Sebagai makhluk sosial, manusia memang tidak pernah benar-benar hidup dalam isolasi. Sejak lahir, kita tumbuh dalam jejaring relasi: keluarga, teman, hingga lingkaran profesional. Semua interaksi itu berdiri di atas satu kebutuhan dasar manusia: keinginan untuk diterima, divalidasi, dan dianggap ada. Kita rela melakukan apa saja agar tidak ditolak, agar dianggap cukup, dan agar tetap memiliki tempat dalam kelompok.
Namun, justru karena besarnya keinginan untuk diterima itu, kita sering kali tanpa sadar mengkhianati diri sendiri. Kita menekan keinginan pribadi, membungkam emosi yang meledak di dalam, dan mengadopsi mimpi orang lain sebagai mimpi kita. Tanpa sadar, pondasi jati diri kita menjadi rapuh karena ia dibangun di atas persetujuan orang lain, bukan di atas kejujuran batin kita sendiri.
Kehilangan jati diri sering kali terjadi tanpa ledakan besar; ia memudar perlahan-lahan karena kita terlalu sibuk memakai topeng demi menyenangkan dunia di luar sana. Tapi ketika kita justru menggunakan seluruh energi hanya untuk membohongi perasaan sendiri demi label "baik-baik saja", dampaknya bisa menghancurkan kesehatan mental secara perlahan. Kehampaan itu muncul bukan karena kita gagal secara materi atau prestasi, melainkan karena runtuhnya rasa percaya pada nurani yang selama ini kita abaikan demi kepentingan orang lain.
Lewat buku Mengenal Diri Sendiri karya Eka Silvana ini seolah datang sebagai cermin jernih bagi kita yang merasa tersesat dalam rimba ekspektasi orang lain. Di saat dunia menuntut kita untuk menjadi segalanya bagi semua orang, buku ini justru mengajak kita berhenti sejenak dan bertanya dengan jujur: "Siapakah aku saat tidak ada seorang pun yang melihat?"
Gaya penulisan Eka Silvana lugas, sederhana, dan sangat mudah dipahami. Ia tidak memosisikan diri sebagai seorang ahli psikologi yang memberikan teori kaku, melainkan sebagai teman bagi pembaca. Pembaca diajak untuk tidak lagi berpura-pura, mengakui rasa lelah sebagai sesuatu yang valid, dan memberikan ruang bagi diri sendiri untuk bernapas tanpa beban penilaian dari mata orang lain.
Melalui buku Mengenal Diri Sendiri, Eka Silvana mengajak pembaca menyadari satu hal penting: kamu tidak boleh membiarkan dirimu hilang. Tulisan-tulisan yang disajikan merupakan perjalanan penulis yang juga tengah berjuang memahami lukanya sendiri. Buku ini membuka mata kita bahwa sering kali kita begitu takut kehilangan orang lain, sampai kita benar-benar lupa bahwa kehilangan diri sendiri jauh lebih menakutkan dan menyakitkan.
Salah satu pesan kuat yang ditekankan dalam buku ini adalah pentingnya menjaga integritas diri. Penulis menyampaikan sebuah refleksi tajam mengenai betapa mahalnya harga sebuah kejujuran pada diri sendiri. Jika kita terus-menerus menukar jati diri kita dengan pandangan orang lain, pada akhirnya kita mungkin akan memiliki dunia, namun kita kehilangan jiwa kita sendiri.
Penulis juga menyelipkan pesan tentang ketangguhan yang realistis. Ada sebuah kutipan yang sangat membekas: “Rahasia sukses itu tidak ada. Kalaupun ada, cuma dua: pertama, bertahan sampai akhir dan jangan menyerah. Kedua, kalau kamu mau menyerah, kamu harus balik lagi ke rahasia pertama.” Kalimat ini menggambarkan bahwa mengenal dan menerima diri bukanlah sebuah perlombaan, melainkan proses bertahan untuk tetap menjadi asli di tengah dunia yang penuh kepalsuan.
Proses pengenalan diri biasanya tidak terjadi dalam semalam. Ia tumbuh dari keberanian untuk jujur pada apa yang dirasakan, dari kemauan untuk mendengarkan suara hati di tengah kebisingan dunia, dan dari penerimaan atas segala kekurangan yang kita miliki. Kita merasa utuh bukan saat kita berhasil menjadi sempurna, melainkan saat kita mulai merasa aman dan nyaman menjadi diri sendiri.
Buku ini tidak hanya berisi keluhan tentang betapa beratnya hidup, namun menekankan bahwa pemulihan jati diri adalah proses yang mungkin meski tidak instan. Ia mengajak pembaca untuk berhenti menyalahkan masa lalu. Menjadi orang yang terlalu sering "mengalah" bukan berarti kita lemah; sering kali itu hanya berarti kita pernah sangat tulus. Memaafkan diri sendiri dan perlahan menetapkan batasan yang sehat menjadi bagian penting dari perjalanan pulang.
Lebih jauh, buku ini mengajak kita refleksi: apakah kita sudah cukup adil pada diri sendiri?
Mengenal Diri Sendiri adalah bacaan diperuntukkan bagi siapa pun yang merasa lelah dengan tuntutan luar. Buku ini mengingatkan bahwa mencari jati diri memang penuh liku, tetapi hidup tidak boleh berhenti pada kepura-puraan. Menjadi diri sendiri mungkin butuh waktu, tetapi itu adalah satu-satunya jalan menuju ketenangan.
Identitas Buku:
Judul: Mengenal Diri Sendiri
Penulis: Eka Silvana
Penerbit: Anak Hebat Indonesia
Tahun Terbit: 2023
Halaman: 182 hlm
ISBN: 978-623-400-748-0