Nyi Sadikem: Menguak Rahasia Tradisi Gowok dan Keteguhan Perempuan Jawa

Hayuning Ratri Hapsari | Taufiq Hidayat
Nyi Sadikem: Menguak Rahasia Tradisi Gowok dan Keteguhan Perempuan Jawa
Nyi Sadikem karya Artie Ahmad. (instagram.com/artieahmad21)

"Seorang gowok terlatih untuk membantu para pemuda mempersiapkan diri memasuki dunia pernikahan." Kutipan ini membuka tabir tentang sebuah tradisi Jawa kuno yang mungkin kini hampir terlupakan.

Gowok bukanlah sekadar profesi; ia adalah perempuan dewasa yang menjadi mentor bagi para pemuda "hijau" agar matang dalam menjalani peran sebagai suami dan kepala rumah tangga. Namun, di balik peran sebagai pengajar nilai dan kematangan tersebut, tersimpan kisah-kisah perempuan yang luar biasa pelik.

Sinopsis: Tiga Nama, Tiga Kehidupan

Novel karya Artie Ahmad ini berpusat pada kehidupan Elizabeth van Kirk, seorang perempuan berdarah campuran Nusantara-Eropa. Memiliki kulit putih dan paras cantik layaknya boneka porselen, Elizabeth justru menyimpan luka mendalam terkait identitasnya. Perjalanan hidupnya adalah sebuah metamorfosis yang diwakili oleh tiga nama: Elizabeth van Kirk, Moerni, dan akhirnya Nyi Sadikem.

Lahir dari seorang ayah Belanda yang memperlakukan perempuan sebagai pelengkap status, Elizabeth harus menghadapi pahitnya sistem pergundikan dan pernikahan politis di masa kolonial. Setelah mengalami rangkaian pengkhianatan dan kekejaman, ia melarikan diri dan bertemu Mak Miat, seorang dukun beranak yang memberinya nama Moerni. Namun, luka hidup belum berhenti di sana. Nasib membawanya pada sebuah pilihan hidup yang tidak biasa di Temenggungan: menjadi seorang gowok dengan identitas baru, Nyi Sadikem.

Identitas di Tengah Penindasan

Nama Nyi Sadikem sendiri lahir dari pertemuan Moerni dengan Ndara Poerboningrat, seorang bangsawan yang memberinya nama tersebut sebagai bentuk penghormatan pada pengasuh masa kecilnya. Di fase inilah ia mencapai kejayaannya. Namanya harum hingga para orang tua memercayakan anak-anak mereka untuk belajar kepadanya.

Melalui tokoh Nyi Sadikem, kita diajak memahami betapa menyesakkannya menjadi perempuan di masa itu. Ia menunjukkan bahwa seorang gowok bukanlah sekadar bagian dari budaya mekanis, melainkan individu yang berjuang dengan perasaan batin dan kewajiban moral di tengah sistem kelas sosial yang timpang. Kekuatan utama novel ini terletak pada keteguhan sang tokoh; meski didera penderitaan beruntun, ia memilih untuk tetap berdiri tegak dan hidup atas pilihannya sendiri.

Tempo Cepat dan Detail Tradisional

Artie Ahmad mengemas kisah ini dengan tempo yang cepat namun penuh detail. Setiap konflik datang silih berganti seolah tidak memberi napas bagi sang tokoh untuk beristirahat. Meskipun bahasanya sederhana, nuansa Jawa tradisional yang kental membuat atmosfer cerita terasa sangat hidup dan dekat.

Buku ini menjadi jendela langka bagi pembaca untuk mengenal tradisi gowok yang sering kali disalahpahami. Artie berhasil memotret sisi lain budaya Jawa yang kaya makna sekaligus memperlihatkan ketidakadilan gender yang nyata di era kolonial.

Bagi Anda yang tertarik pada isu ketimpangan gender, kelas sosial, dan sejarah lokal, Nyi Sadikem adalah pilihan yang sangat tepat. Ini adalah pengalaman membaca yang menyentuh sekaligus memberikan wawasan baru tentang bagaimana perempuan di masa lalu bernegosiasi dengan nasib mereka. Jika menyenangkan sebarkan, jika tidak, beri tahu!

Identitas Buku:

  • Judul: Nyi Sadikem: Sebuah Novel
  • Penulis: Artie Ahmad
  • Penerbit: Marjin Kiri
  • Tahun Terbit: 2025
  • Jumlah Halaman: 220 Halaman
  • Jenis Buku: Fiksi Sejarah / Novel Kajian Perempuan

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak