Kolom
Sila Kelima Pancasila: Mengapa Keadilan Masih Terasa Begitu Jauh dari Jangkauan?
"Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia."
Iya, begitulah katanya. Sila kelima Pancasila yang sudah kita hafalkan sejak duduk di bangku sekolah dasar. Kalimatnya begitu sederhana, mudah diingat, dan kerap muncul dalam berbagai materi pelajaran maupun pidato-pidato upacara. Namun, seiring waktu, kita pun mulai menyadari bahwa wujud dari sila tersebut tidaklah sederhana.
Sobat Yoursay, peringatan hari lahir Pancasila memang sudah berlalu beberapa hari. Tapi ..., bukankah pengamalan Pancasila tak terbatas oleh waktu?
Dulu di sekolah, kita dikenalkan dengan istilah Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia. Pertanyaannya: benarkah kita sudah hidup sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya?
Di sini, kita akan membicarakan sila kelima. Perihal keadilan yang ternyata tidaklah sesederhana menghafal seluruh sila Pancasila. Sebab sampai hari ini pun, kita masih sering bertanya-tanya: apakah keadilan sosial benar-benar sudah dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia?
Kita melihat fakta yang terang benderang, namun terasa begitu pahit. Di beberapa daerah, akses pendidikan dan kesehatan masih menjadi tantangan. Ada masyarakat yang harus menempuh jarak jauh untuk memperoleh layanan dasar yang seharusnya dapat diakses dengan lebih mudah. Di sisi lain, masih ada keluarga yang berjuang memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari di tengah biaya yang terus meningkat.
Banyak anak yang harus bekerja demi membantu ekonomi keluarga, ada siswa berprestasi yang kesulitan melanjutkan pendidikan karena keterbatasan biaya, dan ada masyarakat yang merasa kesempatan hidup yang layak masih begitu jauh dari jangkauan mereka.
Maka wajar rasanya jika keadilan masih menjadi pertanyaan yang terus muncul dari waktu ke waktu. Seperti yang kita tahu, Indonesia adalah negara yang cukup besar dengan jumlah penduduknya sekitar 280 juta jiwa. Dan kita pun bisa mengerti bahwa mewujudkan keadilan yang sempurna untuk seluruh rakyat bukanlah perkara yang mudah. Namun, kesulitan tersebut tidak serta-merta menghapus harapan masyarakat untuk memperoleh kesempatan hidup yang lebih baik.
Ketika ada anak yang harus mengubur mimpinya karena keterbatasan biaya pendidikan, ketika ada masyarakat yang kesulitan mengakses layanan kesehatan yang layak, atau ketika ada keluarga yang terus berjuang memenuhi kebutuhan pokok di tengah kenaikan harga, pertanyaan tentang keadilan akan selalu muncul. Bukan karena masyarakat ingin menuntut kesempurnaan, melainkan karena mereka berharap dapat merasakan hak yang sama sebagai warga negara.
Di sisi lain, perkembangan teknologi membuat berbagai bentuk kesenjangan semakin mudah terlihat. Apa yang terjadi di satu daerah kini dapat diketahui oleh masyarakat di daerah lain hanya dalam hitungan menit. Karena itulah, suara-suara yang mempertanyakan keadilan menjadi semakin sering terdengar. Bukan karena masyarakat semakin gemar mengeluh, tetapi karena mereka semakin mampu melihat bahwa masih ada perbedaan besar dalam akses, kesempatan, dan kesejahteraan yang dirasakan oleh sesama warga negara.
Di tengah berbagai kenyataan tersebut, ada sebuah pertanyaan yang mungkin perlu kita renungkan jawabannya: apakah kondisi tersebut berarti sila kelima telah kehilangan maknanya?
Tentu tidak sesederhana itu. Sebab, keberadaan berbagai ketimpangan yang masih kita temui hari ini bukan serta-merta membuktikan bahwa cita-cita keadilan telah gagal. Justru kondisi tersebut mengingatkan kita bahwa keadilan adalah sesuatu yang terus diperjuangkan, bukan tujuan yang dapat dicapai hanya dalam satu malam.
Banyak orang memandang keadilan sebagai kesamaan. Padahal, keadilan memiliki makna yang jauh lebih luas dan kompleks dari itu. Kita perlu menyadari bahwa keadilan bukan berarti setiap orang mendapatkan hal yang sama, melainkan setiap orang memiliki kesempatan yang layak untuk tumbuh, belajar, bekerja, dan menjalani kehidupan yang bermartabat.
Sayangnya, hingga hari ini tidak semua orang memulai perjalanan hidup dari titik yang sama. Ada yang memiliki akses lebih luas terhadap pendidikan, kesehatan, dan peluang ekonomi, sementara yang lain harus berjuang lebih keras untuk memperoleh hal-hal yang serupa.
Di titik inilah kita kembali diingatkan bahwa sila kelima bukanlah janji bahwa keadilan akan terwujud dalam sekejap. Namun, melalui sila kelima, bangsa ini diajak untuk terus bergerak menuju keadilan yang lebih baik dari hari ke hari.
Mungkin itulah mengapa sila kelima masih relevan hingga sekarang. Bukan karena keadilan sosial telah terwujud secara sempurna, melainkan karena masih ada mimpi yang belum selesai diperjuangkan. Selama masih ada mereka yang belum memperoleh kesempatan yang sama untuk hidup, belajar, dan berkembang, cita-cita tentang keadilan sosial akan selalu menjadi pekerjaan rumah bersama bagi bangsa ini.