Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Potret suram (unsplash/@aanrgiri)
Oktavia Ningrum

Pagi itu, antrean di minimarket kecil dekat gang rumahku mengular seperti ular malas yang belum minum kopi. Tidak panjang-panjang amat, tapi cukup untuk membuat orang berdiri sambil menggeser berat badan dari kaki kiri ke kanan, lalu kembali lagi. Pendingin ruangan terlalu rajin bekerja, membuat udara yang tidak benar-benar dingin, hanya cukup untuk mengundang rasa tidak sabar.

Aku berdiri di belakang seorang bapak dengan helm masih menempel di kepala. Di depanku lagi, ada remaja dengan seragam sekolah yang kelihatannya telat. Tangannya gemetar memegang uang receh. Semua orang diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Antrean, seperti biasa, adalah ruang sunyi yang penuh monolog batin.

Lalu suara itu datang.

“Dek… saya duluan ya. Cuma beli satu.”

Seorang ibu muncul entah dari mana. Tas belanjanya tergantung di siku, rambutnya digulung asal. Di tangannya hanya ada satu bungkus roti tawar. Senyumnya lebar, senyum yang seolah berkata: masa iya sih ditolak?

Remaja berseragam itu menoleh ke belakang, menatapku sekilas. Matanya bertanya tanpa suara: gimana ini?

Aku belum sempat bereaksi ketika ibu itu sudah berdiri setengah badan di depan remaja tadi. Bapaknya helm menoleh, lalu kembali menatap kasir. Diam. Semua diam. Seperti biasa.

“Sebentar aja, Dek,” kata si ibu lagi, nadanya lembut tapi pasti. “Ibu mau antar anak sekolah. Udah telat ini.”

Remaja itu mengangguk pelan. Mundur setengah langkah. Antrean bergeser, bukan karena maju, tapi karena menyerah.

Aku menghela napas. Bukan karena roti tawar. Tapi karena kalimat “cuma sebentar” itu terasa seperti mantra. Sekali diucapkan, semua orang otomatis harus paham, harus maklum, harus rela.

Kasir memindai roti dengan bunyi bip pendek. Ibu itu merogoh dompet.

Dari belakang, seorang perempuan lain bersuara. Suaranya tenang, tidak tinggi, tapi cukup jelas.

“Bu, maaf… kita semua juga antre.”

Ibu itu menoleh. Senyumnya memudar sepersekian detik, lalu kembali lagi, kali ini lebih tipis.

“Iya, Mbak. Ini cuma satu kok,” katanya, seolah itu jawaban final.

Perempuan tadi tidak marah. Ia hanya mengangkat bahu kecil. “Saya juga cuma beli dua, Bu. Tapi tetap antre.”

Udara mendadak terasa lebih dingin. Bapak helm menggeser kaki. Remaja berseragam menunduk. Aku merasa jantungku berdetak sedikit lebih cepat, padahal bukan aku yang ditegur.

Ibu itu terkekeh kecil. “Aduh, Mbaknya serius amat. Ibu ini udah tua, lho.”

Kalimat itu melayang di udara. Tua. Seperti kartu sakti. Jujur aku tak paham kenapa kita harus menghormati orang lain hanya karena dia "tua".

Jika kelebihannya hanyalah umur, tapi tabiatnya tak menunjukkan kebijaksanaan, haruskah ia dihormati? Bukankah Anda sopan, kami segan? Tapi ibu ini bahkan tidak ada sopan-sopannya. 

Perempuan tadi tersenyum, kali ini tipis tapi tegas. “Justru karena kita sama-sama capek, Bu. Antre itu biar adil.”

Kasir berhenti sejenak, tangannya menggantung di udara. Seperti menunggu keputusan tak tertulis. Ibu itu mendecak pelan.

“Ya Allah, cuma roti aja diributin,” gumamnya, cukup keras untuk didengar semua orang.

Ia membayar, mengambil kembalian, lalu berjalan pergi sambil menggeleng-geleng, seolah ia korban dari dunia yang kurang empati.

Antrean bergerak lagi. Remaja berseragam maju. Bapaknya helm membuka helmnya. Sunyi kembali mengisi ruangan, tapi sunyi yang berbeda. Ada sesuatu yang tertinggal. Rasa canggung, mungkin juga lega.

Aku menoleh ke perempuan tadi. Ia berdiri santai, memegang susu kotak dan sebungkus mie instan.

“Makasih ya,” kataku pelan, entah kenapa merasa perlu.

Ia tersenyum. “Bukan apa-apa. Capek aja kalau semua alasan pribadi jadi tiket bebas aturan.”

Aku tertawa kecil. “Iya. Kayaknya kalau mau, semua orang punya alasan.”

“Betul,” katanya. “Saya juga lapar, tapi ya… nunggu.”

Kami maju selangkah. Tinggal dua orang lagi sebelum kasir.

Aku berpikir tentang ibu tadi. Mungkin ia benar-benar buru-buru. Mungkin anaknya menunggu. Mungkin hidupnya berat. Tapi bukankah hidup semua orang juga begitu? Antrean adalah satu-satunya tempat di mana semua status dilepas: tua-muda, ibu-bukan ibu, lapar-kenyang. Semua berdiri sejajar, menghadap kasir yang sama.

Di luar minimarket, ibu itu sudah tidak terlihat. Mungkin ia sudah di motor, mungkin sudah di jalan, mungkin sudah lupa. Tapi aku masih memikirkan kalimatnya.

“Cuma sebentar.”

Kalimat yang sering dipakai untuk memotong waktu orang lain.

Giliranku tiba. Kasir tersenyum lelah. Aku membayar, mengambil barang, lalu melangkah keluar. Matahari pagi menyambut dengan hangat yang biasa.

Di parkiran, aku melihat antrean kecil lain: orang-orang menunggu giliran keluar. Tidak ada yang menyerobot. Semua sabar. Aku tersenyum sendiri.

Mungkin tertib bukan soal aturan besar. Mungkin ia cuma soal keberanian kecil untuk bilang, dengan suara tenang: kita semua sedang menunggu.

Terkadang orang selalu memaksa kita mengalah. Tapi ia sendiri tak pernah belajar menunggu.