Ulasan
Film Colony dan Kaitannya dengan Sains yang Hilang Nurani dan Moralitas
Nama Yeon Sang-ho sulit dilepaskan dari genre zombi modern. Sutradara asal Korea Selatan ini pernah mengguncang dunia dengan Train to Busan, film yang bukan hanya menghadirkan ketegangan, tapi juga kritik sosial yang tajam.
Setelah beberapa tahun bereksperimen dengan berbagai proyek live-action dan serial, Yeon Sang-ho kembali ke wilayah yang membesarkan namanya melalui film Colony yang sudah rilis di bioskop Indonesia sejak 3 Juni 2026.
Film produksi Showbox dan Wow Point ini menghadirkan deretan aktor papan atas Korea Selatan. Di antaranya: Jun Ji-hyun, Go Soo, Ji Chang-wook, Kim Shin-rok, Shin Hyun-been, dan Koo Kyo-hwan. Dengan durasi 122 menit-an, film Colony menggabungkan horor, aksi, thriller, dan fiksi ilmiah dalam satu paket yang bergerak cepat sejak menit pertama.
Ceritanya tentang Seo Young-cheol (Koo Kyo-hwan), ilmuwan yang merasa hasil penelitiannya dimanfaatkan pihak perusahaan tempatnya bekerja. Namun persoalan yang dihadapi Young-cheol ternyata lebih rumit ketimbang sebatas konflik profesional.
Seo Young-cheol punya obsesi besar terkait teori evolusi manusia dan kesadaran, sebuah gagasan yang diyakininya mampu membawa manusia menuju tahap perkembangan berikutnya.
Obsesi tersebut berubah menjadi bencana ketika dia melepaskan senjata biologis ciptaannya ke sebuah seminar yang dipenuhi para petinggi dan ilmuwan. Dalam waktu singkat, para korban berubah menjadi makhluk mengerikan yang kemudian menyebarkan wabah ke seluruh gedung.
Di tengah kekacauan itu, Kwon Se-jeong (Jun Ji-hyun) si profesor bioteknologi, harus bertahan hidup bersama mantan suaminya Han Gyu-seon (Go Soo), petugas keamanan Choi Hyun-seok (Ji Chang-wook), serta sejumlah penyintas lain yang terjebak di dalam bangunan tersebut.
Namun, ancaman yang mereka hadapi bukanlah zombi biasa. Makhluk-makhluk ini mampu belajar, beradaptasi, dan terhubung dalam sebuah jaringan kesadaran yang membuat mereka berkembang jauh lebih cepat dari manusia yang sedang berusaha melarikan diri.
Mampukah para penyintas lolos dari serbuan para zombi? Tontonlah di bioskop sebelum turun layar!
Saat Ilmu Pengetahuan Kehilangan Nurani

Meski Colony dipasarkan sebagai film horor-zombi, bagi saya tema paling menarik bukan soal wabahnya. Film ini kayak peringatan tentang apa yang bisa terjadi ketika ilmu pengetahuan kehilangan nurani.
Seo Young-cheol bukan antagonis yang digerakkan uang, kekuasaan, atau hasrat untuk menguasai dunia. Dia bahkan tidak terlihat bagai penjahat dalam pengertian ‘lama’ Yang membuatnya mengerikan adalah keyakinannya begitu besar pada teorinya sendiri.
Dia percaya dirinya benar. Dan seringkali, orang-orang yang merasa dirinya benar adalah sosok paling berbahaya. Sepanjang film, Young-cheol terus memandang manusia lain sebagai bagian dari eksperimen. Nyawa berubah menjadi data. Kematian berubah menjadi proses penelitian. Rasa sakit dianggap sebagai konsekuensi yang dapat diterima demi membuktikan sebuah teori.
Di titik inilah film Colony menarik. Yeon Sang-ho tidak sedang bercerita tentang ilmuwan gila yang tertawa sambil menghancurkan dunia. Dia menghadirkan karakter jauh lebih realistis dan lebih dekat dengan kenyataan.
Karakter Young-cheol adalah gambaran seseorang yang begitu jatuh cinta pada gagasannya sendiri hingga kehilangan kemampuan untuk melihat manusia sebagai manusia. Hal seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang asing dalam sejarah.
Perkembangan ilmu pengetahuan telah membawa banyak kemajuan luar biasa bagi peradaban. Berbagai penyakit berhasil diatasi. Teknologi membuat hidup manusia menjadi lebih mudah. Penelitian membuka pintu menuju masa depan yang sebelumnya mustahil dibayangkan.
Namun, sejarah juga menunjukkan kemajuan seringkali datang bersama pertanyaan moral yang rumit.
Apa yang boleh dilakukan demi sebuah penemuan? Berapa banyak risiko yang dapat diterima demi kemajuan? Apakah sebuah terobosan tetap layak disebut kemajuan jika harus dibayar dengan penderitaan manusia? Film Colony terus mendorong penonton untuk memikirkannya.
Menariknya lagi, Yeon Sang-ho tidak menggambarkan Young-cheol sebagai sosok yang sepenuhnya bodoh. Sebaliknya, Young-cheol sangat cerdas, memahami sains, dan mampu menciptakan sesuatu yang luar biasa. Masalahnya, kecerdasannya nggak berjalan beriringan dengan kebijaksanaan.
Film ini seolah-olah mengingatkan pada kita, pengetahuan tanpa empati bisa berubah menjadi senjata yang lebih berbahaya dari virus apa pun. Yup, kita hidup di zaman ketika teknologi berkembang sangat cepat. Kecerdasan buatan, rekayasa genetika, hingga berbagai bentuk eksperimen bioteknologi terus bergerak maju setiap tahun. Sebagian besar perkembangan tersebut membawa manfaat besar bagi manusia.
Namun film Colony mengajak kita mengingat satu hal penting. Kemampuan untuk menciptakan sesuatu nggak otomatis berarti kita harus melakukannya.
Melalui karakter Seo Young-cheol, film ini memperlihatkan bagaimana obsesi terhadap kemajuan dapat berubah menjadi fanatisme ketika tidak lagi diimbangi rasa tanggung jawab moral.
Karena pada masalah terbesar dalam film Colony bukanlah virus yang menyebar, atau para zombi yang terus berevolusi. Masalah sesungguhnya adalah seorang manusia yang menganggap teorinya lebih penting ketimbang nyawa orang lain.
Di balik adegan kejar-kejaran, darah, dan wabah yang menyebar ke mana-mana, Yeon Sang-ho menyelipkan kritik yang cukup tajam. Kemajuan teknologi memang penting. Penemuan ilmiah memang berharga. Namun, ketika empati ditinggalkan, ilmu pengetahuan bisa berubah dari alat yang menyelamatkan kehidupan menjadi sumber bencana yang menghancurkannya.
Film Colony mungkin bukan film zombi terbaik yang pernah dibuat Yeon Sang-ho. Namun, sebagai perenungan tentang bahaya sains yang kehilangan nurani, film ini menghadirkan peringatan relevan di tengah dunia yang terus berlomba menciptakan masa depan.
Film Colony masih tayang di bioskop. Sobat Yoursay yang mau nonton jangan kebanyakan mikir lagi, ya! Selamat menonton.