Batas Tipis Kewarasan dalam Novel Perempuan di Dalam Piano

M. Reza Sulaiman | Taufiq Hidayat
Batas Tipis Kewarasan dalam Novel Perempuan di Dalam Piano
Perempuan Di Dalam Piano. Sebuah kisah psikologis kelam tentang trauma, manipulasi ibu, dan batas tipis antara kewarasan serta kegilaan. (Doc.Pribadi/Taufiq)

Terkadang, sebuah buku menarik perhatian kita justru melalui kesunyiannya. Novel Perempuan di Dalam Piano karya Sekar Ayu Asmara adalah salah satu permata tersembunyi yang mungkin jarang dibicarakan, namun menyimpan aura mistis yang kuat sejak pandangan pertama pada sampulnya.

Bagi penikmat sinema, nama Sekar Ayu Asmara tentu tidak asing sebagai sosok di balik ide cerita film Pintu Terlarang. Dalam novel ini, ia kembali mengajak kita menelusuri lorong gelap psikologis manusia dengan gaya penceritaan yang minim dialog, namun kaya akan narasi emosional yang halus.

Sinopsis: Indraswari dan Doktrin Perempuan Sumber Dosa

Berlatar periode Revolusi Fisik (1945–1949), karya ini mengisahkan Indraswari, seorang mantan pianis berbakat yang masa depannya hancur akibat kehamilan yang tidak diinginkan. Dibuang oleh keluarganya dan menetap di sebuah rumah perbukitan bernama Ndalem Adem Ayem, Indraswari bertransformasi menjadi sosok ibu yang sombong, manipulatif, dan sangat dominan terhadap anak laki-lakinya, Bromo.

Trauma masa lalu membuat Indraswari mencekoki Bromo dengan doktrin bahwa "perempuan adalah sumber segala dosa." Puncak dari obsesi ini adalah saat muncul sosok misterius, yaitu seorang wanita di dalam piano, yang diyakini Indraswari sebagai takdir bagi Bromo.

Namun, kehadiran Kinasih membawa perubahan signifikan. Bromo mulai menyadari ketidakberesan sikap ibunya dan berupaya membebaskan diri dari jeratan manipulasi yang telah mengakar dalam hidupnya.

Kelebihan: Batas Tipis Antara Waras dan Gila

Sekar Ayu Asmara sangat jeli dalam memotret isu kesehatan mental yang melampaui zaman. Melalui karakter Dokter Jati, tunangan Kinasih yang berwibawa, kita diingatkan bahwa gangguan jiwa bisa menyerang siapa saja, termasuk seorang dokter kejiwaan sekalipun. Trauma masa kecil saat menyaksikan ibunya bunuh diri menjadi bom waktu yang membuktikan bahwa batas antara kewarasan dan kegilaan sering kali setipis tisu.

Penggunaan alur maju-mundur oleh penulis tidaklah membingungkan, justru efektif dalam membangun tensi hingga mencapai plot twist di akhir cerita yang menjamin pembaca akan terperanjat. Meski dibumbui konflik cinta segitiga antara Bromo, Kinasih, dan Jati yang sekilas tampak klise, kedalaman latar belakang psikologis tiap tokoh membuat cerita ini tetap terasa segar dan mencekam.

Pesan Moral di Balik Kegelapan Cerita

Novel ini bukanlah bacaan ringan yang manis. Terdapat unsur trigger warning bagi pembaca yang sensitif terhadap isu menyakiti diri (self-harm) dan bunuh diri. Namun, di balik kegelapannya, buku ini membawa pesan moral yang kuat: peristiwa traumatis di masa lalu memerlukan pemulihan yang tepat, bukan sekadar dipendam atau dialihkan melalui manipulasi kepada orang lain.

Perempuan di Dalam Piano adalah kejutan brilian bagi siapa pun yang menyukai genre drama psikologis dengan sentuhan sejarah. Sekar Ayu Asmara membuktikan bahwa sebuah piano tidak hanya mampu menghasilkan nada indah, tetapi juga bisa menjadi penjara bagi jiwa-jiwa yang terluka.

Jika Anda mencari bacaan yang mampu mengaduk emosi sekaligus memberikan renungan mendalam tentang hubungan ibu dan anak, novel ini adalah jawabannya. Jika menyenangkan, sebarkan; jika tidak, beri tahu!

Identitas Buku:

  • Judul: Perempuan di Dalam Piano
  • Penulis: Sekar Ayu Asmara
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Tahun Terbit: 2023 (15 November 2023)
  • Jumlah Halaman: 304 halaman
  • ISBN: 9786020674193

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak