Sinopsis Asrama Putri: Horor Nyata Tentang Bullying dan Prostitusi Ilegal

M. Reza Sulaiman | Ryan Farizzal
Sinopsis Asrama Putri: Horor Nyata Tentang Bullying dan Prostitusi Ilegal
Poster film Asrama Putri (instagram/asrama_putri_themovie)

Film Asrama Putri (2026) adalah film horor Indonesia yang disutradarai oleh Wishnu Kuncoro dan diproduksi oleh Adipati Karna di bawah naungan Puras Production. Film ini tayang perdana di bioskop Indonesia pada 19 Februari 2026.

Dengan durasi 93 menit, genre horor drama ini menggabungkan elemen supranatural dengan isu sosial seperti prostitusi ilegal, bullying, dan kesehatan mental di lingkungan kampus. Diangkat dari kisah nyata yang viral di sebuah kampus di Bogor, film ini menjanjikan ketegangan yang memadukan misteri arwah pendendam dengan konflik duniawi yang relevan bagi mahasiswa.

Sinopsis: Munculnya Hantu Pendendam Bernama Sally

Salah satu adegan di film Asrama Putri (instagram/asrama_putri_themovie)
Salah satu adegan di film Asrama Putri (instagram/asrama_putri_themovie)

Cerita berpusat pada kedatangan Mia (Mawar Butterfly), seorang dosen baru yang cantik dan karismatik, di sebuah kampus ternama di Bogor. Kehadirannya bertepatan dengan lonjakan kasus kesurupan massal di kalangan mahasiswi asrama putri. Loly (Nadya Ulya), salah satu korban, mengalami dampak psikologis parah yang membuatnya rentan terhadap gangguan mistis. Gwen (Dea Annisa), teman sekamar Loly, menjadi saksi langsung atas kekacauan ini.

Sementara itu, kampus diguncang oleh praktik prostitusi terselubung yang dijalankan oleh dua pria licik, Miko (Bima Prawira) dan Beny (Surya R Kusumah), yang menjerat para mahasiswi ke dalam lingkaran gelap. Di tengah kekacauan, muncul teror hantu perempuan bernama Sally (Nasywa Auliya), sosok pendendam yang selalu membawa kematian bagi siapa saja yang berhubungan dengannya.

Mia dan Gwen memutuskan untuk menyelidiki lebih dalam. Mereka menemukan buku harian Sally yang mengungkap masa lalu tragisnya: kisah cinta Sally dengan dosen Lazuardi (Samuel Rizal) yang berubah menjadi kebencian mendalam setelah pengkhianatan. Rahasia ini terhubung dengan Liza (Monique Henry), rektor kampus yang tampak misterius dan memiliki kemampuan aneh untuk mengendalikan situasi kesurupan.

Plot semakin mencekam ketika Mia menyadari bahwa dirinya sendiri terlibat dalam lingkaran dendam Sally, memicu klimaks penuh darah dan pengungkapan kejahatan manusia di balik teror gaib. Cerita diakhiri dengan upaya Mia dan Gwen menghentikan kutukan, meski dengan pengorbanan yang mahal.

Dari segi plot, Asrama Putri berhasil memadukan horor klasik Indonesia seperti kesurupan dan hantu pendendam dengan elemen thriller sosial. Namun, alur cerita terkadang terasa tanggung, terutama dalam mengeksplorasi isu prostitusi dan bullying. Potensi adegan vulgar yang bisa memperkuat tema eksploitasi justru dipotong, mungkin karena rilis bertepatan dengan bulan Ramadan, sehingga membuatnya kurang berani.

Elemen so bad it's good muncul dari dialog yang cheesy dan efek visual sederhana, seperti tangan keluar dari tanah atau kesurupan massal yang mirip latihan teater. Meski begitu, film ini menawarkan kritik sosial tajam tentang tekanan di asrama mahasiswa, termasuk mental health yang sering diabaikan.

Ulasan Film Asrama Putri

Salah satu adegan di film Asrama Putri (instagram/asrama_putri_themovie)
Salah satu adegan di film Asrama Putri (instagram/asrama_putri_themovie)

Akting para pemain campur aduk. Mawar Butterfly sebagai Mia tampil menawan dengan senyum karismatik, tetapi karakternya kurang mendalam, lebih seperti trope dosen cantik misterius. Samuel Rizal sebagai Lazuardi membawa nuansa gelap yang meyakinkan, mengingat pengalamannya di film horor sebelumnya seperti Tusuk Jelangkung. Dea Annisa sebagai Gwen tampil solid dalam peran investigator amatir, sementara Nadya Ulya berhasil menyampaikan ketakutan autentik sebagai Loly.

Monique Henry sebagai Liza mencuri perhatian dengan gaya fierce-nya, hampir seperti karakter mutan dengan kemampuan angin. Namun, Bima Prawira dan Surya R Kusumah sebagai antagonis terasa klise dan kurang nuansa. Nasywa Auliya sebagai Sally efektif dalam membangun teror, meskipun penampilannya lebih bergantung pada make-up dan efek suara.

Sinematografi Wishnu Kuncoro cukup atmosferik dengan pengambilan gambar gelap di asrama yang membangun ketegangan psikologis. Nuansa kampus Bogor digambarkan realistis sehingga menambah rasa dekat dengan penonton Indonesia. Sound design kuat dalam adegan kesurupan, meskipun jump scare terkadang mudah diprediksi. Skor musik menambah nuansa mencekam, tetapi terkadang over-the-top seperti FTV horor yang tayang di televisi. Secara keseluruhan, film ini bukan horor murni melainkan campuran drama sosial, menjadikannya unik di tengah banjir film horor Indonesia.

Tema utama film ini adalah balas dendam, baik dari arwah maupun manusia. Film mengangkat isu bullying di asrama yang memicu tragedi, serta eksploitasi seksual yang merusak generasi muda. Hal ini relevan dengan realitas kampus di Indonesia, tempat masalah mental health sering disembunyikan di balik fasad akademik. Meski eksekusi tidak sempurna, pesan tentang pentingnya empati dan keadilan sosial tetap tersampaikan.

Secara keseluruhan, Asrama Putri layak ditonton bagi penggemar horor lokal yang mencari sesuatu di luar formula hantu biasa. Rating pribadi dari saya: 6/10. Kekurangannya ada pada alur yang berantakan dan akting yang terasa amatir di beberapa bagian, tetapi kelebihannya ada pada tema sosial dan teror psikologis yang membuat penonton bergidik. Jika Anda di Surabaya, cek jadwal di XXI atau Cinepolis terdekat. Film ini mengingatkan bahwa teror terbesar bukan selalu dari dunia lain, melainkan dari kegelapan hati manusia.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak