Ulasan
Membolang di Namorambe: Tempat 19 Teman dari Berbagai Sirkel Berkumpul
Bagi saya tempat ternyaman juga bukan hanya karena lokasinya, namun juga dengan siapa ke sana dan kenangan apa yang kita buat bersama.
Dari mana saya harus mulai? Rasanya sudah terlalu banyak teman yang pernah saya ajak ke rumah saya yang ada di Namorambe. Mulai dari teman magang, teman sekelas, hingga sirkel terdekat, hingga kalau saya hitung-hitung totalnya sudah sekitar 19 orang yang pernah merasakan “membolang” di sana bersama saya.
Sebagai mahasiswa yang sering penat dengan rutinitas, saya dan teman-teman kerap mencari “healing tipis-tipis” tanpa perlu menginap. Biasanya cukup perjalanan pulang-pergi dalam satu hari. Sederhana, tapi cukup untuk mengisi ulang energi sebelum kembali ke aktivitas masing-masing.
Ide ke Namorambe ini sebenarnya berawal dari masa magang saya. Setelah menyelesaikan periode magang, kami sempat merencanakan liburan kecil. Awalnya ingin pergi ke tempat yang agak jauh, tetapi rencana tersebut terhambat karena beberapa teman tidak mendapatkan izin orang tua untuk menginap atau bepergian terlalu jauh.
Di tengah kebingungan itu, bapak saya memberikan ide, "Kenapa tidak ke Namorambe saja?". Jaraknya hanya sekitar satu jam dari Medan, sehingga tidak membutuhkan banyak persiapan dan bisa dilakukan tanpa harus menginap.
Namorambe sendiri memiliki daya tarik yang unik. Dari Sayum sampai ke Sembahe, terdapat banyak pemandian yang berjejer. Sebenarnya ini adalah aliran sungai Sembahe, tetapi karena dikelola sebagai tempat wisata, masyarakat lebih sering menyebutnya sebagai “pantai”. Nah, pantai yang jadi tujuan kami ini bernama Pantai Adil.
Akhirnya, teman-teman magang saya pun setuju untuk mencoba. Perjalanan pertama kami ke sana terasa begitu berkesan. Sebagian besar dari kami menggunakan motor, sehingga perjalanan terasa seperti konvoi kecil.
Selalu ada satu orang yang merekam dari belakang, menangkap momen barisan motor yang melaju bersama. Sederhana, tapi terasa seperti road trip versi kami sendiri.
Jalan Namorambe pun beragam, kanan dan kirinya ada yang perumahan warga, ada juga ladang dan kebun sawit, sehingga perjalanan tidak membosankan sama sekali.
Setelah perjalanan pertama itu, Namorambe seakan menjadi tempat “langganan” healing kami. Tanpa direncanakan, saya mulai mengajak teman-teman lain. Dari teman magang, lalu teman sekelas, hingga sirkel terdekat. Satu per satu datang, dan tanpa sadar jumlahnya sudah mencapai sekitar 19 orang.
Terakhir, pada September tahun lalu, saya juga mengajak beberapa teman kelas. Awalnya hanya tiga orang yang saya ajak. Namun, salah satu teman saya yang memang suka suasana road trip merasa perjalanan akan lebih seru jika lebih ramai. Akhirnya, ia mengajak dua teman lainnya untuk ikut.
Saya pun langsung setuju. Kami kembali pergi menggunakan motor, menikmati perjalanan bersama seperti biasa. Saat itu, kami sedang berada di masa-masa penelitian, sehingga sepanjang perjalanan hingga di lokasi, topik pembicaraan kami tidak jauh dari kekhawatiran tentang penelitian apakah bisa selesai tepat waktu, bagaimana prosesnya nanti, dan berbagai hal lainnya.
Namun justru di situlah letak kehangatannya. Di tengah obrolan yang penuh kekhawatiran, ada tawa yang menyelip, ada rasa lega karena bisa berbagi cerita. Perjalanan itu menjadi semacam “obat penat” di tengah tekanan akademik yang kami rasakan.
Setiap kunjungan memang punya ceritanya sendiri. Ada yang datang saat musim kemarau dengan air yang jernih (kolase kiri), ada juga saat musim hujan dengan air yang lebih keruh (kolase kanan). Namun, semua itu tidak pernah benar-benar mengurangi keseruan.
Sehingga kalau dua foto ini dibandingkan saya akan kembali bernostalgia, kalau ternyata melewati musim dan bersama siapapun, sekali teman tetap teman selamanya.
Membolang di Kebun Kelapa Bapak

Setiap kali teman-teman datang, selalu ada satu hal yang menjadi ciri khas: “ritual kecil” sebelum sampai ke lokasi. Hal sederhana ini justru menjadi bagian yang paling dinanti dari setiap perjalanan kami ke Namorambe.
Bapak memiliki ladang kelapa di daerah sana. Untuk mencapainya, kami harus masuk lebih dalam, melewati beberapa ladang dan jalan kecil. Perjalanan menuju ke sana selalu terasa seru, apalagi karena kami biasanya pergi menggunakan motor. Sepanjang jalan, kami saling bercanda, sesekali berhenti, bahkan ada yang sengaja merekam dari belakang untuk mengabadikan momen konvoi kecil kami. Kalau dilihat ulang, rasanya seperti potongan video road trip sederhana yang penuh tawa dan kebersamaan.
Sesampainya di ladang, kami hampir selalu singgah sebentar. Di sinilah “ritual kecil” itu dimulai. Bapak biasanya langsung mengambil peran. Dengan membawa parang dan karung, beliau dengan santai mengambilkan kelapa untuk kami satu per satu. Menariknya, beliau tidak pernah terlihat keberatan. Justru sebaliknya, ada rasa senang ketika melihat teman-teman saya menikmati kelapa langsung dari kebun.
Setiap orang biasanya mendapat satu kelapa. Kelapa-kelapa itu kemudian dimasukkan ke dalam karung, lalu kami bawa bersama ke lokasi pemandian. Sesampainya di pemandian, kelapa itu dibuka dan diminum bersama. Rasanya segar, apalagi diminum setelah perjalanan yang cukup panas dan melelahkan.
Mungkin terdengar sederhana, tapi justru di situlah letak kehangatannya. Ada usaha kecil, ada kebersamaan, dan ada perhatian yang terasa tulus. Seolah-olah kami memiliki “tour guide pribadi” versi keluarga. Bahkan, pernah ada teman saya yang bercanda, “Ini bisa loh dijadiin open tour Namorambe.” Saya hanya tertawa saat itu, tapi kalau dipikir-pikir, memang ada benarnya juga sih.
Selain itu, kehangatan juga terasa dari cara orang tua saya menyambut teman-teman. Mereka seperti tidak pernah menolak siapa pun yang datang, selama itu teman saya.
Untuk sirkel terdekat, karena mayoritas suku Batak, mama saya bahkan sering memasak makanan khas seperti mi gomak dan kolak. Meskipun teman-teman saya sering mengatakan tidak ingin merepotkan, mama tetap memasak dengan penuh perhatian. Hasilnya selalu sama: semua pulang dalam keadaan kenyang dan puas. Rasanya seperti mendapatkan berkat kecil, terutama bagi teman-teman yang merantau jauh dari orang tua.
Mama dan bapak saya memang punya kebiasaan seperti itu. Mereka sering merasa kasihan pada anak-anak kos yang jauh dari keluarga. Dari situlah kehangatan itu muncul, bukan karena kewajiban, tapi karena kepedulian.
Namun, pengalaman dengan teman magang sedikit berbeda. Saat itu kami justru memilih makan sederhana seperti mi instan, bahkan sempat menolak ketika ditawari nasi padang oleh orang tua saya. Meski begitu, suasana tetap terasa hangat. Kami tetap bisa tertawa, bercerita, dan menikmati waktu bersama tanpa harus sesuatu yang mewah.
Menariknya, ada beberapa teman yang sudah ikut perjalanan ini sampai dua atau tiga kali. Dan anehnya, kami tidak pernah merasa bosan. Mungkin karena setiap perjalanan selalu diisi oleh orang yang berbeda, cerita yang berbeda, dan suasana yang tidak pernah benar-benar sama.
Pada akhirnya, Namorambe bukan hanya soal tempat. Ia menjadi ruang untuk berbagi cerita, tawa, dan kebersamaan. Saya berharap suatu hari nanti, ketika teman-teman saya kembali singgah atau bahkan sekadar melewati Namorambe, mereka akan mengingat momen-momen kecil yang pernah kami bagi bersama.
Dan tentu saja, saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada orang tua saya yang selalu mendukung, bahkan ikut “menyukseskan” healing sederhana kami sebagai mahasiswa. Bagi saya, kehangatan itulah yang membuat setiap perjalanan ke Namorambe selalu terasa istimewa.