Ulasan

Drama The Scarecrow dan Potret Kegagalan Sistem Hukum dalam Kasus Hwaseong

Drama The Scarecrow dan Potret Kegagalan Sistem Hukum dalam Kasus Hwaseong
The Scarecrow (Viu)

Jauh sebelum drama The Scarecrow tayang, sudah ada beberapa film maupun series yang mengangkat kisah pembunuhan berantai yang terjadi di Hwaseong, Korea Selatan puluhan tahun lalu.

Mulai dari Memories of Murder, Signal, Tunnel, Gapdong, dan kini The Scarecrow. Namun, dari banyaknya tontonan tersebut, saya merasa The Scarecrow-lah yang paling banyak memiliki kesamaan dengan kasus aslinya.

Dalam drama The Scarecrow, kita ditunjukkan bagaimana penyelidikan kasus pembunuhan berantai di tahun 1988 itu berlangsung.

Mengambil latar di sebuah daerah bernama Gangseong, tokoh utama dalam drama ini bernama Kang Tae-joo (Park Hae-soo), ia adalah detektif yang bertugas menangani kasus pembunuhan berantai yang terjadi di Gangseong di masa itu.

Dalam proses penyelidikannya, ia dipertemukan kembali dengan Cha Si-young (Lee Hee-joon), teman sekolahnya dulu yang telah menjadi seorang jaksa. Keduanya memiliki karakter yang bertolak belakang. Kang Tae-joo yang tegas, berprinsip, dan pantang menyerah dalam memperjuangkan kebenaran.

Sementara Cha Si-young adalah orang yang punya kecenderungan mau menang sendiri, tak mau salah maupun kalah dalam hal apapun dari Tae-joo, dan sering kali memanfaatkan kekuasaan dan koneksinya demi kepentingan pribadi.

Seperti halnya kasus asli pembunuhan berantai Hwaseong yang terjadi di tahun 1988, drama The Scarecrow juga menampilkan hal serupa. Melalui berbagai adegan dalam drama, kita seolah ditunjukkan bagaimana kasus tersebut diusut pada masanya dan apa yang terjadi pada orang-orang yang terlibat di balik tragedi itu.

Penyelidikan di masa itu tentu jauh berbeda dengan sekarang. Hal itulah yang kemudian memunculkan berbagai tantangan sekaligus kejanggalan dalam kasus Hwaseong yang juga tergambar dalam drama The Scarecrow.

Tantangan yang paling terlihat adalah keterbatasan teknologi investigasi yang bisa mereka gunakan pada saat itu. Di tahun 1988, di Korea belum ada teknologi DNA yang memadai sehingga polisi pun kesulitan mengidentifikasi pelaku. Petunjuk memang ada, tetapi identifikasi yang bisa dilakukan hanya sebatas golongan darah yang juga belum sepenuhnya akurat.

Keterbatasan teknologi tersebut sebenarnya membuat penyelidikan membutuhkan kehati-hatian yang jauh lebih besar. Namun, tekanan untuk segera menangkap pelaku justru membuat proses investigasi berjalan ke arah yang berbahaya.

Alih-alih mengakui bahwa bukti yang dimiliki belum cukup kuat, aparat lebih memilih mencari seseorang yang bisa dijadikan tersangka. Dalam kondisi seperti ini, risiko salah tangkap menjadi sangat besar karena penyelidikan lebih berfokus pada menemukan "siapa yang bisa dihukum" daripada memastikan "siapa yang benar-benar bersalah".

Dalam The Scarecrow, praktik tersebut digambarkan melalui nasib Im Seok-man. Ia dipaksa mengakui pembunuhan yang tidak pernah ia lakukan setelah mengalami berbagai bentuk kekerasan selama pemeriksaan. Yang membuat situasi ini semakin tragis adalah banyak pihak sebenarnya mengetahui bahwa bukti terhadap Seok-man sangat lemah. Namun demi menjaga citra keberhasilan penyelidikan, pengakuan yang diperoleh melalui penyiksaan tetap digunakan untuk membawa kasus ke pengadilan.

Hal ini memiliki kemiripan dengan kasus asli Hwaseong. Yoon Seung-yeo juga mengaku setelah mengalami tekanan dan kekerasan selama proses pemeriksaan. Bertahun-tahun kemudian, ketika teknologi DNA berkembang dan kasus tersebut ditinjau ulang, diketahui bahwa ia bukan pelaku sebenarnya. Akibat kesalahan itu, puluhan tahun hidupnya hilang di balik jeruji besi untuk kejahatan yang tidak pernah ia lakukan.

Sementara dalam drama The Scarecrow kita ditunjukkan bahwa praktik penyiksaan itu bahkan tidak terjadi secara spontan. Justru ada dorongan dari pihak yang memiliki kekuasaan dalam proses hukum, yaitu jaksa Cha Si-young. Demi mempertahankan citra keberhasilan penanganan kasus, ia memilih menutup mata terhadap lemahnya bukti dan membiarkan penyiksaan terus terjadi.

Ironisnya, orang-orang yang terlibat dalam proses hukum yang cacat tersebut justru memperoleh penghargaan dan kenaikan karier. Mereka dipandang sebagai aparat yang berhasil menyelesaikan kasus besar, sementara kesalahan dalam proses penyelidikan tidak pernah benar-benar dipertanyakan.

Namun, seperti ungkapan yang sering kita dengar bahwa kebenaran akan selalu menemukan jalannya, di sini pun demikian.

Sebagaimana digambarkan dalam drama yang menunjukkan identitas pelaku baru terungkap di tahun 2019, pelaku asli kasus Hwaseong pada akhirnya ditangkap di tahun 1994 atas kasus pemerkosaan dan pembunuhan lain yang ia lakukan.

Di sini, polisi belum mengetahui bahwa ia adalah pelaku di balik pembunuhan berantai Hwaseong. Baru setelah dipenjara selama 25 tahun, tepatnya tahun 2019 identitasnya sebagai pelaku kasus Hwaseong terungkap berkat hasil pencocokan DNA terbaru.

Interogasi ulang pun dilakukan di penjara, dan di sini ia mengakui seluruh pembunuhan yang pernah ia lakukan 30 tahun lalu, termasuk yang membuat Yoon Seung-yeo mendekam di penjara selama 20 tahun.

Melalui drama The Scarecrow, kita melihat bahwa yang paling menyedihkan dari kasus Hwaseong yang begitu terkenal di Korea bukan hanya fakta pelakunya yang tidak terungkap selama puluhan tahun, tetapi juga fakta bahwa ada banyak orang tidak bersalah yang harus membayar harga atas kegagalan sistem yang terjadi dalam prosesnya.

Ada yang kehilangan puluhan tahun hidupnya di penjara, ada yang kehilangan keluarganya, dan ada pula yang harus hidup dengan rasa bersalah selama bertahun-tahun. Dari drama ini, kita diingatkan bahwa ketika hukum gagal mencari kebenaran, kerusakan yang ditimbulkannya bisa bertahan jauh lebih lama daripada kejahatan itu sendiri.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda