"Kau tak bisa pensiun dari perjuangan atau keterlibatan." Kutipan dari Leila Khaled ini bukan sekadar kata-kata, melainkan cerminan hidupnya.
Melalui buku biografi karya Sarah Irving, kita diajak menyelami jejak langkah salah satu ikon paling fenomenal dalam sejarah kemerdekaan Palestina. Namun, sebelum masuk ke inti perjuangan Leila, Irving membawa kita kembali ke tahun 1854 di Haifa untuk memahami akar masalah yang sebenarnya.
Pergeseran Demografi dan Konflik di Haifa
Dulu, Haifa adalah rumah bagi komunitas yang sangat beragam dan harmonis. Namun, sejak tahun 1920-an, arus migrasi yang didukung oleh organisasi Zionis mengubah drastis lanskap demografi di sana.
Ketegangan demi ketegangan memuncak pada rentetan insiden pengeboman dan serangan balasan antara tahun 1939 hingga 1947 yang melibatkan kelompok militan seperti Irgun dan Haganah. Puncaknya pada tahun 1948, ribuan warga Palestina terpaksa mengungsi demi keselamatan nyawa mereka, termasuk Leila kecil dan keluarganya.
Perspektif Politik Kiri dan Simbol Perlawanan
Satu poin penting yang ditekankan Sarah Irving adalah bahwa konflik Palestina-Israel jauh lebih kompleks daripada sekadar isu agama. Irving menyoroti andil besar organisasi sayap kiri dalam perjuangan ini.
PFLP (Popular Front for the Liberation of Palestine), tempat Leila bernaung, mengadopsi semangat revolusi ala Che Guevara. Memahami perjuangan Palestina melalui kacamata politik kiri menjadi kunci untuk melihat dimensi perlawanan yang lebih luas.
Nama Leila mendunia setelah aksi pembajakan pesawat pada 29 Agustus 1969 di Damaskus. Di era ketika komunikasi belum secanggih sekarang, pembajakan pesawat dianggap sebagai metode "paling efektif" untuk menarik perhatian internasional terhadap penderitaan rakyat Palestina. Meski sukses besar dan menjadikannya ikon media, popularitas ini sempat menjadi kendala bagi Leila dalam menjalankan misi-misi berikutnya.
Gender dan Definisi Terorisme
Buku ini juga membedah isu gender yang dihadapi para pejuang perempuan. Pemikiran Leila menjelaskan bahwa konsep feminisme dan perdamaian bagi perempuan Palestina memiliki konteks yang berbeda dengan perempuan di negara merdeka. Baginya, pembebasan bangsa adalah fondasi utama bagi hak-hak perempuan.
Momen yang paling menggugah adalah ketika Leila diinterogasi oleh penjaga keamanan Israel saat ingin kembali ke Haifa. Ketika dituduh sebagai teroris yang anti-perdamaian, Leila menjawab dengan tajam: "Perdamaian terjadi ketika kalian tidak menginterogasi kami untuk masuk ke rumah kami sendiri."
Jawaban ini menantang kita semua untuk merenungkan kembali definisi "teroris". Apakah seseorang yang mengangkat senjata untuk mempertahankan hak dan rumahnya layak dilabeli demikian?
Sarah Irving berhasil menyajikan data yang memadai untuk mengurai benang kusut konflik Palestina serta dinamika internal organisasi perjuangannya. Buku ini adalah bacaan wajib bagi siapa pun yang ingin memahami Palestina secara lebih utuh, melampaui slogan-slogan yang sering kita dengar di permukaan.
Identitas Buku:
- Judul: Leila Khaled: Kisah Pejuang Perempuan Palestina
- Pengarang: Sarah Irving
- Penerbit: Marjin Kiri
- Penerjemah: Pradewi Tri Chatami
- Tahun terbit: Februari 2015
- Tebal: vii + 198