Ulasan
Tak Sekadar Tempat Tinggal, Ini Arti Rumah dalam Lagu 'Yuk, Pulang' Idgitaf
Menurut Sobat Yoursay, apa sih arti rumah itu?
Mungkin jawaban dari pertanyaan itu akan bermacam-macam. Mungkin banyak orang memaknai rumah sebagai bangunan tempat tinggal. Ada juga orang yang menganggap seseorang sebagai rumah. Keduanya tidak salah, karena menurut saya kata "rumah" bisa punya makna yang begitu luas.
Nah, tapi di sini yang ingin saya bahas adalah makna rumah yang ada dalam lagu "Yuk, Pulang" karya Idgitaf. Iya, saya tahu, lagu ini memang ditulis sebagai lagu romansa. Namun, sebenarnya kalau kita ulik lagi lebih dalam, maknanya bisa lebih luas dari itu.
Oke. Kita balik lagi ke lagu "Yuk, Pulang". Seperti judulnya, Idgitaf mengawali liriknya dengan kalimat ajakan yang sama. "Yuk, pulang!" Frasa yang rasanya sangat sederhana. Tapi sebenarnya ajakan pulang di sini bukan sekadar kembali ke rumah, melainkan kembali kepada seseorang yang membuat kita merasa diterima.
"Ajakmu untuk kita pulang, sudahi jalan seharian. 'Ayo siap-siap, nanti kemalaman.'" Kalimat yang menggambarkan rutinitas sederhana dan terasa relate dengan kehidupan kita sehari-hari. Setelah hari melelahkan di luar rumah, kita mengajak seseorang yang kita cintai ataupun orang yang sedang bersama kita untuk pulang. Bukan sesuatu yang istimewa, tetapi kadang kebahagiaan memang sesederhana memiliki seseorang yang selalu mengingatkan kita, "Ayo, pulang." Kalimat ajakan yang diulang kembali di bait selanjutnya.
"Kalimat menurutmu biasa, menurutku menyebalkan. Karena sejak tadi ku sudah bersamamu."
Begitulah rasa nyaman. Ia bisa membuat seseorang tak ingin berpisah, meski sudah bersamanya seharian penuh. Sehingga ajakan untuk pulang pun menjadi sesuatu yang menyebalkan. "Aku udah di sini lho, mau pulang ke mana lagi?" Mungkin seperti itulah yang sebenarnya sedang disampaikan dalam bait ini. Rasanya menyebalkan ketika kita harus mengakhiri kebersamaan dengan seseorang yang membuat kita nyaman. Lirik ini seolah juga menunjukkan ketika seseorang sudah menjadi rumah, maka selama apapun waktu bersamanya, akan selalu terasa kurang.
"Bagiku kau rumah hatiku berada." Kalimat yang menjadi inti dari lagu ini. Di sini, Idgitaf tidak memaknai rumah sebagai tempat tinggal, melainkan seseorang. Pertanyaannya: seseorang yang seperti apa?
Seseorang yang bisa membuat kita merasa aman, diterima tanpa syarat, dan bisa menjadi diri sendiri tanpa rasa takut. Rumah bukan selalu tempat yang paling nyaman. Kadang, rumah adalah seseorang yang membuat hati kita merasa tenang. Saya rasa ini adalah definisi yang sangat indah untuk kata "rumah".
"Bagimu begitu juga kah? Apa hatiku rumahmu juga?" Setelah mengakui seseorang sebagai rumah, ada kegalauan yang mungkin juga dirasakan banyak orang dan membuat kita bertanya-tanya, "Apakah aku juga sudah menjadi rumah baginya?" Ada ketakutan terlintas jika perasaan yang kita miliki ternyata tidak terbalas. Memiliki seseorang memang terasa membahagiakan, tetapi mengetahui bahwa kita juga menjadi tempat pulangnya tentu terasa lebih membahagiakan.
"Tidak juga tak apa, tapi rumahku kamu."
Tidak ada paksaan dalam mencintai. Kasih sayang untuk seseorang tidak selalu harus disertai balasan. Seperti halnya lirik lagu ini. Meskipun sebenarnya ada harapan perasaan kita terbalas, tetapi Idgitaf tidak memaksakan balasan itu ada. Titik tertinggi dalam mencintai seseorang adalah memilih tetap mencintai, meski belum tentu dicintai dengan cara yang sama. Dan titik tertinggi kenyamanan adalah ketika kita memilih tetap menjadikan seseorang sebagai rumah, meskipun kita belum tentu dianggap rumah baginya.
"Kutahu kau tak melihatmu seperti aku. Keindahan yang mungkin akan dicuri waktu."
Emang, ya, cara kita memandang seseorang nggak selalu sama dengan cara dia melihat dirinya sendiri. Orang yang kita kagumi malah sering kali tidak menyadari betapa berharganya dia. Mungkin tanpa sadar kita pun sering memandang diri sendiri seperti itu. Lirik ini seolah mengajak kita menyadari bahwa terkadang setiap orang mempunyai nilai yang hanya bisa dilihat oleh orang lain. Karena itu, di kalimat ke dua bait ini, Idgitaf seolah menunjukkan bahwa setiap keindahan yang ada di hadapan kita hari ini bisa berubah sewaktu-waktu. Jadi penting bagi kita untuk menghargai setiap momen kebersamaan yang masih dimiliki hari ini.
"Karena bersamamu bahagiaku sederhana; amarah, sedih, murka kau peluk semuanya. Bagiku kau rumah hatiku berada."
Rumah yang sesungguhnya adalah tempat yang tetap menerima kita dalam keadaan apapun. Bukan hanya ketika sedang bahagia saja, tetapi juga saat marah, sedih, kecewa, bahkan ketika sisi terburuk diri kita muncul. Dan cinta yang dewasa bukan hanya menikmati versi terbaik seseorang, melainkan juga tetap bertahan saat kita melihat sisi paling rapuhnya. Mungkin inilah definisi mencintai seseorang lengkap dengan luka-lukanya.
"Kutahu tidak mudah menghadapi diriku, apalagi dengan sifat-sifat ajaibku. Tapi kau bisa bertahan dengan semua itu. Wajar saja kusebut kau rumah hatiku berada."
Lirik yang berisi kesadaran bahwa sebenarnya kita tidak sempurna. Ada banyak sisi diri kita yang mungkin melelahkan bagi orang lain. Namun, kita tetap berharap ada seseorang yang mau bertahan dan memilih menerima kekurangan yang kita miliki. Ketika menemukan sosok seperti itu, maka wajar jika ia kita sebut sebagai rumah. Sebab tidak semua orang mampu melakukannya. Dan kesediaan seseorang untuk tetap bertahan dengan semua sisi baik-buruk yang kita miliki sering kali menjadi bentuk cinta yang paling nyata.
Idgitaf menutup lagu "Yuk, Pulang" dengan kalimat tanya, "Bisakah serumah?" Menariknya, kata "serumah" di sini bukan tentang berbagi atap. Serumah yang dimaksud adalah berbagi kehidupan, melewati hari-hari dengan suka dan duka bersama, hingga menjalani masa depan bersama. Ada harapan besar yang seolah terselip di akhir lagu ini: "Bisakah kita jadikan rasa nyaman ini sebagai rumah kita bersama?"
Sobat Yoursay, begitulah makna rumah dalam lagu "Yuk, Pulang". Bukan hanya bangunan beratap tempat kita berlindung dari panas dan hujan, melainkan seseorang yang membuat kita merasa aman, diterima apa adanya, selalu ingin kita tuju setelah melewati hari yang panjang. Ketika kita ingin pulang, mungkin yang paling kita rindukan bukanlah tempatnya, tetapi seseorang yang membuat hati kita merasa tenang bersamanya.