Bukan Cinderella: Pernikahan Beda Kasta yang Tak Semanis Dongeng

Lintang Siltya Utami | Chairun Nisa
Bukan Cinderella: Pernikahan Beda Kasta yang Tak Semanis Dongeng
Novel Bukan Cinderella. [Doc Pribadi/Chairun Nisa]

Bukan Cinderella adalah novel roman karya Ifa Avianty yang menghadirkan kisah manis dan hangat meskipun mengangkat tema yang cukup mainstream, yaitu pernikahan beda kelas sosial. Namun, novel ini tidak terasa sekadar klise karena penulis berhasil menjadikannya panggung kehidupan yang realistis: takdir yang dipertemukan melalui perjodohan, lalu dimainkan oleh doa serta usaha dari masing-masing tokohnya.

Sinopsis

Novel ini terbagi ke dalam lima chapter, diawali dengan prolog akad nikah seorang gadis desa bernama Laili dengan seorang pria ningrat pewaris keluarga kaya bernama Mahendra. Sejak awal, pembaca sudah disuguhkan gambaran pernikahan yang terasa kaku dan canggung karena tidak didasari cinta.

Kehidupan rumah tangga mereka digambarkan sangat “kering”, penuh jarak, dan jauh dari gambaran pasangan suami istri pada umumnya. Pernikahan ini terjadi karena perjodohan, namun bukan paksaan sepenuhnya. Setelah lulus kuliah, Mahendra sebagai pewaris bisnis keluarga diwajibkan menikah terlebih dahulu.

Laili sendiri adalah gadis yatim piatu yang hidup sederhana. Ia bekerja serabutan, mulai dari menjahit, berjualan kue, hingga membantu katering. Karena dikenal baik dan disayangi ibu Mahendra, Laili akhirnya diajukan sebagai calon menantu. Menariknya, Laili berusia sekitar lima tahun lebih tua dari Mahendra.

Seiring waktu, Laili mulai jatuh cinta lebih dulu kepada suaminya, meski Mahendra masih tampak dingin dan menjaga jarak. Dalam hubungan ini, Mahendra digambarkan seperti pria manja yang tidak terbiasa mandiri. Bahkan saat sakit, ia seperti “anak kecil” yang makan pun harus disuapi.

Keduanya sama-sama menahan diri. Ketika menghadiri pesta keluarga besar, Laili sering merasa tidak nyaman karena tidak paham etiket keluarga ningrat, bahkan soal cara makan dan cara membawa diri. Selera humor mereka pun berbeda: hal yang dianggap lucu oleh Mahendra justru sering menyakitkan bagi Laili. Ia hampir depresi jika tidak ada sosok ibu mertua yang sangat baik dan selalu melindunginya.

Laili seperti “Upik Abu” yang dipaksa masuk ke dunia bangsawan tanpa tahu bagaimana memakai “sepatu Cinderella”. Di sisi lain, Mahendra mengalami semacam Peter Pan Syndrome, yaitu pribadi dewasa yang terbiasa dimanja dan tidak ingin bertanggung jawab sepenuhnya. Sedangkan Laili memiliki Cinderella Syndrome, berharap diselamatkan oleh pangeran yang mampu mengubah hidupnya. Dua karakter ini bertolak belakang, namun justru menjadi inti konflik batin dalam rumah tangga mereka.

Mahendra juga melarang Laili bekerja sebagai tukang katering karena dianggap memalukan bagi seorang istri direktur utama. Bahkan saat Laili ingin bekerja sebagai penerjemah di penerbitan buku, ia tetap dilarang. Namun perlahan, pembaca mulai sadar bahwa larangan itu muncul karena Mahendra diam-diam mulai jatuh cinta dan takut kehilangan Laili.

Kehidupan rumah tangga yang awalnya datar akhirnya berkembang menjadi cinta yang tumbuh pelan-pelan: dari kebiasaan kecil, perhatian sederhana, hingga akhirnya Laili berhasil hamil.

Namun kebahagiaan itu diuji ketika Laili mengalami diabetes melitus tingkat tinggi. Di saat yang sama, konflik baru muncul karena kehadiran sepupu Mahendra, yaitu Tri, yang dulu pernah memiliki hubungan dengannya. Masa lalu kembali hadir dan mulai mengusik rumah tangga mereka.

Mahendra berusaha menyingkirkan godaan itu, tetapi situasi semakin rumit ketika Laili sama sekali tidak menunjukkan rasa cemburu. Mahendra pun merasa ragu pada perasaan istrinya, hingga akhirnya memicu ujian besar dalam hubungan mereka.

Salah satu momen penting terjadi ketika Mahendra pergi ke Bandung, dan Laili nekat menyusulnya sendirian dengan kemampuan menyetir seadanya, menerobos malam dan perjalanan tol. Di sinilah Laili akhirnya berani bersikap tegas. Pertengkaran kecil terjadi, namun justru menjadi titik balik yang memperkuat hubungan mereka.

Kelebihan Novel

Kelebihan utama novel ini adalah suasananya yang romantis namun tidak berlebihan. Konfliknya tidak dibuat terlalu dramatis, tetapi tetap membuat pembaca ikut tegang karena takut penulis tiba-tiba menghadirkan plot twist menyakitkan. Romansa yang dibangun pun terasa “aman” karena cinta di sini lahir dari ikatan pernikahan, bukan dari pacaran yang berpotensi mengarah pada hal negatif. Novel ini juga menyelipkan banyak nasihat tentang rumah tangga, kesetiaan, godaan perselingkuhan, serta dilengkapi kutipan-kutipan bermakna dengan catatan kaki yang membuatnya terasa lebih berbobot.

Kekurangan Novel

Kekurangan yang cukup mengganggu adalah penggunaan tanda titik tiga (...) yang terlalu sering untuk mengekspresikan emosi tokoh. Selain itu, ada banyak kutipan lagu berbahasa Inggris yang ditulis miring dan berukuran kecil, sehingga beberapa bagian terasa kurang penting dan cenderung membuat pembaca ingin melewatinya.

Identitas Buku

  • Judul: Bukan Cinderella
  • Penulis: Ifa Avianty
  • Penerbit: Naurabooks
  • Cetakan: 1 (Februari 2015)
  • Halaman: 320 halaman
  • ISBN: 978-602-1606-87-2

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak