Ulasan
Menyusuri Hidden Paradise Deli Serdang: Danau Linting dan Lau Mentar
Ingat waktu aku bilang Januari tahun ini penuh dengan perjalanan? Salah satunya adalah saat aku dan temanku memutuskan menjelajahi Deli Serdang sebuah kabupaten dengan jumlah penduduk terbanyak di Sumatera Utara, bahkan melampaui Kota Medan.
Menariknya, meski luas wilayahnya tidak termasuk yang terbesar, Deli Serdang punya hampir semua jenis wisata: gunung, danau, air terjun, pantai, hingga taman rekreasi. Dan dari sekian banyak pilihan itu, kami menjatuhkan tujuan pertama ke Danau Linting.
Perjalanan ini sebenarnya tidak direncanakan. Hari ketiga di awal tahun terasa begitu membosankan, hingga akhirnya aku memutuskan mengunjungi temanku yang tinggal di Kecamatan Sibiru-biru yang tidak jauh dari rumahku di Namorambe, hanya sekitar 20 menit naik motor.
Sesampainya di sana, ia langsung berkata, “Masa kita nggak ke mana-mana? Ayoklah jalan.”
Aku tentu saja langsung setuju dengan satu syarat: dia yang menyetir motor. Maklum, aku belum terlalu jago.
Perjalanan menuju Danau Linting terasa menyenangkan. Jalanan yang tidak terlalu ramai membuat kami bisa menikmati perjalanan dengan santai. Sesekali kami melewati rumah-rumah warga, sawah dan ladang yang membuat suasana terasa sejuk. Angin yang mengenai wajah terasa segar, seolah menghapus rasa jenuh yang sejak tadi mengganggu.
Kami juga sempat tertawa sepanjang jalan, membahas hal-hal sederhana yang diam-diam sebenarnya menjadi kekhawatiran kami: soal masa depan dan mencari pekerjaan. Aku dan teman ini memang cukup dekat sejak di kampus, apalagi kami berada di bawah bimbingan dosen yang merupakan pasangan suami istri, sehingga sering bertemu dalam berbagai kesempatan.
Obrolan kami pun mengalir dari pengalaman penelitian yang tidak mudah, revisi yang seakan tidak ada habisnya, hingga keresahan tentang dunia kerja yang terasa semakin kompetitif.
Di tengah percakapan itu, temanku tiba-tiba berkata, “Ngapain susah-susah, Hel. Nikmati aja dulu liburan kita ini. Ingat nggak, dulu habis lab kita nggak pernah benar-benar istirahat, langsung dibantai penelitian. Baru kali ini kita bisa liburan tanpa beban.”
Aku terdiam sejenak. Ada benarnya juga. Kadang kita terlalu sibuk memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi, sampai lupa menikmati momen yang sedang kita jalani. Beruntung sekali aku dan temanku ini bisa lulus tepat waktu.
Setengah jam kemudian kami pun tiba di Danau Linting yang terletak di Desa Rumah Rih, Kecamatan Sinembah Tanjung Muda Hulu. Danau ini dikenal memiliki warna hijau toska yang khas, konon karena kandungan belerang di dalamnya. Tak heran jika tempat ini sempat viral beberapa tahun lalu.
Namun, di balik keindahannya, Danau Linting juga menyimpan cerita yang cukup kelam. Pernah terjadi kasus pengunjung tenggelam, diduga karena minimnya pengawasan serta kedalaman danau yang belum diketahui pasti. Bahkan, menurut cerita yang beredar, peneliti pernah menurunkan tali hingga 300 meter, tetapi belum juga mencapai dasar.
Saat kami tiba, suasana terasa cukup sepi. Tidak banyak pengunjung seperti yang kubayangkan. Area sekitar danau terlihat tenang, bahkan cenderung sunyi. Kami hanya sempat berfoto dan menikmati pemandangan sejenak. Airnya memang terlihat indah, dan terasa hangat namun kami memutuskan untuk tidak berenang disini.
Untuk masuk memang tidak dipungut biaya, tetapi beberapa fasilitas terlihat mulai kurang terawat. Ada bagian yang tampak terbengkalai, sehingga mengurangi kesan nyaman bagi pengunjung. Rasanya sayang, mengingat tempat ini pernah begitu populer dan memiliki potensi wisata yang besar.
Tak lama kemudian, kami pun melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya, yaitu Lau Mentar.
Lau Mentar: Air Terjun Tersembunyi di Deli Serdang

Perjalanan kami selanjutnya sebenarnya menuju Lau Mentar Canyon. Namun, sebelum sampai ke sana, terdapat satu destinasi lain yang cukup dikenal, yaitu Lau Lutih yang jaraknya sekitar setengah jam dari Danau Linting.
Nama “Lau Lutih” sendiri diambil dari bahasa Karo, di mana “lau” berarti air dan “lutih” berarti putih. Sesuai dengan namanya, aliran air di tempat ini tampak keputihan, memberikan kesan yang berbeda dibandingkan sumber air jernih pada umumnya. Air terjunnya pun tidak terlalu tinggi, diperkirakan hanya sekitar dua meter, lebih rendah dibandingkan Lau Mentar yang bisa mencapai sekitar lima meter.
Sayangnya, kami tidak singgah di Lau Lutih karena khawatir waktu tidak cukup. Namun, justru di situlah kami mendapatkan “petunjuk”. Kami sempat kebingungan mencari lokasi Lau Mentar, hingga akhirnya bertemu dengan serombongan keluarga yang juga hendak menuju ke sana. Tanpa ragu, kami pun mengikuti mereka dan beruntungnya, kami sampai di tujuan.
Nama Lau Mentar juga berasal dari bahasa Karo, di mana “lau” berarti air dan “mentar” berarti putih atau jernih. Perjalanan menuju Lau Mentar ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Trek yang harus dilalui cukup curam, berbatu, dan didominasi tanjakan. Motor yang digunakan harus benar-benar dalam kondisi prima. Sepanjang perjalanan, kami harus ekstra hati-hati, terutama di bagian jalan yang licin dan tidak rata.
Sesampainya di lokasi, suasana cukup ramai. Tampaknya Lau Mentar memang menjadi salah satu destinasi yang sedang naik daun. Airnya yang berwarna kebiruan, diduga karena kandungan belerang menjadi daya tarik utama. Bahkan, kami melihat beberapa pengunjung yang datang dari luar daerah, termasuk dari Medan.
Untuk masuk ke kawasan ini tidak dipungut biaya, namun kami dikenakan tarif parkir sekitar Rp20.000 untuk motor. Dari area parkir, kami masih harus berjalan menuruni jalan yang cukup curam, sehingga perlu berhati-hati saat melangkah.
Di lokasi ini terdapat dua spot utama: bagian air terjun yang lebih tinggi dan area yang lebih landai di bawahnya. Karena mempertimbangkan faktor keamanan terutama kondisi batu yang cukup licin, kami memilih untuk berada di area yang lebih rendah.
Kami pun menghabiskan waktu sekitar satu jam di sana. Airnya terasa sangat segar, bersih, dan jernih dengan warna kebiruan yang menenangkan. Sambil menikmati suasana, kami juga sempat makan roti dan beberapa camilan yang kami bawa. Momen sederhana seperti itu justru terasa sangat menyenangkan.
Setelah puas berenang, kami berganti pakaian dan bersiap untuk pulang. Perjalanan kembali pun tidak kalah menantang karena trek yang sama-sama terjal dan berbatu harus kami lewati lagi.
Karena sejak siang kami belum sempat makan, sekitar pukul empat sore kami akhirnya berhenti di daerah Marindal untuk makan mi sop yang menurut temanku adalah salah satu yang paling enak di sana. Menariknya, aku ditraktir sebagai “balasan” karena sudah meminjamkan motor.
Setelah itu, kami kembali ke rumah teman saya sebelum akhirnya aku pulang dan tiba sekitar pukul enam sore.
Perjalanan satu hari itu terasa begitu singkat, tetapi penuh cerita. Dari danau yang tenang hingga aliran air yang menyegarkan, hari itu seolah memperlihatkan sisi lain dari Deli Serdang bahwa kenyamanan tidak selalu harus dicari di tempat yang jauh atau mewah, tetapi bisa ditemukan dalam perjalanan sederhana yang penuh makna.