Ulasan
Waktu untuk Tidak Menikah: Merawat Hak Perempuan atas Pilihannya
Di tengah banyaknya novel dan kumpulan cerpen yang menjadikan pernikahan sebagai akhir bahagia sebuah kisah, Waktu untuk Tidak Menikah karya Amanatia Junda justru hadir dengan perspektif yang berbeda.
Buku yang diterbitkan Buku Mojok pada Januari 2019 ini tidak mengajak pembaca membenci pernikahan, melainkan mengajak mempertanyakan anggapan bahwa menikah adalah satu-satunya ukuran kebahagiaan perempuan.
Kumpulan cerpen setebal 177 halaman ini memuat 14 cerita pendek yang ditulis Amanatia Junda sepanjang 2012–2017. Sebagian di antaranya pernah dimuat di media cetak maupun media daring sebelum akhirnya dihimpun menjadi sebuah buku. Dengan latar tokoh perempuan dari berbagai usia, profesi, dan pengalaman hidup, Junda menghadirkan kisah-kisah yang dekat dengan realitas sosial sekaligus sarat perenungan.
Isi Buku
Judul buku diambil dari salah satu cerpen di dalamnya. Meski demikian, tema keseluruhan buku tidak semata membahas keputusan untuk tidak menikah. Junda justru berbicara tentang pilihan hidup, luka masa lalu, relasi keluarga, persahabatan, kehilangan, hingga keberanian seorang perempuan menentukan arah hidupnya sendiri.
Cerpen berjudul "Waktu untuk Tidak Menikah" menjadi salah satu yang paling menarik. Tokoh utamanya, Nursri, telah bersiap menikah dengan Laksmo, laki-laki pilihan keluarganya. Namun menjelang hari pernikahan, berbagai peristiwa datang silih berganti. Sahabatnya mengalami kesulitan ekonomi, anak yang selama ini menjadi bagian penting dalam hidupnya jatuh sakit, sementara keraguannya terhadap calon suami semakin membesar.
Semua itu membuat Nursri mengambil keputusan yang tidak lazim dalam budaya masyarakat Indonesia: membatalkan pernikahan.
Melalui kisah tersebut, Amanatia Junda memperlihatkan bahwa pernikahan bukanlah tujuan akhir yang harus ditempuh dengan mengorbankan suara hati. Kebahagiaan, menurut cerpen ini, dapat ditemukan melalui kepedulian, keberanian mengambil keputusan, dan kesetiaan terhadap nilai-nilai yang diyakini seseorang.
Keunggulan utama buku ini terletak pada keberagaman tokohnya. Pembaca akan bertemu perempuan yang hidup sendiri setelah ditinggal suami, perempuan yang harus menanggung kehamilan akibat kekerasan seksual, ibu yang berjuang demi pendidikan anaknya, perempuan lanjut usia yang hidup di jalanan, hingga pasangan lansia yang tetap mempertahankan kesetiaan di usia senja.
Ada pula kisah tentang buruh, pedagang, aktivis sosial, hubungan ibu dan anak, serta dinamika persahabatan perempuan.
Tema-tema tersebut menunjukkan bahwa kehidupan perempuan jauh lebih kompleks daripada sekadar persoalan cinta. Junda menghadirkan perempuan sebagai manusia utuh yang memiliki kegelisahan, cita-cita, idealisme, dan hak untuk menentukan pilihan hidupnya.
Kelebihan dan Kekurangan
Sebagai seorang aktivis sosial, Amanatia Junda juga memasukkan kritik-kritik sosial ke dalam cerpennya. Isu perkosaan, korupsi, kebakaran hutan, ketimpangan ekonomi, hingga budaya patriarki hadir bukan sebagai tempelan, tetapi menjadi latar yang membentuk kehidupan para tokohnya.
Kritik itu disampaikan secara halus melalui percakapan, monolog batin, maupun konflik sehari-hari.
Gaya penulisannya sederhana dan mengalir, mengingatkan pada cerpen-cerpen yang pernah menghiasi majalah remaja, tetapi dengan tema yang jauh lebih dewasa. Amanatia tidak banyak menggunakan bahasa yang rumit.
Sebaliknya, kekuatan cerpen-cerpennya justru terletak pada kemampuan menyelami pikiran tokoh. Pembaca diajak memasuki ruang batin perempuan yang dipenuhi kenangan, penyesalan, kecemasan, dan pertanyaan-pertanyaan yang sering tidak pernah diucapkan.
Meski demikian, buku ini bukan tanpa kekurangan. Beberapa cerpen terasa memiliki pola yang mirip. Alur cenderung lambat, sementara penyelesaiannya sering dibuat terbuka sehingga meninggalkan banyak ruang tafsir.
Rekomendasi Pembaca
Bagi pembaca yang menyukai cerita dengan konflik yang tuntas, gaya seperti ini mungkin terasa menggantung. Selain itu, ada beberapa isu sosial yang muncul sekilas sehingga kesannya belum tergali secara mendalam.
Namun, justru di situlah karakter buku ini. Amanatia Junda tidak berusaha memberikan jawaban atas seluruh persoalan. Ia lebih memilih mengajak pembaca berpikir dan berdialog dengan pengalaman hidup para tokohnya. Setiap cerpen menjadi ruang refleksi tentang bagaimana perempuan menghadapi tekanan sosial, ekspektasi keluarga, dan pergulatan batin yang sering kali luput dari perhatian.
Pada akhirnya, Waktu untuk Tidak Menikah bukan sekadar kumpulan cerita tentang perempuan yang menolak menikah. Buku ini merupakan kumpulan kisah tentang keberanian memilih, menerima luka, dan mendefinisikan kebahagiaan dengan cara sendiri.
Amanatia Junda mengingatkan bahwa setiap perempuan memiliki hak untuk menentukan jalan hidupnya, apakah itu menikah, hidup sendiri, bertahan, atau memilih pergi. Dan barangkali, dalam kehidupan, memang selalu ada waktu untuk tidak menikah, sebagaimana ada waktu untuk mencintai, kehilangan, dan menemukan kembali diri sendiri.
Identitas Buku
- Judul: Waktu untuk Tidak Menikah
- Penulis: Amanatia Junda
- Penerbit: Buku Mojok
- Tahun Terbit: Januari 2019
- Tebal: 177 Halaman
- ISBN: 9786021318768
- Kategori: Antologi Cerita Pendek