The Shark Caller karya Zillah Bethell merupakan novel fantasi berlatar bentang alam Papua Nugini yang menjadi salah satu bacaan paling unik yang pernah saya temui. Di awal buku, pembaca disuguhi daftar istilah bahasa Tok Pisin, gabungan bahasa Inggris dan bahasa lokal, sehingga tidak membingungkan. Ditambah peta menarik Desa Blue Wing, pengalaman membaca terasa seperti sedang diajak berwisata langsung ke wilayah pesisir yang eksotis.
Keunggulan utama novel ini terletak pada deskripsinya yang sangat detail. Gambaran laut, pantai, gua, hingga kehidupan masyarakat desa ditulis begitu hidup, membuat saya seolah ikut menyusuri alam Papua Nugini selama sehari penuh.
Sinopsis Singkat
Cerita dibuka dengan prolog tentang tokoh utama, Blue Wing, seorang gadis kecil yatim piatu yang diasuh oleh Siringgen, pemanggil hiu yang disegani. Blue Wing memiliki satu tujuan besar: menjadi pemanggil hiu.
Bagian Pertama
Bagian ini dimulai dengan aksi Blue Wing yang menggagalkan pembunuhan hiu yang ditangkap Siringgen untuk hiburan turis asing. Kehidupan desa yang semula tenang berubah sejak kedatangan Profesor Hamelin dari Amerika bersama putrinya, Maple, yang akan tinggal sementara untuk meneliti terumbu karang.
Sejak awal, Blue Wing merasa tidak suka pada Maple. Kepribadian mereka bertolak belakang: Blue Wing tumbuh di desa dengan cara hidup tradisional, sementara Maple berasal dari kota besar. Pertengkaran sering terjadi, tetapi seiring waktu keduanya mulai saling memahami. Maple pun menyimpan luka mendalam karena ibunya baru saja meninggal.
Di bagian ini, mereka menjelajahi tempat-tempat misterius seperti tambang tembaga tua, gua, dan meriam peninggalan Perang Dunia II. Pada akhir bagian pertama, terungkap alasan terbesar kebencian Blue Wing: orang tuanya mati dimakan hiu bernama Xok. Namun, Siringgen menolak mengajarkan ilmu pemanggil hiu jika hanya dipakai untuk balas dendam.
Bagian Kedua
Bagian kedua memperkenalkan ketua adat yang menyebalkan beserta putranya, Moses, yang bersikap semena-mena pada warga. Konflik sosial mulai terasa lebih kuat. Di sisi lain, muncul sosok penyihir bernama Chimera yang tinggal di gua dan konon bisa memanggil roh. Maple terus memohon agar arwah ibunya dipanggil, tetapi Chimera selalu menolak.
Terungkap pula alasan Siringgen mengasuh Blue Wing: ia ternyata memiliki keterkaitan dengan kematian orang tua gadis itu. Sementara itu, Profesor Hamelin semakin mencurigakan. Berbagai dokumen dan peninggalan perang Jepang ditemukan, mengarah pada dugaan bahwa sang profesor tidak sekadar meneliti terumbu karang, melainkan mencari sesuatu yang lebih besar.
Konflik memuncak ketika tujuan asli Profesor Hamelin terbongkar: ia memburu harta karun dari bangkai pesawat Jepang. Rahasia ini memicu pertengkaran besar antara Maple dan ayahnya, sekaligus merusak hubungan Maple dan Blue Wing yang sempat membaik.
Bagian Ketiga
Profesor Hamelin akhirnya berhasil menemukan bangkai pesawat perang Jepang bersama Maple dan Blue Wing, tetapi dokumen penting di dalamnya telah hancur. Dalam perjalanan itu, Blue Wing bertemu langsung dengan Xok. Kesempatan membunuh hiu tersebut ada di depan mata, namun konflik batin membuat Blue Wing mulai melihat Xok bukan sekadar monster, melainkan makhluk yang juga menyimpan luka dan ketakutan.
Pada akhirnya, Blue Wing memilih memaafkan. Keputusan itu menjadi titik balik besar yang menutup luka masa lalunya dan membebaskan dendam yang menjadi tujuan hidupnya.
Plot twist dalam novel ini terasa mengejutkan tetapi tetap masuk akal karena sejak awal penulis sudah menyisipkan petunjuk-petunjuk kecil secara halus.
Kelebihan dan Kekurangan Novel
Selain petualangan, novel ini menyampaikan pesan tentang kerusakan alam akibat tambang, keserakahan manusia yang membahayakan hiu, serta pentingnya berdamai dengan masa lalu.
Selain tema sosial dan emosional, novel ini juga secara implisit menawarkan eksplorasi ekologi. Latar laut dan terumbu karang Papua Nugini yang digambarkan dengan detil tidak hanya menjadi latar estetis, tetapi juga mewakili ekosistem yang rapuh dan terancam.
Kehadiran hiu Xok dan ancaman terhadap populasinya mencerminkan dampak manusia terhadap alam, khususnya penurunan jumlah hiu akibat penangkapan berlebihan dan gangguan lingkungan. Dengan cara ini, pembaca diajak untuk menyadari hubungan antara manusia dan ekosistem laut, sekaligus memahami pentingnya konservasi dan keberlanjutan lingkungan.
Namun menurut saya, bagian kedua terasa sedikit melambat karena konflik utamanya kurang kuat dan lebih banyak diisi percakapan serta deskripsi. Meski begitu, keseluruhan cerita tetap menarik dan memberikan pengalaman membaca yang menyenangkan.
Identitas Buku
- Judul: The Shark Caller
- Penulis: Zillah Bethell
- Penerbit: Bhuana Ilmu Populer
- Tahun terbit: 2021
- ISBN: 978-623-04-0753-6
- Genre: Fantasi, Petualangan, Coming of Age