Novel Hardem Rhapsody, Dilema Kelas dan Warna Kulit dalam Dinamika Sosial

Sekar Anindyah Lamase | aisyah khurin
Novel Hardem Rhapsody, Dilema Kelas dan Warna Kulit dalam Dinamika Sosial
Novel Harlem Rhapsody (goodreads.com)

Victoria Christopher Murray dikenal luas melalui karya-karya fiksi kontemporernya yang tajam, namun lewat Harlem Rhapsody, ia melakukan lompatan ambisius ke masa lalu. Novel ini merupakan sebuah penghormatan sekaligus eksplorasi mendalam terhadap kehidupan Jessie Fauset, seorang tokoh nyata yang sering dijuluki sebagai "Ibu Baptis Harlem Renaissance". Melalui riset yang teliti dan prosa yang mengalir, Murray menghidupkan kembali dinamika intelektual, romansa terlarang, dan perjuangan kelas di New York pada tahun 1920-an.

Cerita berpusat pada Jessie Fauset, seorang editor sastra di majalah The Crisis yang bekerja bahu-membahu dengan tokoh besar W.E.B. Du Bois. Jessie adalah perempuan kulit hitam yang sangat cerdas, lulusan Cornell, dan fasih berbahasa Prancis. Namun, sejarah sering kali lebih mengingat nama-nama besar pria seperti Langston Hughes atau Countee Cullen, sementara Jessie yang menemukan bakat-bakat tersebut sering kali hanya menjadi catatan kaki.

"Harlem Rhapsody" mengambil sudut pandang Jessie, memberikan suara pada ambisi-ambisinya yang besar, kerinduannya akan cinta, serta dilemanya sebagai perempuan berpendidikan tinggi di tengah masyarakat yang masih memandang rendah ras dan gendernya.

Inti dari ketegangan emosional dalam novel ini adalah hubungan Jessie dengan W.E.B. Du Bois. Murray tidak hanya menggambarkan hubungan profesional mereka, tetapi juga menyelami kedalaman emosional yang jauh lebih kompleks. Ada ketegangan romantis yang membara, pengaguman intelektual yang mendalam, namun juga luka karena status Du Bois sebagai pria berkeluarga.

Murray sangat piawai dalam menggambarkan "cinta yang tak sampai" ini. Ia menunjukkan bagaimana Jessie terjepit di antara kesetiaannya pada pergerakan ras yang dipimpin oleh Du Bois dan keinginan pribadinya untuk memiliki kebahagiaan pribadi. Hubungan ini menjadi cermin bagi perjuangan Jessie untuk diakui, baik sebagai pasangan maupun sebagai intelektual yang mandiri.

Salah satu kekuatan utama buku ini adalah latar belakangnya yang sangat kaya. Murray tidak hanya menggambarkan Harlem sebagai tempat pesta jazz dan dansa. Ia membawa kita ke kantor-kantor redaksi yang penuh asap rokok, ruang-ruang diskusi yang panas, dan ruang tamu elit di mana ide-ide besar tentang "The New Negro" didebatkan.

Kita melihat bagaimana Jessie berjuang untuk memublikasikan karya-karya yang menggambarkan masyarakat kulit hitam yang terpelajar dan berkelas menengah sebuah antitesis dari stereotip rasial yang umum saat itu. Murray menunjukkan bahwa setiap cerpen dan puisi yang diedit Jessie adalah sebuah tindakan perlawanan politik.

Isu colorism (diskriminasi berdasarkan rona kulit) dan kelas sosial dieksplorasi secara sangat subtil namun tajam dalam novel ini. Sebagai perempuan dari keluarga "Old Philadelphia" yang berkulit terang, Jessie memiliki akses yang tidak dimiliki oleh warga kulit hitam lainnya, namun hal itu juga mendatangkan isolasi tersendiri.

Murray menyoroti beban ekspektasi yang dipikul oleh mereka yang dianggap sebagai elit kulit hitam. Ada keharusan untuk selalu tampil sempurna, berbicara dengan tata bahasa yang benar, dan menghindari skandal demi membuktikan kepada dunia bahwa mereka setara dengan kulit putih. Tekanan ini digambarkan melalui konflik batin Jessie yang merasa bahwa ia harus terus-menerus memakai "topeng" demi martabat rasnya.

Gaya penulisan Victoria Christopher Murray dalam novel ini terasa lebih elegan dan puitis dibandingkan karya-karya sebelumnya. Ia mengadopsi diksi yang mencerminkan kecerdasan dan keanggunan Jessie Fauset. Deskripsi tentang suasana New York tahun 1920-an terasa sangat imersif, pembaca bisa hampir mencium bau kopi di kedai-kedai Harlem atau merasakan dinginnya salju di trotoar Manhattan.

Narasi yang digunakan bersifat first-person, membuat pembaca merasa sangat dekat dengan pikiran Jessie. Kita merasakan frustrasinya ketika ide-idenya dicuri, rasa bangganya saat melihat anak didiknya sukses, dan kesepiannya di malam hari saat ia merenungkan pilihan-pilihan hidupnya.

Sebagai karya fiksi sejarah, "Harlem Rhapsody" berhasil menjaga keseimbangan yang sulit antara fakta sejarah dan dramatisasi. Meskipun beberapa bagian hubungan Jessie dan Du Bois mungkin merupakan interpretasi kreatif penulis, dasar sejarahnya tetap kokoh.

"Harlem Rhapsody" bukan sekadar biografi yang difiksikan, ia adalah cerita tentang pengorbanan, integritas, dan kekuatan kata-kata. Novel ini mengingatkan kita bahwa di balik setiap gerakan besar, selalu ada sosok-sosok di belakang layar yang bekerja tanpa lelah, mengorbankan keinginan pribadi mereka demi kemajuan bersama.

Identitas Buku

Judul: Harlem Rhapsody

Penulis: Victoria Christopher Murray

Penerbit: Berkley

Tanggal Terbit: 4 Februari 2025

Tebal: 400 Halaman

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak