammad Fajar Septiawan, misalnya, menampilkan kepolosan dan keteguhan harapan sebagai daya hidup. Dan “Rayuan Senyap” karya Oktavia Ningrum menjadi salah satu karya yang paling cukup menarik dalam antologi ini. Mengangkat tema yang cukup kontradiktif, yang satu tentang gadis yang tengah mwnbara dalam impian muda, dan satunya tentang perasaan merana.
Gaya Bahasa dan Struktur Puisi
Dengan gaya melankolis dan kontemplatif, puisi tersebut menghadirkan pertanyaan-pertanyaan retoris. Sebuah kegelisahan yang tidak menuntut jawaban, melainkan mengajak pembaca masuk ke ruang batin sang aku-lirik.
Secara tematik, beberapa puisi dalam buku ini juga mengeksplorasi apa yang dalam tradisi sastra Barat dikenal sebagai amour fou—cinta gila atau cinta tanpa syarat. Perasaan yang mungkin dianggap naif, tabu, atau tidak rasional oleh logika sosial, justru dirayakan sebagai estetika.
Menariknya, kata naif dihadapkan dengan seni. Ketidaksadaran emosional diolah menjadi pilihan sadar dalam mencinta. Di sinilah bahasa bekerja bukan hanya sebagai alat komunikasi, tetapi sebagai medium perenungan.
Gaya bahasa Melayu Klasik yang dipadukan dengan romantisisme modern terasa dominan. Pilihan kata seperti dikau, buana, dan frasa cacat kurangmu menciptakan jarak estetis yang membuat cinta terasa sakral, hampir ritualistik.
Majas oksimoron seperti “membutakan diri akan cacat kurangmu” menggambarkan konflik batin antara logika dan rasa. Ada pula personifikasi yang halus, misalnya ketika kesunyian diperlakukan sebagai bentuk rayuan, seolah diam pun mampu berbicara.
Pada akhirnya, Bisikan Hati yang Tersembunyi adalah bahasa kalbu. Ia merekam fase kekaguman rahasia, perasaan yang ada dalam bilik terdalam, kesedihan, hingga secuil api yang menyala redup di ruang sempit.
Di mana keberanian dan ketakutan berjalan berdampingan. Buku ini tidak memaksa pembaca untuk segera bersuara, tetapi mengajak berdamai dengan perasaan terdalam. Sembari perlahan menumbuhkan keberanian. Untuk bermimpi, untuk menerima, dan suatu hari, mungkin, untuk mengungkapkan.
Identitas Buku
- Judul Lengkap: Bisikan Hati Yang Tersembunyi
- Penulis: 100 Penulis Terpilih Lomba Osn 1.5
- Penerbit: Cv Emn Media
- Tahun Terbit: November 2023
- Tebal: 130 Halaman
- Qrbcn: 62-497-4207-907
- Kategori: Antologi
- Genre: Puisi
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS