Bagi sebagian orang, makanan hanyalah bahan bakar untuk tubuh. Namun bagi Lucy Knisley, setiap suapan adalah koordinat peta dalam sejarah hidupnya. Dalam Relish, Knisley tidak hanya berbagi resep, ia berbagi jiwanya yang dibentuk di atas meja makan, di sela-sela aroma bawang putih yang ditumis, dan di tengah keramaian pasar petani.
Novel ini dimulai dengan latar belakang keluarga Lucy yang sangat "food-centric". Ibunya adalah seorang koki dan pengelola pasar tani, sementara ayahnya adalah seorang pencinta makanan (gourmet) yang perfeksionis. Sejak kecil, Lucy tidak diberi makan "makanan bayi" yang hambar, tapi ia diperkenalkan pada keju berjamur, jamur liar, dan sayuran segar yang langsung dipetik dari tanah.
Knisley menggambarkan masa kecilnya di pedesaan New York dengan nada yang nostalgik namun jujur. Ia menceritakan bagaimana perceraian orang tuanya berdampak pada hidupnya, namun tetap ada satu benang merah yang menyatukan mereka, yaitu makanan. Meskipun hidup dalam kesederhanaan di sebuah peternakan, kekayaan rasa yang ia alami melalui masakan ibunya menjadi fondasi bagi karakter kreatifnya di masa depan.
Sebagai seorang ilustrator berbakat, Knisley menggunakan medium novel grafis untuk menyampaikan apa yang seringkali gagal diungkapkan oleh kata-kata, seperti tekstur dan suasana. Garis-garis gambarnya sederhana namun ekspresif, dengan palet warna yang hangat yang membuat pembaca merasa seolah-olah sedang duduk di dapur bersamanya.
Setiap bab dalam buku ini diakhiri dengan halaman resep bergambar. Ini bukan sekadar lampiran resep-resep, ini adalah bagian dari cerita. Mulai dari cara membuat acar hingga resep carbonara yang sempurna, Knisley mengajak pembaca untuk ikut memasak. Visualisasi langkah-langkah memasak ini membuat aktivitas dapur terasa tidak mengintimidasi dan sangat personal.
Knisley mengeksplorasi bagaimana makanan menjadi bahasa kasih sayang. Ia menceritakan perjalanan ke Meksiko dengan temannya di mana mereka berburu taco terbaik, atau perjalanannya ke Venesia bersama ayahnya yang sangat rewel soal kualitas hidangan laut.
Melalui cerita-cerita ini, kita melihat bahwa bagi Knisley, makanan adalah cara dia memahami orang lain. Ia belajar tentang disiplin dari ayahnya melalui standar makanan yang tinggi, dan ia belajar tentang kemandirian serta cinta dari ibunya melalui kebebasan di dapur. Makanan bukan hanya benda mati di piring, melainkan medium komunikasi yang menjembatani jarak emosional antar manusia.
Salah satu bagian paling menarik adalah ketika Knisley menceritakan masa remajanya. Meskipun dibesarkan dengan standar kuliner tinggi, ia tetaplah seorang remaja yang mendambakan makanan cepat saji dan camilan murah. Ada kejujuran yang menyegarkan saat ia mengakui kecintaannya pada kentang goreng McDonald's atau sereal manis, meskipun ia tahu "seharusnya" ia lebih suka makanan organik.
Konflik internal ini menunjukkan bahwa Relish bukan hanya tentang menjadi seorang snob makanan. Ini adalah tentang menghargai kenikmatan dalam segala bentuknya. Knisley mengajarkan bahwa tidak ada rasa malu dalam menikmati makanan yang dianggap "rendah" selama makanan itu memberikan kenyamanan atau kenangan yang berarti.
Seiring bertambahnya usia, Lucy pindah ke Chicago untuk belajar seni. Di sini, ia mengeksplorasi kemandirian kuliner di tengah keterbatasan anggaran mahasiswa. Ia menceritakan pengalamannya bekerja di toko keju, di mana ia harus belajar menghargai aroma dan rasa keju yang kompleks, sebuah metafora bagi kedewasaannya yang juga semakin kompleks.
Perjalanan ini mencapai puncaknya ketika ia menyadari bahwa gairahnya terhadap seni dan makanan tidak harus dipisahkan. Ia bisa menggambar tentang makanan. Relish adalah bukti nyata dari penyatuan dua dunia tersebut.
Relish: My Life in the Kitchen adalah bacaan yang menghangatkan hati dan perut. Lucy Knisley berhasil membuktikan bahwa sejarah hidup seseorang tidak hanya ditulis dalam buku harian, tetapi juga tersimpan dalam indra perasa. Buku ini bukan sekadar memoir, ini adalah pengingat bagi kita semua untuk berhenti sejenak dan benar-benar menikmati apa yang ada di depan kita.
Membaca buku ini akan membuat kamu ingin segera pergi ke dapur, memotong bawang, atau setidaknya memasak makanan favorit kamu sambil merenungkan kenangan apa yang melekat pada rasa tersebut. Ini adalah buku wajib bagi pecinta kuliner, penggemar novel grafis, dan siapa pun yang percaya bahwa kebahagiaan seringkali ditemukan dalam hal-hal sederhana seperti sepotong roti hangat dengan mentega.
Identitas Buku
Judul: Relish: My Life in the Kitchen
Penulis: Lucy Knisley
Penerbit: Macmillan Children's Publishing Group
Tanggal Terbit: 2 April 2013
Tebal: 173 Halaman