Beberapa waktu yang lalu, dunia maya viral dengan pemberitaan tentang aktris Aurelie Moeremans yang diduga mengalami child grooming belasan tahun yang lalu. Bermula saat ia mengunggah sebuah buku di laman Instagram pribadinya.
Buku tersebut adalah memoar yang menceritakan pengalaman hidup Aurelie ketika remaja. Aurelie membagikannya secara gratis agar bisa menjadi pelajaran bagi orang-orang yang pernah mengalami hal serupa.
Tidak butuh waktu yang lama, memoar berjudul 'Broken Strings' itu kini telah diakses oleh ribuan orang. Banyak yang merasa relate, dan tidak sedikit yang mengecam pelaku yang terlibat dalam insiden yang dialami oleh Aurelie.
Oleh karena sudah viral, aku juga penasaran dengan isinya. Kupikir, buku setebal 200an halaman tersebut bisa selesai dibaca sekali duduk. Tapi ternyata butuh waktu yang cukup lama untuk menuntaskannya. Beberapa kali aku harus berhenti dan mengambil jeda untuk bisa melanjutkannya lagi karena isinya yang penuh dengan hal-hal yang tidak nyaman. Mulai dari kekerasan seksual, ancaman, penipuan, dipermalukan, dikurung, verbal abuse, kekerasan fisik, hingga Aurelie yang tidak punya kebebasan.
Kali ini, aku hanya ingin mengulas kesan-kesan yang kudapatkan saat membaca memoar ini. Karena sebagian besar pembaca yang aktif di media sosial barangkali sudah ikut membaca atau paling tidak melihat potongan konten yang berseliweran tentang insiden yang dialami Aurelie.
Jika berada di posisinya yang masih belasan tahun, barangkali aku tidak akan sanggup bertahan ketika mengalami semua hal tersebut.
Ia memulai semuanya dengan harapan yang besar tentang kariernya di Indonesia tapi tiba-tiba mimpinya dipadamkan oleh seorang pelaku child grooming. Jauh-jauh Aurelie dan keluarganya pindah dari Belgia ke Indonesia dengan mengorbankan banyak hal, tapi ternyata harus menerima kenyataan pahit bahwa keluarga mereka nyaris hancur gara-gara perlakuan manipulatif seorang lelaki bernama Bobby.
Perasaanku campur aduk. Antara kasihan, ngeri, muak dengan pelaku, dan tak habis pikir bahwa kejahatan yang ada di memoar tersebut ternyata bisa terjadi di dunia nyata. Pasalnya, tokoh Bobby yang dideskripsikan Aurelie biasanya hanyalah tokoh antagonis yang kerap digambarkan pada karya fiksi. Ternyata, dia tidak sekedar tokoh dalam film ataupun novel, tapi dunia nyata memang masih dihuni oleh orang-orang seperti Bobby.
Saat membaca memoar ini, sebenarnya aku agak bingung mengapa di akhir buku ini Aurelie pada akhirnya berani bercerita kepada orang-orang di lokasi syuting tentang semua perlakuan buruk yang ia terima. Sementara itu, bertahun-tahun ia tidak sanggup jujur kepada orang tuanya sendiri.
Padahal seharusnya akan lebih mudah ketika sejak awal ia berani jujur kepada orang terdekat, yakni keluarganya.
Kebingunganku itu terjawab saat mendekati beberapa halaman terakhir sebagaimana yang Aurelie tuliskan di halaman 162 berikut.
"Aku selalu takut untuk menceritakan kebenaran pada mamaku. Bukan karena aku tidak ingin terbuka, tapi karena mamaku selalu meledak duluan. Ia sering bertindak sebelum berpikir, dan aku takut kalau aku memberinya gambaran yang sebenarnya, semuanya justru akan jadi lebih buruk."
Ini bisa menjadi pelajaran bagi para orang tua tentang pentingnya kedekatan dengan anak dan kemauan untuk mendengarkan mereka. Aku pikir, jika seandainya sejak awal Aurelie bisa jujur kepada orang tuanya, masalah yang ia alami barangkali tidak akan seberat itu karena ia punya support system. Sayangnya, ia memilih untuk menyimpannya sendiri hingga semua masalahnya semakin runyam.
Meskipun kisahnya getir dan menyesakkan, namun pada akhirnya Aurelie berhasil mengemas luka masa lalunya menjadi sesuatu yang menginspirasi banyak orang.
Ada satu hal yang cukup menggelitik ketika memoar ini viral. Yakni tentang beberapa netizen yang mencibir Aurelie dengan kecenderungannya memilih bersama pasangan yang problematik. Mengapa ia selalu berpasangan dengan orang yang salah? Mulai dari lelaki yang ia sebut Milo, Tom, Zane, bahkan dengan orang seperti Bobby. Di halaman 200, Aurelie menjelaskan jawabannya sebagaimana berikut.
"Aku terus tertarik pada orang-orang yang memperlakukanku buruk, dan untuk waktu yang lama aku pikir itu hanya kebetulan. Tapi kemudian aku sadar, itu bukan kebetulan sama sekali. Aku terus menarik apa yang kupikir pantas kudapatkan"
Seiring waktu, ia akhirnya belajar bahwa cara orang lain memperlakukannya hanyalah cerminan dari bagaimana ia memperlakukan dirinya sendiri.
Aku jadi teringat dengan apa yang pernah dikatakan oleh Meilinda Sutanto dalam buku berjudul I Do. Yakni tentang apa yang dialami gadis seperti Aurelie ketika ia berkali-kali menjalin hubungan dengan orang yang salah sebelum akhirnya bertemu dengan pasangan yang tepat. Pada dasarnya, hal tersebut adalah mekanisme psikologis seseorang dalam memutus rantai trauma berpasangan. Ia terus menarik seseorang yang salah agar ia bisa menyadari dan mengatasi trauma dan luka batinnya.
Pada akhirnya, Aurelie belajar bahwa cinta bukanlah paksaan atau sesuatu yang mengekang. Ia juga belajar untuk lebih mencintai dirinya sendiri.
"Cinta bukan sesuatu yang kamu dapat setelah cukup menderita. Bukan sesuatu yang diberikan ketika kamu cukup diam atau cukup baik. Cinta dimulai dari dirimu. Begitu aku memahaminya, segalanya mulai berubah". (Halaman 200)