Ulasan

Cerita dari Alun-Alun Jember: Menemukan Ruang Ternyaman di Tengah Hujan

Cerita dari Alun-Alun Jember: Menemukan Ruang Ternyaman di Tengah Hujan
Alun-Alun Kota Jember (Dok.Pribadi/Fathorrozi)

Malam itu, sekitar pukul 19.40 WIB, saya dan istri melangkah keluar rumah di Ledokombo dengan satu tujuan sederhana, sekadar mencari suasana lain di luar rutinitas.

Tidak ada rencana besar, tidak pula destinasi khusus yang sudah dipikirkan matang. Hanya ingin bergerak, menghirup udara malam, dan membiarkan perjalanan membawa kami ke tempat yang tepat.

Langit tampak muram sejak awal. Gerimis tipis mulai turun, membasahi jalanan yang kami lalui. Lampu-lampu kendaraan memantul di aspal yang perlahan mengilap, menciptakan suasana yang justru terasa hangat dan menenangkan.

Kendati gerimis semakin terasa, kami tidak berpikir untuk berbalik arah. Niat sudah terlanjur tumbuh, dan acapkali justru perjalanan seperti inilah yang menyimpan cerita paling berkesan.

Perjalanan dari Ledokombo menuju pusat Kota Jember malam itu terasa seperti jeda dari kesibukan. Jalanan tidak terlalu ramai, hanya sesekali kendaraan melintas. Barangkali sebab gerimis, hingga orang-orang enggan keluar rumah. Sementara kami tetap menikmati setiap kilometer yang dilalui, membiarkan suara hujan kecil menjadi teman sepanjang perjalanan.

Hujan Deras di Alun-Alun Jember

Hujan deras di Alun-Alun Jember (Dok.Pribadi/Fathorrozi)
Hujan deras di Alun-Alun Jember (Dok.Pribadi/Fathorrozi)

Sesampainya di Alun-Alun Jember, suasana yang kami bayangkan langsung berubah. Gerimis yang semula ringan mendadak berganti menjadi hujan deras. Air turun tanpa kompromi, memaksa kami segera menepi. Kami akhirnya berteduh di teras depan kantor Telkomsel yang berada tepat di sisi barat alun-alun.

Di bawah atap itu, kami tidak sendiri. Beberapa orang juga berlindung dari hujan yang sama. Di sekitar kawasan alun-alun, deretan pelaku UMKM tetap bertahan, menjajakan makanan hangat yang justru terasa semakin menggoda di tengah dinginnya malam.

Kami pun memesan cilok dan beberapa camilan sederhana. Uap hangat dari makanan itu perlahan mengusir dingin, sementara suasana hujan menciptakan keheningan yang menenangkan.

Alun-Alun Jember memang bukan sekadar ruang terbuka biasa. Terletak di pusat kota, tepatnya di Jalan PB Sudirman, kawasan ini menjadi jantung kehidupan masyarakat Jember. Dengan area yang luas, pepohonan rindang, serta penataan taman yang rapi, tempat ini selalu hidup, baik siang maupun malam.

Di sisi utara, berdiri megah Masjid Jami' Al Baitul Amien, yang menambah nuansa religius sekaligus estetika kawasan. Tak jauh dari sana, terdapat pendopo kabupaten yang sarat nilai sejarah. Semua elemen itu berpadu menciptakan ruang publik yang tidak hanya nyaman, tetapi juga kaya makna.

Layar Videotron Berukuran Raksasa di Alun-Alun Jember

Layar videotron berukuran raksasa di Alun-Alun Jember (Dok.Pribadi/Fathorrozi)
Layar videotron berukuran raksasa di Alun-Alun Jember (Dok.Pribadi/Fathorrozi)

Salah satu daya tarik paling mencolok di alun-alun ini adalah keberadaan mega-videotron berukuran raksasa. Layar besar tersebut kerap menampilkan berbagai potensi daerah, informasi publik, hingga konten kreatif lokal. Videotron yang dibangun menggunakan dana APBD ini menjadi simbol bagaimana ruang publik dapat dimanfaatkan untuk kepentingan bersama, bukan sekadar komersial.

Berjumpa dengan Teman Lama

Bertemu dengan teman lama di teras kantor Telkomsel (Dok.Pribadi/Fathorrozi)
Bertemu dengan teman lama di teras kantor Telkomsel (Dok.Pribadi/Fathorrozi)

Di tengah derasnya hujan, tak disangka kami justru menemukan momen yang tidak terduga. Seorang perempuan tiba-tiba mendekat, mencari tempat berteduh yang sama. Setelah beberapa detik saling menatap, kami tersadar dia adalah Maf’ula, teman lama semasa kuliah di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya.

Pertemuan itu terasa seperti potongan waktu yang kembali hidup. Sudah lebih dari lima tahun kami tidak bertemu. Namun malam itu, di bawah suara hujan yang deras, semua jarak terasa lenyap. Kami pun larut dalam obrolan panjang tentang masa kuliah, kenangan lama, hingga perjalanan hidup masing-masing.

Hujan yang awalnya terasa merepotkan justru berubah menjadi latar yang memperindah pertemuan. Waktu berjalan begitu cepat. Tawa dan cerita mengalir tanpa terasa, hingga akhirnya hujan mulai reda.

Makan Bersama di Waroeng Ermin's Jember

Ditraktir makan di Waroeng Ermin's (Dok.Pribadi/Fathorrozi)
Ditraktir makan di Waroeng Ermin's (Dok.Pribadi/Fathorrozi)

Saat itulah Maf’ula mengajak kami melanjutkan perjalanan ke sebuah tempat makan di kawasan Jubung. Tanpa banyak berpikir, kami mengiyakan. Perjalanan singkat dari alun-alun menuju warung tersebut terasa seperti bab lanjutan dari cerita malam itu.

Kami tiba di Waroeng Ermin's, sebuah tempat makan yang luas dan nyaman. Area parkirnya sangat lega, bahkan beberapa bus pun bisa masuk sekaligus. Suasananya hidup, namun tetap terasa santai, cocok untuk makan bersama keluarga atau rombongan.

Menu yang ditawarkan pun beragam. Mulai dari ayam bakar, ayam geprek, nasi goreng, hingga aneka olahan seafood tersedia di sini. Untuk minuman, pilihan seperti es teh, jus buah, kopi, hingga minuman kekinian juga bisa dinikmati.

Harga makanan relatif terjangkau, berkisar antara Rp 15.000 hingga Rp 35.000 per porsi, sementara minuman mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 20.000.

Lalapan Ayam Laos dan Teh Rempah

Lalapan ayam laos dan teh rempah (Dok.Pribadi/Fathorrozi)
Lalapan ayam laos dan teh rempah (Dok.Pribadi/Fathorrozi)

Karena malam itu kami ditraktir, saya pun tidak ragu memesan makanan favorit: lalapan ayam laos dan minuman teh rempah. Ada rasa hangat yang berbeda saat menikmati hidangan bersama orang-orang terdekat, terlebih ketika semuanya datang tanpa direncanakan.

Malam itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar perjalanan mencari suasana baru. Alun-Alun Jember bukan hanya tempat singgah, melainkan ruang yang mempertemukan cerita, menghadirkan kehangatan, dan menghidupkan kembali kenangan lama.

Di sanalah saya menyadari, ruang ternyaman dalam perjalanan tidak selalu tentang tempat yang mewah atau jauh. Kadang, ia hadir di tengah hujan, di antara tawa yang tak terduga, dan dalam pertemuan sederhana yang menghangatkan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda