Sorry, my younger self, I can't make you happy, but I will. Salah satu buku self-improvement karya Alvi Syahrin yang dicetak pertama kali pada Desember 2024 lalu.
Buku setebal 320 halaman ini nggak disusun seperti buku motivasi kebanyakan. Nggak ada bab-bab kaku atau teori self-healing yang textbook banget.
Sebaliknya, buku ini terasa seperti kita diajak berjalan dalam lorong waktu, pelan-pelan, untuk bertemu dengan berbagai versi diri kita: masa kecil, masa remaja, masa dewasa muda, hingga bayangan diri saat menua.
Pada bab-bab awal, kita dikenalkan pada versi kecil diri kita dengan segala kepolosan, mimpi besar, dan kenangan indah yang mungkin sudah lama kita kubur.
Alvi lalu menggiring kita menuju masa remaja yang penuh tekanan, kecemasan sosial, hingga fase usia 20-an yang sering kali dihiasi rasa kehilangan arah, tekanan ekonomi, dan ketidakpastian.
Tiap bab disusun seperti dialog batin, yang kadang konyol, kadang nyesek, dan kadang bikin senyum tipis sambil berkaca-kaca.
Buku ini mengajak kita melihat bagaimana semua versi diri kita: baik yang dulu kuat, rapuh, marah, atau kecewa, semuanya telah berkontribusi besar membentuk siapa kita hari ini.
Buku ini memiliki gaya penulisan yang jujur, personal, dan penuh empati. Alvi Syahrin berhasil mengemas topik berat seperti luka masa kecil, inner child, hingga kehilangan arah hidup dengan cara yang lembut dan nggak menggurui.
Banyak bagian dari buku ini terasa seperti 'tamparan lembut' yang menyadarkan, tapi tetap terasa seperti pelukan. Kalimat-kalimatnya sederhana, tapi sering terasa sangat dalam. Misalnya, kalimat:
“Kamu yang seharusnya menjadi penolong pertama untuk dirimu sendiri, bukan orang lain.” (hlm. 85)
Buku ini membuat pembaca merasa dilihat dan divalidasi, terutama bagi mereka yang sedang mempertanyakan diri sendiri, merasa gagal, atau sulit memaafkan masa lalu.
Di beberapa bagian mungkin terdapat pengulangan poin yang sama, tapi masih bisa diterima dan cukup familiar bagi pembaca yang sudah sering membaca buku self-improvement.
Nilai moral paling kuat dari buku ini adalah ajakan untuk menerima dan memaafkan semua versi diri kita. Alvi ingin menyampaikan bahwa tidak ada bagian dari diri kita yang sia-sia.
Bahkan saat kita merasa gagal atau hancur, kita tetap punya peran besar dalam perjalanan hidup yang utuh. Kita tidak perlu jadi versi terbaik menurut orang lain. Cukup jadi versi yang paling jujur dan penuh penerimaan buat diri sendiri.
Salah satu kata-kata yang cukup membekas di pikiran saya: “Berhenti melihat hidup orang lain sebagai standar yang harus kamu lalui.” (hlm. 73)
Lalu dengan diksi yang indah, Alvi juga mengingatkan kita untuk tidak menyerah sebelum menyaksikan sendiri doa-doa kita dikabulkan dengan cara paling indah dan di waktu yang paling tepat menurut-Nya.
"Kadang kita butuh hidup yang lebih panjang untuk melihat hidup yang lebih cemerlang. Kita butuh hidup yang lebih panjang untuk membuktikan bahwa hidup kita benar-benar membaik. Kita butuh hidup yang lebih panjang untuk menyaksikan bahwa doa-doa kita dikabulkan dengan cara paling indah dan di waktu yang sempurna." (hlm. 221)
Buku ini bisa jadi bacaan yang sangat cocok untuk kamu yang sedang dalam fase self-healing, bertumbuh, dan ingin lebih mengenal diri sendiri. Bukan hanya sekadar buku self-improvement, tapi seperti teman yang mengerti isi kepalamu, tanpa harus kamu jelaskan panjang lebar.
Identitas Buku
Judul: Sorry, my younger self, I can’t make you happy … but I will
Penulis: Alvi Syahrin
Penerbit: Alvi Ardhi Publishing
Tahun Terbit: 2024
ISBN: 978-623-97002-5-6
Tebal: 320 Halaman
Kategori: Nonfiksi, Self-Improvement