Kawanan Burung kerap kali datang di waktu yang tak terduga. Mereka menyerbu masuk melalui tingkap-tingkap seukuran tubuh manusia yang tertanam di lantai kamar yang aku diami. Semuanya berjumlah tiga buah dan tersusun tidak simetris.
Lima tingkap lainnya menempel di dinding. Ada satu yang berukuran paling besar, tempat seekor Burung Hitam selalu datang dan mengamat-amatiku dengan sepasang mata tajam.
Sepertinya, ia berbeda dari Kawanan Burung yang kerap menyerbu masuk. Tak sekali pun ia mencoba terbang ke dalam kamar ataupun mendekati diriku. Burung Hitam besar itu hanya akan bertengger di bibir tingkap untuk beberapa lama, sebelum akhirnya mengepakkan sayap dan pergi.
Melalui salah satu tingkap yang tertanam di lantai kamar, seorang wanita setengah baya dengan rias wajah mengerikan acap kali datang menemuiku. Seperti saat ini ....
“Ini makan siangmu, Gadis liar!” dengus wanita itu tajam, seraya mendorong baki yang dibawanya ke arah tempatku meringkuk di pojok kamar. Ia lalu berjalan mengitari ruangan, menimbulkan bunyi tak-tek-tok dari sepatu berhak lancip yang dikenakannya.
“Semalam ada yang melaporkan kelakuanmu. Dia berkata kau telah mencoba mencakar dan menggigitnya. Kau mau aku menyiksamu lagi, Sialan?!”
Tiba-tiba saja ia sudah di depanku. Tangan kanannya merenggut rambut, sementara kuku-kuku tajam jemari kiri mencengkeram wajah, memaksaku menatapnya.
“Lebih baik kau ikuti aturan main yang aku berikan jika masih ingin bebas,” desisnya kasar, “atau seumur hidup kau akan terkurung di sini. Camkan itu, Brengsek!”
Blaam!
Tingkap di tengah ruangan menutup dengan suara keras. Wanita itu pergi, meninggalkan aroma memualkan dari parfum murahan yang dipakainya. Aku beringsut mendekati baki makanan, menjamah sekerat roti kering, dan memakannya cepat-cepat. Ia tidak memberiku apa pun sejak semalam.
“Sisakan sedikit untukku, Perempuan.”
Burung Hitam tahu-tahu sudah hinggap di bibir tingkap. Liur tampak menetes dari sudut paruh. Kulempar sekerat roti yang tersisa ke arahnya.
“Bersiaplah untuk nanti malam.” Ia berkata tajam, mencengkeram rotinya, dan terbang menjauh.
Kunyahanku terhenti seketika. Hawa dingin yang begitu gigil mendadak menjalari punggung.
Kawanan Burung? Tidak ...!
Aku berteriak, tetapi yang terlontar dari mulutku hanyalah gumpalan nada yang aneh.
Aku berlari ke tingkap besar. Tubuh burung tadi tinggallah berupa titik hitam di atas deburan ombak, nun jauh di bawah sana.
“Bawa aku ...!” jeritku, tetapi hanya udara asing keluar dari sela-sela bibir.
Sampai lama aku masih mematung di muka tingkap besar, berharap Burung Hitam tadi kembali. Namun, hanya aroma asin laut yang datang menyambangi. Kembali aku menangis sejadinya dengan nada hampa, tanpa seorang pun mendengar.
Menjelang senja, wanita tadi kembali datang bersama dua orang perempuan muda. Mereka segera menyeretku ke kamar mandi begitu diperintahkannya.
“Dasar, Sundal! Kalau baumu sebusuk ini, mana ada yang mau denganmu!” Alis tipis dan tinggi milik si wanita mencuat bersama belalakan matanya.
“Siram dia!”
Kedua perempuan muda mendekat. Aku berontak, menerjang mereka dengan cakaran dan gigitan.
“Dasar, Gila!”
Salah seorang berteriak ketika lengannya tergigit olehku. Kawannya mengaduh begitu cakaranku membeset wajah.
“Hentikan, Gadis jalang!”
Sanggul tinggi sang wanita bergoyang-goyang, seirama gerak tangannya yang bertubi-tubi mendarat di wajah dan tubuhku. Bagaimana aku bisa melawan, bila kedua perempuan muda tadi mengunci kaki dan tangan? Tubuhku menggelosor lemah di lantai kamar mandi.
Kubiarkan mereka melucuti pakaian dan menyemprotkan air ke sekujur tubuh. Setelah beberapa lama, kembali aku diseret ke dalam kamar. Mereka mendorongku begitu saja ke atas ranjang.
“Aku harap kau menikmati malammu nanti, Setan kecil!” Wanita itu terkekeh geli. Lengkingan tawanya memantul pada dinding kamar, menimbulkan gema mengerikan.
Kutarik selimut menutupi tubuh, berharap dapat kuredam gigil yang kembali merambat, terbayang apa yang akan kualami nanti.
Rasanya belum lama aku tertidur, ketika sinar menyilaukan dari lampu kamar menyergap kesadaran. Aku memicing, tersadar suatu beban berat menindih tubuh.
Kawanan Burung!
Nyeri merasuki tulang saat aku berusaha bangkit.
“Sstt …, diam-diamlah!” Suara parau milik seekor Burung Tua menyapu gendang telinga. Cakarnya mencengkeram kedua lenganku kuat-kuat.
Diriku tak kuasa berontak saat ia mulai menggigiti dada dengan paruh tajamnya. Selang beberapa lama berpindah menyapu leher. Dengus napas busuk bercampur alkohol mengaduk-aduk isi perutku. Aku mengatupkan mata, melepaskan jiwa dari tubuh saat ia mulai memasukiku. Aku menjerit, tetapi hanya nada kosong yang terdengar.
Entah sudah berapa lama sampai akhirnya ranjang ini berhenti berderit. Burung Tua Berperut Buncit tadi telah pergi. Namun, hanya sementara aku dapat bernapas lega. Sesudah si Burung Tua, datang sekawanan Burung Muda menyerbu melalui tingkap di pojok lantai kamar. Mereka berputar-putar mengitariku dengan tatapan mengejek, sebelum akhirnya menghinggapi tubuh.
“Kau cantik sekali.” Burung Muda Berkepala Plontos berbisik lirih. Lidahnya menyapu leher dan telinga, meninggalkan jejak basah.
Burung Muda lainnya memiliki kuku-kuku kotor dan bermutut keji. Sambil jari-jemarinya menjelajahi lekuk-liku tubuhku, ia mengulang-ulang pertanyaan yang sama.
“Kau menyukainya bukan, Pelacur?”
Sebagai jawaban, aku meludahi wajahnya.
“Brengsek!” teriaknya marah, lalu menamparku berkali-kali.
“Kawan, kita di sini untuk bersenang-senang,” Burung Muda ketiga berkata terengah. Sedari tadi ia sudah menanamkan berahinya. Keringat lengket berjatuhan saat ia bergerak tak terkendali. Rasa nyeri teramat sangat berdenyut di bawah sana.
“Menyakitinya juga merupakan kesenangan untukku,” jawab Burung Muda Berkuku Kotor Bermulut Keji.
Tak ada yang menyangkal kata-katanya. Bergantian kawanan burung itu mencengkeram, menggigit, mencekik, melampiaskan hasrat mereka. Memasukiku berkali-kali.
Ranjang besar tak pernah lagi berhenti berderit. Kawanan Burung hilir-mudik melalui tiga tingkap yang membuka-tutup, bersamaan mereka datang dan pergi. Tubuhku melemah. Langit-langit kamar seakan mendekat. Dinding-dinding mengimpit. Dunia tempatku berada lenyap. Segala yang terang benderang di kamar ini menghitam. Aku tak ada lagi di sini.
“Bangun, Perempuan ....”
Satu gelombang suara menekan gendang telinga. Bergulung-gulung suara lembut itu timbul tenggelam, seolah datang dari lorong yang jauh. Cahaya terang, tetapi tak menyilaukan, menyambutku begitu terjaga. Tubuhku terasa ringan.
Burung Hitam menarikku dengan cakarnya ke pojok kamar, tempat biasanya kulepaskan tangis setelah Kawanan Burung pergi.
“Lihatlah, sayapmu sudah tumbuh,” ucapnya sambil menyentuh punggungku, “kau telah siap untuk pergi. Inilah saatnya.”
“Aku bisa bebas?” tanyaku. Namun, segera kututupi mulut dengan kedua tangan. Aku terperangah.
Aku bisa bicara?
“Benar, Perempuan. Kau tak lagi bisu,” jawab Burung Hitam seolah membaca pikiranku. “Di luar sana adalah jalanmu menuju kebebasan. Kau sudah siap?” Dengan paruhnya ia menunjuk ke arah tingkap besar yang kini tampak bergelimang cahaya.
Aku mendekat, meraba tingkap itu untuk memastikan penglihatanku. Burung Hitam besar mengepakkan sayap, hinggap di bibir tingkap.
“Tak ada lagi luka, Perempuan. Segala perih sudah lenyap.”
Aku pun menyadari kebenaran kata-katanya.
“Aku siap pergi,” anggukku yakin. Kuusap sayap kecil bercahaya di punggung, lalu mencoba mengepakkannya. Sebentar saja aku sudah berdiri setengah merunduk di bibir tingkap.
“Aku bisa!” Aku berteriak tak percaya, senyumku mengembang. Senyum pertamaku. Burung Hitam mengangguk. Ia sudah lebih dulu terbang melewati tingkap.
“Ayo,” ajaknya.
Pandanganku menyapu kamar untuk kali terakhir dan terhenti pada sesosok tubuh yang membujur kaku di atas ranjang besar. Wajah cantiknya tampak pasi. Rambut legamnya tergerai menutupi kedua bahu.
“Aku bebas,” bisikku tersenyum, mengepakkan sayap kecilku dan terbang menuju cahaya di depan sana.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Hantu Tanpa Wajah Meregang Nyawa
-
Matcha Kemasan Infus Viral, Menarik tapi Picu Dilema Etik Keamanan Pangan
-
Choi Woo Shik dan Gong Seung Yeon Akan Bintangi Film Baru, Number One
-
Film Musuh Dalam Selimut: Kisah Perselingkuhan dari Orang Terdekat
-
Film Die My Love: Menghadirkan Drama tentang Depresi yang Brutal!