Pernahkah Anda merasa bahwa hubungan akan jauh lebih tenang jika kita berhenti mempermasalahkan hal-hal kecil? Perasaan itulah yang dibawa oleh Bernadya dalam lagu barunya yang berjudul "Kita Buat Menyenangkan".
Rilisan ini langsung menarik perhatian pendengar karena menghadirkan nuansa emosional yang dekat dengan pengalaman banyak orang. Lagu ini terasa seperti pengingat bahwa cinta bukan soal kesempurnaan, melainkan soal saling menerima. Melalui lagu ini, Bernadya menggambarkan bagaimana cinta tidak selalu perihal kisah manis, tetapi juga tentang penerimaan dan kesadaran bahwa waktu bersama seseorang tidak pernah benar-benar pasti.
Pada awal lagu, Bernadya menulis, "Dari kini serahkan semua ujungnya pada takdir, jika beruntung maka kisah ini tak akan berakhir." Lirik ini terasa seperti bentuk kepasrahan yang paling jujur. Ada harapan kecil yang masih disimpan, tetapi ada pula rasa takut bahwa hubungan ini bisa saja selesai meski kita sudah berusaha sekuat mungkin.
Kadang-kadang, kita memang sampai pada titik di mana kita sadar bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Kita hanya bisa menjalani dan berharap semesta masih memberikan kesempatan.
Kemudian, Bernadya menyuarakan sesuatu yang sering terjadi dalam hubungan, "Untuk sejenak, kumohon berhenti perdebatkan yang tak penting."
Ini seperti pengingat bahwa banyak hubungan tidak runtuh karena masalah besar, melainkan karena hal-hal kecil yang terus dipermasalahkan sampai cinta ikut terkikis perlahan. Saat kita terlalu sibuk mencari siapa yang benar, kita lupa bahwa hubungan bukan tentang kemenangan, melainkan tentang bertahan bersama.
Lalu, ada bagian yang terasa hangat sekaligus dewasa, "Kita berdamai, berjabat tangan, tertawakan yang tak bisa dibenahi."
Lirik ini menggambarkan bahwa cinta bukan soal memperbaiki semuanya sampai sempurna, melainkan tentang menerima bahwa ada hal-hal yang memang tidak bisa diubah dan kita hanya perlu belajar berdamai dengannya.
Salah satu bagian paling emosional adalah ketika Bernadya bertanya, "Anggap saja besok ini semua hilang, cerita seperti apa yang mau kau kenang?" Kalimat ini seperti tamparan pelan.
Kita sering merasa memiliki banyak waktu, padahal kenyataannya tidak ada yang benar-benar pasti. Jika semuanya berakhir besok, apakah yang ingin kita ingat adalah pertengkaran, atau momen kecil saat kita masih saling memaafkan?
Chorus lagu ini terasa seperti permohonan sederhana, "Kita buat menyenangkan, di sisa waktu yang ada." Kata “sisa” terdengar menyakitkan karena seolah-olah Bernadya mengingatkan bahwa waktu bersama tidak selalu panjang.
Ia juga menyanyikan, "Jika ada yang salah, jika kau kecewa, tolong maafkan."
Lirik ini bukan hanya tentang meminta maaf, melainkan tentang ketulusan untuk menjaga hubungan agar tidak habis karena kekecewaan yang dipendam.
Pada bait (verse) berikutnya, lagu ini semakin terasa rapuh. Ini menggambarkan ketakutan yang jarang kita ucapkan; bahwa hidup bisa berubah kapan saja dan seseorang bisa pergi tanpa aba-aba.
"Tiada yang tahu pasti, mungkin dalam hitungan hari semua berhenti."
Namun, di tengah rasa takut itu, Bernadya memilih untuk bersyukur, sebab sering kali manusia baru menyadari betapa berharganya seseorang ketika waktu hampir habis.
"Sebelum terlambat kuucapkan banyak terima kasih."
Lagu "Kita Buat Menyenangkan" menjadi pengingat bahwa cinta bukan hanya tentang kebahagiaan, melainkan juga tentang memilih damai, menerima kekurangan pasangan, dan menghargai waktu yang masih ada. Bernadya kembali dengan rilisan baru yang terasa sederhana, tetapi emosinya sangat dalam dan nyata.
Setelah mendengar lagu baru ini, apakah Anda juga merasa bahwa ini adalah pengingat untuk bersikap lebih lembut kepada orang yang masih ada di samping Anda hari ini?