Kitchen Karya Banana Yoshimoto: Menemukan Harapan di Tengah Kehampaan

Lintang Siltya Utami | Taufiq Hidayat
Kitchen Karya Banana Yoshimoto: Menemukan Harapan di Tengah Kehampaan
Kitchen Karya Banana Yoshimoto. (Dok.Pribadi/Taufiq)

Pertama kali terbit pada 1988, Kitchen karya Banana Yoshimoto telah menjadi tonggak penting dalam sastra Jepang kontemporer. Melalui gaya penulisan yang ringan namun sarat makna, Yoshimoto mengajak kita menyelami keseharian yang penuh keajaiban di tengah duka. Buku ini merangkum dua kisah emosional, "Kitchen" dan "Moonlight Shadow," yang memotret bagaimana manusia bertahan hidup setelah kehilangan orang-orang terkasih.

Dapur sebagai Pelarian dan Pemulihan

Kisah pertama memperkenalkan kita pada Mikage Sakurai, seorang wanita muda yang mendadak yatim piatu setelah neneknya meninggal dunia. Di tengah kehampaan yang suram, Mikage menemukan kenyamanan ganjil pada suara dengung kulkas dan suasana dapur. Dapur baginya adalah simbol kehidupan; tempat di mana ia bisa menatap kematian tanpa rasa takut.

Kesedihan Mikage perlahan luruh saat ia diajak tinggal bersama Yuichi Tanabe dan ibunya, Eriko. Uniknya, Eriko adalah seorang transgender yang sangat cantik dan mempesona. Selama enam bulan tinggal bersama keluarga unik ini, Mikage mengabdi sebagai juru masak. Aktivitas memasak inilah yang menjadi terapi bagi jiwanya hingga ia mampu menata hidup kembali.

Filosofi Duka dan Identitas yang Ambigu

Namun, roda nasib kembali berputar. Eriko menjadi korban pembunuhan oleh seorang penguntit yang marah atas status transgendernya. Giliran Mikage yang kini harus menguatkan Yuichi. Salah satu momen paling hangat adalah saat Mikage rela menembus malam musim dingin demi mengirimkan makanan untuk Yuichi.

Menariknya, ada sisi kritis yang patut direnungkan. Yoshimoto seolah bermain dengan ambiguitas identitas Eriko. Melalui surat wasiatnya, Eriko justru bersikap seolah ia tetaplah seorang laki-laki di balik tampilan perempuannya. Hal ini memunculkan pertanyaan filosofis: apakah duka yang teramat dalam bisa mengubah manusia menjadi "sosok lain"? Ataukah fitrah manusia sebenarnya tidak akan pernah hilang meski identitas fisiknya berubah?

Moonlight Shadow: Pertemuan di Ambang Batas

Kisah kedua, Moonlight Shadow, memiliki atmosfer yang lebih gloomy dan sendu. Menceritakan Satsuki yang kehilangan kekasihnya, Hitoshi, dalam sebuah kecelakaan. Di sisi lain, ada Hiiragi (adik Hitoshi) yang juga berduka hingga kerap memakai rok milik kekasihnya yang sudah meninggal.

Duka mereka digambarkan dengan sangat puitis, terutama saat Satsuki bertemu sosok misterius bernama Urara di tepi sungai. Jembatan di atas sungai tersebut menjadi simbol penghubung antara kenyataan dan khayalan, tempat Satsuki bisa melepas rindu pada bayangan masa lalu sebelum akhirnya belajar untuk merelakan.

Menerima Takdir demi Terus Berjalan

Kitchen bukan sekadar buku tentang kematian, melainkan tentang keberanian untuk terus hidup di tengah depresi. Yoshimoto mengajarkan bahwa nasib adalah tangga yang harus dipijak satu per satu tanpa melewati anak tangganya. Kelebihan novel ini terletak pada kelembutan bahasanya yang mampu membuat pembaca merasa dekat dengan setiap karakternya.

"Aku bahagia karena bisa menderita." Kalimat ini mengingatkan kita bahwa putus asa justru membantu kita mengenali apa yang sebenarnya membuat kita gembira. Bagi pecinta sastra Jepang atau siapa pun yang sedang mencari penyembuhan lewat kata-kata, Kitchen adalah pengalaman membaca yang sangat memikat hati.

Identitas Buku:

  • Judul: Kitchen (Dapur)
  • Penulis: Banana Yoshimoto
  • Penerbit: Penerbit Haru
  • Tahun Terbit: 2021 (Pertama kali dalam Bahasa Indonesia)
  • Jumlah Halaman: 224 halaman
  • ISBN: 9786237351689
  • Genre: Fiksi / Novella / Sastra Jepang 

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak