Ulasan

Tafsir Album Memorandum Perunggu bagi Kesehatan Mental Pekerja Muda

Tafsir Album Memorandum Perunggu bagi Kesehatan Mental Pekerja Muda
Para personel Perunggu pada poster album Memorandum (Perunggu Official Website)

Pada jam enam sore di stasiun kereta atau di tengah kepulan asap knalpot jalanan kota, ada satu pandangan wajah-wajah muda yang redup menatap layar ponsel. Sembilan jam baru saja dihabiskan di balik bilik kantor demi mengejar target yang tiada habisnya, dan tubuh yang letih itu kini bergerak otomatis menuju kos, hanya untuk mengulang siklus serupa esok hari sembari mendambakan akhir pekan.

Dalam pusaran rutinitas urban yang serba cepat ini, generasi pekerja muda kerap mengalami dislokasi batin. Tuntutan produktivitas tanpa henti dan kecemasan akan masa depan perlahan menggerus kesehatan mental

Di tengah kegamangan itulah, album debut trio rock alternatif asal Jakarta, Perunggu, bertajuk Memorandum (2022), hadir. Memproklamirkan diri sebagai “band rock pulang kantor”, Perunggu hadir dengan merentangkan tangan untuk memeluk keletihan kita.

Jika dibedah lebih dalam, album ini memotret apa yang dirumuskan filsuf Byung-Chul Han dalam bukunya The Burnout Society (2015). Han mengemukakan bahwa masyarakat modern telah bergeser menjadi Achievement Society (masyarakat pencapaian), di mana individu tidak lagi ditindas oleh pemaksa eksternal, melainkan mengeksploitasi dirinya sendiri secara sukarela demi mengejar performa prima hingga berujung pada depresi dan kelelahan saraf. 

Lewat lima lagu esensial di album Memorandum, Perunggu mendiagnosis jebakan psikososial tersebut sekaligus menawarkan ruang katarsis yang hangat bagi kewarasan kita.

33x: Keberanian Melamban dan Rekalibrasi Arah Hidup

Tangkapan layar (thumbnail) video lirik resmi
Tangkapan layar (thumbnail) video lirik resmi "33x" dari YouTube Perunggu Official (Youtube/Perunggu Official)

Sebagai salah satu lagu paling beresonansi adalah lagu 33x yang berfungsi sebagai rem darurat di tengah arus akselerasi dunia kerja. Pekerja muda kerap dirundung rasa bersalah jika ritme kerjanya melambat dibanding rekan sebayanya. Standar linear tentang usia mapan dan pencapaian karier dipuja sebagai kebajikan mutlak.

Perunggu mendekonstruksi doktrin hustle culture tersebut lewat baris lirik yang menenangkan:

“Melamban bukanlah hal yang tabu
kadang itu yang kau butuh
bersandar hibahkan bebanmu.”

Gagasan ini sangat relevan dengan kritik sosiolog Hartmut Rosa dalam bukunya Social Acceleration: A New Theory of Modernity (2013), yang menekankan pentingnya ruang resonansi dan perlambatan tempo hidup guna melawan keterasingan manusia modern. Lebih jauh, pada bait:

“Di antara pusaran hiperfungsi,
petakan semua lagi titik tuju yang telah terpatri”

Perunggu menyentuh konsep logoterapi Viktor Frankl dalam Man’s Search for Meaning (1946). Ketika rutinitas kantor berubah menjadi fungsi mekanis yang hampa, Perunggu mengajak kita menepis distraksi luar dan mengurasi kembali nilai-nilai fundamental hidup yang sempat terlupakan.

Kalibata, 2012: Merawat Duka dan Memupuk Kemandirian

Tangkapan layar (thumbnail) video lirik resmi
Tangkapan layar (thumbnail) video lirik resmi "Kalibata, 2012" dari YouTube Perunggu Official (Youtube/Perunggu Official)

Memasuki dunia profesional sering kali membuat kita bertumpu pada sosok-sosok role model—baik orang tua, senior di tempat kerja, maupun sahabat seperjuangan yang membentuk etos dan cara pandang kita. Namun, kehilangan figur tersebut acap kali memicu guncangan eksistensial yang meruntuhkan rasa aman.

Lagu Kalibata, 2012 merekam proses berdamai dengan kehilangan tersebut, seperti dalam lirik berikut:

“Bolehkah ku gunakan nama depanmu kelak?
Pastikan ku sematkan biar menular
Hingga saat ini tiap langkahku telah jauhi beragam tepi
Terpujilah mandiri di hati.”

Keinginan menyematkan nama figur terkasih mencerminkan konsep symbolic immortality dari psikolog Robert Jay Lifton dalam publikasinya The Broken Connection (1979), di mana nilai-nilai kebaikan sosok yang telah tiada diabadikan agar terus menular melintasi waktu.

Secara filosofis, lagu ini sejalan dengan pandangan Martin Heidegger dalam Being and Time (1927) mengenai kesadaran akan kefanaan yang memandu individu menuju eksistensi otentik. Runtuhnya sandaran eksternal tidak membuat kita tenggelam dalam ratapan berkepanjangan, melainkan mentransformasi duka menjadi kematangan dan resiliensi batin.

Pastikan Riuh Akhiri Malammu: Suaka Afektif Menjelang Hari Senin

Tangkapan layar (thumbnail) video lirik resmi
Tangkapan layar (thumbnail) video lirik resmi "Pastikan Riuh Akhiri Malammu Lagi (PRAM)" dari YouTube Perunggu Official (Youtube/Perunggu Official)

Jika lagu-lagu sebelumnya berfokus pada ruang personal, lagu Pastikan Riuh Akhiri Malammu (PRAM) menggarisbawahi pentingnya solidaritas dan etika kehadiran di antara sesama manusia yang sama-sama lelah, seperti dalam sepenggal liriknya berikut:

“Besok hari Senin ku temani senyummu seperti kemarin
Silih berganti ruang kau penuhi
Ku perlu hadir di semua yang kau tangisi.”

Penyebutan “besok hari Senin” secara jitu menangkap fenomena Sunday scaries—kecemasan antisipatif yang kerap menyergap pekerja pada Minggu malam sebelum siklus kompetisi kantor dimulai kembali.

Dalam kacamata etika Emmanuel Levinas melalui karya monumentalnya Totality and Infinity (1961), tanggung jawab etis tertinggi lahir ketika kita bersedia merespons kerapuhan dan kerentanan wajah orang lain. Melalui PRAM, Perunggu menciptakan apa yang disebut psikoanalis Donald Winnicott sebagai holding environment: sebuah suaka relasional yang aman tanpa tuntutan fungsional, tempat kita diizinkan menangis dan pulih bersama kawan terdekat.

Ini Abadi: Ruang Komuter dan Arti Batas "Berkecukupan"

Tangkapan layar (thumbnail) video lirik resmi
Tangkapan layar (thumbnail) video lirik resmi "Ini Abadi" dari YouTube Perunggu Official (Youtube/Perunggu Official)

Lagu “Ini Abadi” memotret bentang material kaum komuter yang tubuhnya terbelah antara pusat perkantoran ibu kota dan hunian di daerah penyangga, sebagaimana dalam liriknya:

“Tentang mimpi berkecukupan
Tanpa harus lembur lagi
Ke Gambir lagi, Senin pagi dilanjut taksi
Tenangkanlah ini abadi.”

Sosiolog Henri Lefebvre dalam The Production of Space (1974) menjelaskan bagaimana tata ruang kapitalistik memproduksi pemisahan antara ruang kerja dan ruang hidup, yang pada akhirnya memicu alienasi ruang-waktu pada tubuh pekerja. Berdesakan di gerbong kereta subuh, mengejar taksi pagi hari, serta jam lembur yang menyita waktu pribadi adalah bentuk keletihan laten yang mengikis kesehatan mental.

Lewat lagu ini, Perunggu berani mendefinisikan ulang makna sukses. Keberhasilan hidup bukanlah akumulasi modal tanpa batas yang menuntut tubuh bekerja terus-menerus, melainkan tercapainya kondisi berkecukupan, sebuah titik aman di mana kita memiliki hak untuk beristirahat, pulang tepat waktu, dan memeluk orang-orang terkasih di rumah.

Biang Lara: Merayakan Kerapuhan dan Melepas Kendali Ego

Tangkapan layar (thumbnail) video klip vertikal resmi
Tangkapan layar (thumbnail) video klip vertikal resmi "Biang Lara" dari YouTube Perunggu Official (Youtube/Perunggu Official)

Dunia profesional modern kerap menuntut emotional labor yang berat, seperti dipaksa selalu tersenyum ramah dan menampilkan topeng kepositifan semu atau toxic positivity, meski batinnya remuk. Biang Lara hadir sebagai antitesis dari kepalsuan tersebut.

Lagu ini mengajak kita berdamai dengan rasa sakit dan melepaskan ilusi kendali. Gagasan ini berakar kuat pada dikotomi kendali dalam filsafat Stoikisme Epictetus, sekaligus berpadu dengan etika penerimaan absurditas menurut Albert Camus dalam The Myth of Sisyphus (1942).

Kecemasan pekerja muda sering kali bersumber dari delusi bahwa seluruh stabilitas perusahaan berada di pundak mereka. Melalui metafora bianglala, Perunggu mengingatkan kita untuk menikmati putaran naik-turun kehidupan dari tepi terluar, tanpa kepanikan eksistensial, serta merelakan bahwa tidak semua poros dunia harus tunduk pada kendali kita.

Catatan Pengingat untuk Tetap Menjadi Manusia

Pada akhirnya, tafsir eksistensial atas album Memorandum membuktikan bahwa musik populer memiliki daya kritis untuk membedah sekaligus memulihkan luka psikologis kelas pekerja muda. 

Melalui kelima lagunya, Perunggu merumuskan manifesto hidup urban yang sangat membumi. keberanian untuk melamban, ketulusan merawat memori, kerelaan saling menemani saat rapuh, pembatasan ambisi demi mutu hidup, serta kerendahan hati dalam melepaskan beban yang tak sanggup dipikul sendirian.

Memorandum adalah memo pengingat yang tulus bahwa di balik seragam, target kerja, dan tuntutan industri, kita berhak untuk berhenti sejenak, bernapas lega, dan merawat jiwa kita secara utuh.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda