Hayuning Ratri Hapsari | Oktavia Ningrum
Ilustrasi barista (Gemini AI)
Oktavia Ningrum

Pagi itu kedai kopi masih setengah mengantuk. Mesin espresso mendesis pelan seperti orang tua yang mengeluh bangun terlalu pagi. Bau kopi baru digiling bercampur aroma lantai yang baru dipel. Bersih, hangat, dan menenangkan.

Aku berdiri di balik bar, celemek hitam sudah ternoda sisa susu semalam, tapi hatiku masih cukup utuh untuk berharap hari ini akan normal. Tidak ada drama. Tidak ada kejutan biologis.

Harapan, seperti biasa, terlalu tinggi.

Sekitar pukul sembilan lewat, saat antrean mulai rapi dan playlist jazz indie sudah masuk lagu ketiga, seorang pelanggan datang membawa tumbler besar. Merek mahal, warna matte, tampak estetik dari luar. Corkcicle. Aku ingat betul. Jenis tumbler yang biasanya dipamerkan di Instagram dengan caption “eco-friendly lifestyle”.

Dia meletakkannya di meja kasir dengan bunyi duk kecil.

“Mau latte ya, Mas. Pakai ini aja,” katanya santai, menunjuk tumbler.

Aku tersenyum refleks, senyum kerja yang dilatih sejak hari pertama jadi barista. “Siap, Kak. Boleh saya buka dulu?”

Dia mengangguk.

Aku buka tutupnya.

Dan dunia berhenti sepersekian detik.

Bau itu naik lebih dulu sebelum mataku sempat mencerna. Asam, busuk, dan menusuk. Bau susu yang mati perlahan tanpa doa. Aku refleks menahan napas. Di dasar tumbler, cairan keruh berwarna abu-abu pucat berdiam seperti genangan dosa lama. Dan di sana... bergerak pelan, hampir malu-malu, belatung. Hidup. Nyata. Berhak atas KTP, kalau mau.

Aku menutup lagi tumbler itu perlahan, seolah takut isinya tersinggung.

“Mas?” katanya, masih santai. “Kenapa?”

Aku menarik napas. Mengingat semua SOP. Semua pelatihan. Semua kata “tenang” yang pernah kugenggam.

“Maaf ya, Kak,” kataku pelan, menjaga nada tetap manusia. “Di dalamnya… masih ada sisa minuman lama, dan ada belatung. Saya nggak bisa kontak fisik, dan kami juga nggak punya alat buat bersihin tumbler seperti ini.”

Dia melongok, lalu tertawa kecil. Tertawa ringan. Seolah aku baru bilang ada semut, bukan kehidupan baru.

“Oh, yaudah dicuciin dulu, Mas,” katanya. Enteng. Sangat enteng.

Di belakangnya, aku sadar ada dua pelanggan lain. Seorang ibu dan seorang mahasiswa. Mereka saling melirik. Sunyi kecil menggantung di udara.

Aku menelan ludah. “Maaf banget, Kak. Itu melanggar food safety guidelines. Takutnya ada kontaminasi ke area minum dan pelanggan lain. Kalau mau, kami bisa siapin minumannya pakai cup dari kami.”

Wajahnya berubah. Tidak marah. Tidak juga paham. Lebih ke… malu yang datang terlambat.

“Oh,” katanya singkat. Dia mengambil tumblernya kembali, cepat, seperti benda itu tiba-tiba punya penyakit menular sosial. Tanpa kata lain, dia pergi.

Begitu pintu tertutup, aku baru sadar tanganku gemetar.

Aku membalik badan ke arah sink, pura-pura sibuk. Padahal dadaku sesak. Bukan karena bau tadi, meski itu juga. Tapi karena rasa pedih yang datang belakangan. Rasanya seperti ditampar pelan tapi berkali-kali: kok cari duit gini amat, ya?

Temanku, sesama barista, mendekat. “Lu gapapa?”

Aku mengangguk, meski mataku panas. “Gapapa. Aman.”

Padahal tidak sepenuhnya aman. Bukan soal fisik. Tapi soal dihargai atau tidak sebagai manusia yang bekerja di ruang yang katanya “bersih” dan “ramah”.

Aku membayangkan seandainya aku menuruti permintaannya. Seandainya tumbler itu masuk ke sink. Air nyiprat. Telur belatung entah ke mana. Bakteri menempel di spons. Lalu ke gelas lain. Ke susu. Ke tangan. Ke minuman orang lain yang datang cuma ingin pagi yang tenang.

Orang sering lupa: barista bukan tempat cuci dosa.

Kami bukan petugas sanitasi pribadi. Kami bukan perpanjangan tangan dari gaya hidup lalai yang dibungkus jargon ramah lingkungan.

Pakai tumbler itu baik. Peduli lingkungan itu penting. Tapi kebersihan bukan bonus opsional. Itu syarat minimum untuk hidup berdampingan.

Aku menatap papan kecil di dekat kasir. Siang itu juga, aku menulis dengan spidol hitam:

Please bring a clean tumbler to avoid cross-contamination.

Tulisan sederhana. Tidak menghakimi. Tidak marah. Tapi tegas.

Sore harinya, ada pelanggan membaca tulisan itu, lalu tertawa kecil. “Wah, kejadian ya?”

Aku ikut tersenyum. “Iya, Kak. Pernah.”

Dia mengangguk, mengangkat tumblernya yang bersih. “Pantes. Emang harus gitu.”

Dan di situ, rasanya dadaku agak longgar.

Karena kadang, bertahan sebagai manusia di balik meja kopi bukan soal senyum terus-menerus. Tapi soal berani bilang: cukup. Ada batas. Ada standar. Ada martabat.

Dan hari itu, meski sempat hampir nangis di depan sink, aku pulang dengan satu keyakinan kecil: menolak itu bukan jahat. Menolak itu kadang justru bentuk paling waras dari saling menjaga.