Ulasan

Nyore di Kafe Petli: Cerita Reuni dan Langit Senja yang Memilih Sembunyi

Nyore di Kafe Petli: Cerita Reuni dan Langit Senja yang Memilih Sembunyi
Kafe Petli (Dokumentasi Pribadi/ukhrowiiyh)

Sebagai warga Kediri, sebenarnya saya sedikit merasa sedih karena tak punya pantai di kota kami. Namun, sebenarnya kami tak perlu terlalu khawatir sebab jika ingin melihat sunset, kami punya spot menarik di pinggir Sungai Brantas. Kalau orang lokal bilang, itu adalah pantainya Kediri. Meskipun bukan benar-benar pantai, tapi langit senja di sana tak kalah cantik dengan yang ada di pantai.

Salah satu spot melihat cantiknya matahari terbenam di Kota Kediri adalah Kafe Petli. Sebuah kedai kopi hidden gem yang letaknya tepat di pinggir Sungai Brantas. Seperti namanya "Petli" yang dalam bahasa Jawa merupakan akronim dari "mepet kali". Meski tak seestetik kafe-kafe populer yang ada di tengah kota, kafe satu ini menawarkan sesuatu yang lebih unik: pemandangan sunset yang memanjakan mata di cuaca cerah.

Kebersamaan di Kala Senja Menyembunyikan Pesonanya

Kiri: Tangkapan Layar Senja di Kafe Petli (instagram/sedikitrandom_), Kanan: Langit Mendung di Kafe Petli (Dokumentasi Pribadi/ukhrowiiyh)
Kiri: Tangkapan Layar Senja di Kafe Petli (instagram/sedikitrandom_), Kanan: Langit Mendung di Kafe Petli (Dokumentasi Pribadi/ukhrowiiyh)

Kala itu, saya dan teman-teman baru selesai dari acara reuni akbar di sekolah kami. Bukan acara yang besar dan mewah, hanya pertemuan sederhana bersama kawan-kawan lama dari beberapa angkatan sekaligus. Namun, rasanya sudah cukup untuk membayar rindu sekaligus mengikis jarak yang sempat melebar seiring dengan lamanya kami tak saling bertemu.

Acara selesai pukul 15.00. Tetapi kami yang belum ingin berpisah memutuskan untuk melanjutkan pertemuan di kedai kopi. Kami berangkat bersama-sama dari sekolah dengan satu mobil milik salah satu teman. Awalnya, kami sempat bingung mencari kopi dengan harga yang lebih terjangkau. Yeah, in this economy, sepertinya pertimbangan seperti itu memang perlu untuk dilakukan.

Setelah beberapa saat berselancar di Google Maps, kami menemukan satu lokasi yang cukup menarik perhatian. Beberapa ulasan menampilkan foto langit senja yang tampak begitu indah di tempat tersebut. Namanya Kafe Petli, berlokasi di belakang Masjid Baiturrahmah Kediri. Kami putuskan untuk menuju ke sana, apalagi setelah melihat harga yang cocok di kantong anak muda seperti kami yang beberapa di antaranya masih berkuliah dan baru masuk dunia kerja. 

Perjalanan memakan waktu sekitar 15-20 menit dengan kondisi jalanan yang cukup ramai. Sesampainya di depan masjid, kami sempat bingung, tapi akhirnya tetap mengikuti arahan di Google Maps. Dan beberapa menit kemudian saya dan teman-teman akhirnya tiba di tempat tujuan.

Begitu tiba, kami disambut dengan embusan angin yang menerpa lembut—menyejukkan. Di sana, kami memesan menu sesuai keinginan masing-masing. Saya sendiri memutuskan untuk membeli seporsi mie kuah lengkap dengan telur ceplok seharga Rp10.000 dan es teh seharga Rp7.000. Selain itu, mereka punya banyak pilihan menu lainnya dengan harga kurang dari Rp20.000.

Setelah memesan makanan, snack, dan minuman, kami duduk di salah satu spot lesehan di sana. Dari pihak kafe, disediakan tikar dan meja untuk kami pakai bersama. Duduk bersama lagi dengan teman lama setelah beberapa tahun tak berjumpa, rasanya seperti memanggil kembali kenangan bertahun-tahun lalu.

Alih-alih membicarakan pencapaian atau hidup masing-masing, kami menunggu makanan diantarkan ke meja sembari bermain tebak kata dan sambung kata. Masing-masing dari kami harus memberikan satu kata dari KBBI yang jarang digunakan dan yang lain menebak artinya. Selain itu, juga bermain sambung kata. Di mana orang pertama memberikan dua kata, lalu orang selanjutnya harus menyambung kata terakhir orang pertama dengan satu kata lain yang masuk akal. 

Memang sederhana, tapi kebersamaan seperti ini justru lebih terasa berkesan dan bisa dinikmati setiap momennya tanpa ada perasaan insecure atau overthinking. Kami bersenang-senang bersama hingga tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat. Kami makan bersama, salat di masjid depan kafe, lalu kembali berkumpul dan bercerita tentang masa-masa sekolah yang tak mungkin terulang.

Sayangnya, sore itu langit sedang berawan. Kami tak bisa melihat senja yang kami nantikan sejak awal. Meskipun demikian, momen kebersamaan itu tetap terkenang di hati kami. Kami sadar, waktu berkumpul seperti ini jauh lebih berharga dari sekadar estetika tempat maupun pemandangan sekitar. Bahkan saking asyiknya menikmati momen yang jarang terjadi ini, kami sampai lupa mengabadikannya dalam sebuah foto. Tapi itu bukan masalah, sebab setiap kenangan yang ada tetap tersimpan di hati kami selamanya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda