Teh dan Pengkhianat merupakan kumpulan cerpen karya Isaka Banu yang mengusung tema pergulatan emosi manusia dan sisi kemanusiaan dengan latar tokoh, tempat, dan waktu pada masa penjajahan Belanda di Indonesia.
Menurut Isaka Banu sendiri, menghadirkan kisah-kisah seperti ini bukanlah hal yang mudah. Ia harus melalui riset mendalam, memadukan sejarah dan imajinasi, terlebih sejarah Belanda yang sarat dengan nama-nama serta pengejaan asing. Dalam buku ini terdapat tiga belas cerpen, dan seluruh tokoh utamanya ditampilkan melalui sudut pandang orang Belanda.
Cerpen pertama, “Kalabaka”, berisi pesan terakhir Hendrick Cornelis Adam kepada putranya melalui sepucuk surat sebelum ia mati di tangan bangsanya sendiri. Ia berpesan agar kelak sang putra tidak tergiur untuk bergabung bersama Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Ia mati atas sesuatu yang diyakininya benar: bahwa tindakan mereka membantai rakyat tak bersalah di Banda adalah kesalahan besar, sebab mereka mengaku sebagai bangsa yang menjunjung tinggi adab.
Cerpen kedua, “Tegak Dunia”, menceritakan tugas seorang paman yang harus mengembalikan keponakannya—seorang pemuda penghuni panti asuhan Jan van de Vlek—yang menganut keyakinan bumi datar.
Pemuda itu menganggap para pelaut telah melampaui kehendak Tuhan dengan keyakinan bahwa bumi bulat. Sang paman berusaha membuka matanya, menunjukkan bahwa dunia telah lama keluar dari kepercayaan abad kegelapan.
Ia memperlihatkan tiruan globe hasil pesanan seorang pribumi terpelajar sebagai bukti bahwa ilmu pengetahuan telah berkembang.
Cerpen ketiga, “The dan Pengkhianat”, mengisahkan ketakutan seorang kapten di kebun teh Simon Vastgebonden terhadap Alibasah Sentot Prawirodirjo. Sentot, yang dahulu merupakan tangan kanan Diponegoro dalam Perang Diponegoro, kini menjadi kawannya dalam menumpas pemberontakan orang-orang Tionghoa di kebun teh tersebut.
Sang kapten dihantui kecemasan bahwa Sentot bisa saja kembali berkhianat, mengingat masa lalu mereka yang pernah saling berhadapan dalam perang. Sementara itu, Sentot telah meninggalkan junjungannya dan memilih bekerja di pihak kolonial.
Cerpen keempat, “Variola”, menampilkan perdebatan sengit antara petugas pemerintah dan pemuka agama dalam menghadapi wabah cacar yang memusnahkan ribuan jiwa di Jawa dan Bali. Pemerintah berupaya menghadirkan vaksin cacar ke Hindia, tetapi sebagian pemuka agama menganggapnya sebagai bentuk penentangan terhadap kehendak Tuhan. Bagi mereka, kematian adalah takdir ilahi yang tidak boleh dilawan.
Cerpen kelima, “Sebutit Peluru Saja”, berisi penyesalan Tuan Skaut atas peluru yang ia muntahkan ke tubuh seorang raja garong yang ditakuti masyarakat dan para tuan tanah. Garong itu disebut mengamuk dan membakar ladang tebu.
Namun, sebelum mati, sang raja garong menyatakan bahwa ia hanya membela hak-hak petani yang dirampas para partikelir, dan bahwa yang membakar ladang tebu sebenarnya adalah para tuan tanah sendiri. Cerpen ini memperlihatkan betapa kebenaran bisa dikaburkan oleh kekuasaan.
Cerpen keenam, “Lazarus Tak Ada di Sini”, menghadirkan percakapan antara Astor Imam Al-Munser sebagai pelipur lara tentara Hindia di saat-saat terakhir kematian Letnan Lazarus Willem Stijhart. Dalam percakapan itu disinggung kisah-kisah nabi dalam Alkitab, termasuk kisah Lazarus yang diterima di pangkuan Abraham. Letnan tersebut diliputi penyesalan atas perang yang terasa tidak masuk akal—perang di mana kedua belah pihak merasa paling benar, berdoa demi keselamatan dan kejayaan, tetapi sejatinya memohon kemenangan untuk membunuh.
Cerpen ketujuh, “Kutukan Lara Ireng”, menyoroti dilema seorang polisi laut muda saat mengawal penyergapan opium di laut lepas. Opium yang seharusnya dimusnahkan justru dijual kembali oleh kapten kapal. Seluruh laporan pemusnahan hanyalah palsu. Polisi muda itu harus memilih: mengikuti arus dan menyelamatkan nyawanya, atau menentang para pedagang opium berseragam dengan risiko kehilangan segalanya.
Cerpen kedelapan, “Di Atas Kereta Angin”, menggambarkan perseteruan dua saudara Belanda tentang cara memperlakukan kawula pribumi. Salah satu bersikeras mempertahankan norma lama: cara berbicara, berpakaian, dan berjalan harus sesuai hierarki kolonial. Sementara yang lain memperlakukan pribumi sebagai teman, bahkan memberi fasilitas seperti sepatu selop dan sepeda. Baginya, dunia bukan lagi milik Belanda bak raja-raja.
Cerpen kesembilan, “Belenggu Emas”, berkisah tentang seorang nyonya Belanda yang merasa terbelenggu oleh suaminya. Gerak-geriknya dibatasi, bahkan ia dilarang mengenakan kebaya di tanah tropis yang panas. Di sisi lain, ia mengenal seorang perempuan pribumi Minang yang bersahaja, berilmu, dan bijaksana, serta memiliki surat kabar sendiri untuk memperjuangkan hak-hak perempuan.
Cerpen kesepuluh, “Nieke de Flinder”, mengungkap banyaknya orang munafik dalam pemerintahan yang menciptakan peraturan berdasarkan Alkitab dan menghukum pelanggarnya, sementara mereka sendiri hidup dalam gelimang pelacuran kelas atas. Polisi-polisi tertentu tak tersentuh hukum meski jelas melakukan pelanggaran moral.
Cerpen kesebelas, “Tawanan”, menampilkan percakapan dua kapten mengenai penandatanganan surat perjanjian pertukaran tawanan. Salah satu kapten, yang pernah bertugas di KNIL dan kembali untuk merebut Hindia, justru pernah menjadi tawanan pribumi dan diperlakukan tidak manusiawi. Pengalaman itu mengguncang idealismenya hingga ia menyadari bahwa Belanda pun sama busuknya dalam merampas tanah orang lain dengan tindakan yang jauh lebih kejam. Kapten lainnya memilih keluar dan membela rakyat Indonesia.
Cerpen kedua belas, “Indonesia Memanggil”, menceritakan seorang prajurit pemula Belanda di Australia yang terpanggil membantu kemerdekaan Indonesia setelah berbincang dengan seorang eksil politik dari pemberontakan PKI 1926. Percakapan itu membuka kesadarannya tentang arti kemerdekaan dan keadilan.
Cerpen ketiga belas, “Semua Sudah Selesai”, menghadirkan kesedihan pengusaha roti Belanda, Arnoud Scherpezin, yang secara turun-temurun menjalankan usahanya di Hindia. Ia harus berpisah dengan karyawan bumiputra yang telah setia bekerja selama seperempat abad karena situasi panas masa Bersiap memaksanya kembali ke Belanda. Ia juga diliputi kekhawatiran tentang persaingan kerja di negeri asalnya.
Secara keseluruhan, Teh dan Pengkhianat bukan sekadar kumpulan cerpen sejarah. Buku ini memperlihatkan bahwa di tengah kerasnya kolonialisme, tetap ada kegamangan, ketakutan, penyesalan, dan pencarian makna dalam diri manusia. Isaka Banu berhasil memadukan riset sejarah yang kuat dengan kedalaman emosi, sehingga setiap cerita terasa hidup dan sarat refleksi tentang moralitas, kekuasaan, iman, dan kemanusiaan.
Identitas Buku
Judul: Teh dan Pengkhianat
Penulis: Isaka Banu
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Cetakan: Kesepuluh, 2025