Belakangan ini semakin marak pembelajaran di sekolah yang bermuatan STEM, singkatan dari Science (Sains), Technology (Teknologi), Engineering (Teknik), Mathemathics (Matematika). Dalam prosesnya anak didik diharapkan dapat melakukan pengamatan, dan pemecahan masalah yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Terdengar rumit, berat, bahkan membosankan.
Oleh sebab itu, muncul usaha di kalangan penerbit dan penulis untuk membuat buku cerita anak bertema STEM. Tujuannya tentu agar pembelajaran terasa menyenangkan karena disampaikan lewat narasi maupun visual yang menarik, serta mudah dipahami. Buku-buku ini menjadi angin segar pula bagi orang tua, atau kalangan pendidik, yang ingin mendampingi anak-anak belajar.
Salah satu buku yang pantas direkomendasikan adalah buku Seri Profesi STEAM dari Penerbit Kiddo-KPG, berjudul Ibuku Seorang Saintis. Penulisnya Dr. Shini Somara, ilustrasi oleh Nadja Sarell. Seri ini diterbitkan pertama kali pada bulan Desember 2022. Tebalnya hanya 32 halaman dengan ilustrasi penuh warna yang menarik.
Kisahnya mengikuti perjalanan Ruben dan ibunya ke pantai. Dalam perjalanan tersebut Ruben banyak melihat, mengamati, dan bertanya penuh rasa ingin tahu. Sementara ibunya menjawab setiap pertanyaan dengan jelas, lugas, dan sabar.
Halaman awal dibuka dengan Ruben yang ingin memberi hadiah vas bunga dari tanah liat, sebagai kejutan ulang tahun ibunya. Namun ketika sedang menuruni tangga vas itu pecah. Ia pun ingin segera mencari gantinya. Kebetulan di hari itu ibu mengajaknya piknik ke pantai. Maka ia berpikir akan mencari hadiah pengganti di perjalanan mereka.
Saat berjalan Ruben melihat daun di pepohonan mulai berubah warna menjadi merah. Ia pun bertanya kepada ibu. Ibunya lalu menerangkan mengenai musim gugur dan cahaya matahari yang lebih sedikit pada siang hari. Ruben menjadi kagum akan pengetahuan ibunya. Ibu menjelaskan bahwa dirinya adalah seorang ahli biologi, artinya saintis yang mempelajari makhluk hidup (hal. 5).
Ketika bertemu tempat sampah daur ulang, Ruben melihat beberapa macam gambar yang berbeda di bagian depannya. Ketika hal itu ditanyakannya, ibu menjabarkan pelbagai jenis sampah yang perlu dipilih dan dipilah berdasarkan bahan asalnya. Karena setiap bahan akan diolah dengan cara berbeda. Misal, bahan kaca bakal dilelehkan sehingga menjadi botol baru (hal. 9).
Saat mereka mengambil jalan pintas lewat taman, Ruben melihat seekor induk bebek dan anak-anaknya di kolam. Ibu menjelaskan bahwa bayi bebek walau baru berumur beberapa hari sudah bisa berenang. Sedangkan anak manusia butuh satu tahun untuk belajar berjalan. Ibu juga memberitahu bahwa manusia dan hewan lainnya memiliki beberapa kemiripan, tapi juga punya banyak perbedaan (hal. 10).
Selanjutnya mereka bertemu dengan gerumbul bunga matahari. Ruben kembali bertanya kenapa bunganya tinggi, melebihi tinggi Ruben sendiri. Ibu menerangkan bahwa bunga matahari melakukan fotosintesis. Bunga tersebut mengolah energi dari air, matahari, dan gas karbon dioksida, menjadi gula yang berguna sebagai energi bagi tumbuhan.
Akhirnya mereka sampai ke pantai. Ruben mengendusi udara yang berbau asin. Ia pun kembali bertanya kenapa bisa demikian. Ibu menunjuk ke arah laut sebagai sumber garamnya. Tak lupa ibu menjelaskan proses terlarutnya garam hingga ke laut.
Ruben senang sekali bermain di pantai. Ia memutuskan akan membuat kue ulang tahun dari pasir pantai. Sayang, ombak besar datang dan menghancurkan istana pasir tersebut. Namun, ibu tak marah. Sebaliknya ibu berterima kasih karena Ruben telah menjadi kado terbaik baginya. Ibu senang karena Ruben punya rasa ingin tahu yang besar. Sifat ingin tahu adalah modal dasar bagi seorang saintis.
“Para saintis sering mencari sesuatu yang mereka sendiri belum tahu apa yang dicarinya. Inti sains adalah mengamati dan melakukan percobaan untuk menguji gagasan tentang cara kerja dunia. Ini pekerjaan yang hebat!” (hal. 26).
Buku ini cocok untuk semua umur. Orang tua bisa mendampingi putra-putrinya agar sama-sama paham aneka pengetahuan ringkas, yang terdapat dalam alur cerita. Selamat membaca, Sobat Yoursay!