Menemukan Sisi Manusiawi Rasulullah: Pelajaran Berharga dari Buku Tawa Tangis Para Nabi

M. Reza Sulaiman | Habibah Husain
Menemukan Sisi Manusiawi Rasulullah: Pelajaran Berharga dari Buku Tawa Tangis Para Nabi
Tawa Tangis Para Nabi (Doc.Pribadi/Habibah)

Tawa dan tangis adalah dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Mendengar kisah-kisah yang mengandung humor segar namun tetap sarat akan pesan, tentu menjadi hal yang menyejukkan. Namun, hidup tidak selamanya tentang tawa; ada kalanya air mata menjadi perlu sebagai bentuk kejujuran batin dan pengakuan atas kelemahan diri di hadapan Sang Mahakuasa. Melalui keseimbangan emosi inilah, seseorang dapat menemukan jati diri yang utuh sebagai hamba sekaligus makhluk sosial.

Buku berjudul Tawa Tangis Para Nabi ini, misalnya, sangat layak dijadikan bacaan yang menghibur sekaligus sarat akan renungan berharga. Buku ini ditulis oleh Bakr Muhammad Ibrahim, yang secara apik merangkum fragmen sejarah menjadi narasi yang menyentuh. Melalui buku ini, pembaca diajak untuk melihat sisi manusiawi dari Rasulullah saw., para sahabat, hingga kaum salafus saleh dalam menyikapi dinamika kehidupan melalui dua kutub emosi yang sangat kontras. Penulis berhasil membingkai narasi sejarah ini bukan sekadar sebagai dongeng masa lalu, melainkan sebagai panduan moral bagi manusia modern.

Buku ini dikemas simpel namun isinya sangat mendalam. Ia berisi kumpulan informasi perihal tawa dan tangis Nabi saw., para sahabatnya, hingga orang-orang saleh dalam beragam situasi. Penulis mencoba mengikat berbagai riwayat yang bertebaran dalam literatur klasik menjadi satu kesatuan tema yang relatif utuh, sehingga menjadi "karangan bunga" hikmah yang dapat dimanfaatkan secara luas. Pesan yang ingin disampaikan sangat jelas: bahwa kesalehan tidak selalu identik dengan wajah yang kaku dan tegang, melainkan dengan hati yang bersih dan penuh kasih sayang.

Salah satu fragmen humor segar yang dimuat dalam buku ini adalah karakteristik tawa Rasulullah saw. Diceritakan bahwa beliau adalah sosok yang banyak diam, namun sangat murah senyum. Tawa beliau tidak pernah melampaui batas hingga mengurangi karisma dan kewibawaannya. Beliau sering kali hanya tersenyum saat para sahabat berbincang tentang masa jahiliah mereka yang lucu. Di sini terdapat pesan moral tentang pentingnya menjaga marwah diri (self-dignity). Kegembiraan tidak boleh membuat kita kehilangan kendali atas etika dan sopan santun.

Salah satu kisah menarik yang mengundang senyum sekaligus syukur dialami oleh Abu Dzar r.a. Saat itu, ia merasa "binasa" karena mengalami hadas besar di padang penggembalaan tanpa ada setetes air pun untuk bersuci. Dengan perasaan kalut dan takut berdosa, ia menemui Rasulullah saw. dan berujar, "Wahai Rasul Allah, aku sungguh binasa!" Mendengar ketakutan sahabatnya yang begitu polos, Nabi saw. justru menyambutnya dengan senyuman hangat. Beliau tidak menghakimi kepanikan tersebut, melainkan memberikan solusi syariat berupa tayamum. Pelajaran dari kisah ini adalah empati seorang pemimpin. Nabi mengajarkan bahwa dalam berdakwah, kita harus memberikan solusi yang menenangkan alih-alih memberikan ancaman yang menakutkan.

Namun, buku ini tidak hanya berhenti pada keceriaan. Di bagian lain, pembaca akan diajak menyelami samudra air mata melalui kisah Umar bin Abdul Aziz. Khalifah yang dikenal sangat adil dan zuhud ini memiliki kepekaan batin yang luar biasa. Meski memegang kekuasaan tertinggi atas wilayah yang luas, ia sering kali menangis tersedu-sedu setiap kali mendengar atau membaca ayat-ayat Alquran yang berbicara tentang azab neraka. Pesan dari sisi kehidupan Umar adalah integritas dan rasa takut akan tanggung jawab.

Bagi Umar bin Abdul Aziz, dunia hanyalah rumah persinggahan sementara, bahkan ia menyebutnya sebagai "racun yang memabukkan". Ketakwaannya membuat ia sering terjaga di tengah malam untuk beribadah dan menangis karena takut akan amanah rakyat yang ia emban. Ia melihat dalam sebuah mimpi indah bahwa dirinya tergabung dalam rombongan Nabi saw., Abu Bakar, dan Umar bin Khattab. Pelajaran dalam hal ini adalah tentang ketulusan dalam memimpin. Tangisannya bukanlah tanda kelemahan fisik, melainkan bukti kejernihan nurani seorang pemimpin yang sangat mencintai Tuhannya melebihi segala kemewahan istana yang fana.

Paparan tentang tawa dan tangis dalam buku ini menjadi pelajaran dan pendidikan berharga, khususnya bagi generasi muda dan orang-orang yang bernurani peka. Tawa digunakan untuk mengeratkan tali persaudaraan dan menggembirakan sesama dalam kebaikan, sementara tangis digunakan untuk membersihkan debu-debu dosa dan mengharap rahmat Allah swt.

Kisah-kisah inspiratif lainnya dalam buku Tawa Tangis Para Nabi sangat layak untuk disimak lebih lanjut. Buku ini bukan sekadar bacaan pengantar tidur, melainkan cermin bagi hati kita masing-masing untuk bertanya: Untuk apa kita tertawa selama ini, dan karena apa air mata kita menetes? Buku ini hadir sekaligus menjadi bacaan yang bermanfaat untuk menata kembali niat dan emosi kita dalam beribadah kepada-Nya.

Identitas Buku

  • Judul: Tawa Tangis Para Nabi
  • Judul Asli: Al-Anbiyaa' wa al-Sholihuun Yadlhakuun wa Yabkun
  • Penulis: Bakr Muhammad Ibrahim
  • Penerjemah: Yusuf Hanafi, A. Mujin Nasih
  • Penerbit: Qudsi Media (Grup Relasi Inti Media)
  • Cetakan: 2018
  • Tebal: viii + 128 halaman; 14 x 20 cm
  • ISBN: 978-979-1149-41-9

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak